Istidraj

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 24 Juli 2016
Istidraj

Ferdo dan saya—suatu kali pernah terlibat suatu percakapan serius, padahal sebelumnya kami jarang berbicara kecuali sekedar menyapa. Ia memanggil saya ke sebuah kursi tua di depan kampus.

“Duduklah,” kata Ferdo, tangannya menepuk kursi.

“Ada apa?” tanya saya.

Lelaki dengan gaya rambut sisir samping tersebut menunjuk ke arah parkiran, ada sekelompok anak-anak orang kaya yang kami ketahui mendapatkan nilai rendah tiap semesternya.

“Apa yang kau tunjuk?” Saya bingung, hanya memandangi ujung jarinya yang gelap, kuku-kukunya seperti bersinar—tertimpa matahari senja.

“Itu ... ketidakadilan hidup, nilai mereka rendah, suka main perempuan, tapi enak sekali hidupnya!”

Saya termenung memikirkan kata-kata Ferdo.

***

Akhir-akhir ini kalimat teman lama yang sudah tak pernah saya temui lagi itu—tanpa sengaja terlintas kembali di kepala, maka saya memutuskan setelah salat jumat nanti, tidak akan langsung pulang seperti biasa. Saya menunggu Ustaz Bruce (nama samaran) yang rasanya bisa memberikan pencerahan pada otak awam ini.

Setelah semua jemaah pulang, benar saja—ustaz tersebut masih duduk di tempatnya, saya memberanikan diri mendekatinya.

Assalamu’alaikum, Pak,” kata saya, pelan. Lelaki tua itu menoleh, wajahnya bersih, tanpa kumis, berjenggot rapi.

“Ada apa, Nak?” tanya sang ustaz.

Saya duduk di sampingnya. “Nama saya Dicky. Boleh konsultasi sedikit, Pak?”

“Oh ... silakan ... silakan,” katanya ramah, ia mengubah arah duduknya menghadap saya.

Saya pun duduk bersila. “Begini, Pak, saya ingin tahu, mengapa ada orang yang suka berbuat maksiat, tapi hidupnya terlihat sangat mudah dan senang?”

Ia mengelus jenggotnya sambil tersenyum. “Coba kamu pulang, kemudian buka Alquran, cari surah Al-An’am, ayat 44. Kalau nanti belum mengerti, silakan datang lagi.”

“Oh ... begitu, baiklah, saya mengerti.” Setelah menyalaminya—saya segera beranjak, namun ketika akan keluar dari pintu masjid—Ustaz Bruce memanggil saya.

“Nak! Nak! Tunggu sebentar!”

Saya membalik badan. “Ada apa, Pak?”

“Itu rambutmu rapi sekali, pakai apa?” tanya pria yang sepertinya berumur 50 tahun itu.

“Pakai pomade,” jawab saya, bingung.

“Komet? Dari luar angkasa?” tanya-nya lagi, sepertinya suara saya kurang jelas.

“P-O-M-A-D-E, Pak ... pomade, minyak rambut padat.”

“Ooooo, baiklah. Hati-hati di jalan ya!” seru Ustaz Bruce.

Saya pun pulang.

***

Di internet, saya menemukan terjemahan dari surah dan ayat yang dimaksud oleh Ustaz Bruce, yaitu: “Tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, maka kami bukakan untuk mereka pintu-pintu (kenikmatan) segala sesuatu, sampai ketika mereka merasa gembira dengan apa yang diberikan, (saat itu pula) kami azab mereka secara tiba-tiba, sehingga jadilah mereka orang-orang yang kebingungan.”

Secara keseluruhan, artikel yang saya baca sehubungan dengan ayat di atas adalah pembahasan istidraj—yaitu hal atau keadaan luar biasa yang diberikan oleh Allah Swt kepada orang kafir sebagai ujian sehingga mereka takabur dan lupa diri kepada Tuhan, seperti Firaun dan Karun.

Sementara definisi lain menjelaskan bahwa istidraj adalah orang yang semakin bertambah kemaksiatan atau kekufurannya tapi ia semakin mendapatkan tambahan kenikmatan dunia. Hal itu membuatnya semakin jauh dari Allah, tidak bertobat dari dosanya justru menambah dosa.

Ketika membaca baik-baik beberapa sumber, saya mendapat pencerahan—mengapa ada koruptor atau orang yang berlaku tidak baik dalam masyarakat, namun hidupnya berlimpah harta, semakin banyak pula.

Dari cerita mulut ke mulut, pernah dikisahkan seorang kaya raya (oknum politikus) yang mempunyai banyak uang, tapi ketika ia sampai di ujung masa—mendapatkan siksa luar biasa, sebut saja kematian yang sulit baginya, mendadak bangkrut dan lain-lain. Maka benar adanya “benang merah” antara ayat yang disebutkan oleh Ustaz Bruce dengan kenyataan.

Tuhan memang adil, keraguan saya pun hilang seketika. 

--- 

Pontianak, 24 Juli 2016

Dicky Armando 

Sumber bacaan: 

  • KBBI Online
  • “Kerap Kali Orang yang Ditimpa Istidraj dengan Nikmat Allah Atasnya dalam Keadaan Ia Tidak Mengetahui”. Salafy. n. p, 2016. Web. 24 July 2016. http://www.salafy.or.id

 Sumber foto: http://www.twitter.com