Hakikat Keberanian

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 21 Juli 2016
Hakikat Keberanian

Apa yang ada di benak anda jika mendengar kata “berani”? Jago berkelahi? Lihai berkelit? Saya pribadi—dulu—menganggap keberanian itu sebatas jago dalam benturan fisik, pemahaman itu bermula saat belajar bela diri pertama kali saat kelas enam sekolah dasar.

Masuk ke dunia perkuliahan, definisi yang saya pahami berubah menjadi “berani bicara”, “berani berekspresi”, dan “berani berbuat”. Setidaknya hal-hal tersebut masih tertanam dalam otak idealis saya kala itu.

Dunia kerja memberikan nuansa berbeda tentang keberanian, yang mana “jago berkelahi”, “berani bicara”, “berani bereskpresi”, dan sejenisnya bisa dibungkam dengan yang namanya “gaji” dan “pecat”.

Di dunia kerja inilah—mencerminkan miniatur kehidupan sebenarnya, mendekati kalau saya bilang. Mulai dari “tipu-tipu” sampai “jilat-jilat”. Pada fase ini, definisi atas kata “keberanian” berubah, yaitu keberanian adalah tindakan melepas dari dari kezaliman.

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, keberanian mempunyai arti: keadaan berani, kegagahan. Pada akhirnya pengertian setiap orang tentang kata tersebut berbeda-beda tergantung situasi.

Ustaz Adurrahman Lombok mengatakan, “Keberanian sejati adalah sikap bersedia dikoreksi bila salah dan siap menerima kebenaran meskipun dari orang yang memiliki kedudukan lebih rendah.”

Mengacu dari perkataan di atas, faktanya dalam dunia sosial—orang yang memiliki kedudukan tinggi seringkali merasa dirinya superior mutlak kepada siapa pun, tidak menerima ide-ide dari orang lain kecuali yang memiliki posisi lebih tinggi darinya. Jujur, saya pun merasa malu dengan kalimat mutiara tersebut, karena pernah juga suatu kali orang lain terzalimi oleh kata-kata saya, semoga Tuhan mengampuni saya.

Beberapa kawan pernah bercerita, tentang perlakuan atasan mereka di dunia kerja, atau pun tokoh besar di tempat tinggalnya yang berkali-kali merendahkan sesama manusia, tanpa alasan.

Oknum-oknum yang senang melecehkan martabat manusia lain ini, boleh saja kita sebut pengecut. Mengapa? Karena mereka memperlakukan orang—dengan “baju”, bukan dengan hati. Seringkali para pembesar melabelkan status tertentu kepada khalayak ramai yang “beda kasta” dengannya.

Contoh lain, teman saya—Eko (nama samaran)—mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan oleh oknum dokter di sebuah fasilitas kesehatan milik pemerintah. Ketika itu, ia ingin membuat Surat Keterangan Dokter untuk melengkapi administrasi di kantornya, sayangnya si Eko ini mengalami tekanan darah tinggi, sehingga dokter tersebut belum bersedia memberikan surat yang diminta.

“Silakan duduk dulu, Mas. Ini tekanan darahnya tinggi, mungkin karena baru datang ke sini, jadi masih tegang karena perjalanan,” kata si dokter.

Eko duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih, tak jauh dari meja kerja dokter. Saat seorang dokter lain dan beberapa pasien masuk ke ruangan tersebut, si oknum dokter tersebut mulai berulah.

“ORANG INI TEKANAN DARAHNYA TINGGI, TAPI MAU BUAT SURAT KETERANGAN DOKTER, MANA BISA KITA KASI!” seru oknum dokter kepada rekan sekerjanya dan beberapa pasien lain dengan suara keras.

Tapi memang, kali ini si dokter salah pilih lawan. Eko, teman saya tersebut bukan tipe orang yang mau ditindas dengan perlakuan semacam itu.

Eko berdiri menghampiri meja kerja si dokter. “Saya tidak tahu kalau saya sedang sakit, dan Anda tidak punya alasan untuk memperlakukan saya seperti anak kecil. Lagi pula, bukankah seorang dokter tidak dibenarkan untuk mengumbar penyakit pasiennya ke ranah publik?”

“Tapi—” Si Dokter terbata-bata.

“Semoga Anda sukses dalam karir, dan semoga pasien Anda bisa sopan seperti saya lain kali, terima kasih,” jelas Eko dengan nada suara yang sopan namun tegas.

Saya tercengang mendengar cerita Eko saat itu, yang membuat akhirnya berpendapat bahwa keberanian sebenarnya merupakan sikap membebaskan diri sendiri dan orang lain dari ruang lingkup kezaliman.

Kondisi idealnya adalah para petinggi seharusnya memiliki hati nurani dan kecerdasan, namun faktanya selalu berbeda, entah kenapa.

---

Pontianak, 21 Juli 2016 

Dicky Armando 

Sumber bacaan: 

  • KBBI Online 
  • "Keberanian Sejati". Salafy. n.p, 2016. Web. 21 July 2016. http://www.salafy.or.id 

  • view 258