Natasha

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Juli 2016
Natasha

Ini kejadian di suatu tempat, sebut saja: negara lain. Seorang anak yang baru lulus Sekolah Dasar, punya malu karena pihak tertentu berencana “menyuap” pihak sekolah yang dianggap favorit, agar dirinya “lolos”.

Saat itu—Natasha—sejak pagi terlihat gelisah, ia berbaring di sebuah kamar, dekat meja ruang kerja saya, rambutnya yang panjang sampai punggung tergerai menutupi bantal. Saya melihat dari jauh, mengerjakan beberapa dokumen. Sesekali gadis kecil itu memandangi telepon genggamnya, lama sekali, kemudian mengetik tombol-tombolnya. Entah ... beberapa hari ini wajah Natasha lebih sering cemberut.

Saya memang hanya orang yang menumpang di rumah tersebut, tapi tetap saja—saya merasa khawatir dengan keadaan Natasha, kami sudah lama saling mengenal—sejak bocah itu keluar dari perut ibunya.

Pintu kamar saya buka sedikit. Shasa memandangi saya dengan tatapan kosong.

“Sha ... kenapa? Dari kemarin ‘galau’ terus?”

“Tidak ....” jawab Natasha singkat, lalu membalikkan badannya ke arah tembok. Saya tak bisa lagi melihat ekspresinya. Merasa percakapan ini gagal, saya tak memaksakan untuk terus bertanya, mungkin ia perlu waktu untuk sendirian.

***

Sore hari, pulang kerja, saya menemukan Natasha sedang asyik menyarungkan sampul berwarna coklat dengan motif ukiran batik di depannya—ke buku tulis yang ia beli kemarin untuk tahun ajaran baru nanti, tapi wajahnya tetap cemberut, suara ingus naik turun terdengar jelas di telinga saya.

“Kenapa lagi, Sha?”

Ia mulai menangis kencang. Hidungnya me-merah.

“Aku tak mau masuk SMP ‘XXX’ Ooommm,” kata Natasha, lirih, air matanya berjatuhan.

“Memangnya kenapa? Sekolah itu bagus, Om dulu juga di sekolah favorit tersebut. Apa yang salah?” Saya duduk di lantai, berhadapan dengan Natasha.

Gadis kecil berambut panjang tersebut membersihkan titik-titik air di matanya. “Tapi aku tak mau masuk sekolah itu dengan cara ‘dibantu’ Om! Dan meskipun tak ‘dibantu’, aku tak mau bersekolah di situ!”

“Apa? ‘Dibantu’? Ide siapa?” Saya menatap mata Natasha, tapi ia berusaha menunduk.

Beberapa detik kemudian, azan magrib berkumandang. Percakapan ini menggantung.

***

Di dalam kamar, saya teringat semasa masih sekolah dulu, bahwa tempat-tempat itu bukanlah pilihan saya sendiri, tapi merupakan obsesi orang lain, untungnya Tuhan memang baik, Dia memberikan kemampuan agar saya mampu melewati setiap jenjang pendidikan yang sebenarnya bukanlah minat dan bakat pribadi, melainkan hasil pilihan orang lain (yang dianggap bagus oleh mereka).

Hal ini beresiko, mengapa? Karena menjadikan seorang anak menjadi “penentang”. Contohnya? Saya sendiri.

Karena sejak kecil tidak diajarkan untuk berdiskusi/bermusyawarah, dan wajib taat kepada perintah, sehingga membuat saya “belajar” mencari celah dari suatu sistem rantai perintah itu sendiri, kemudian melakukan perlawanan, atau menentang suatu arahan yang diyakini menyimpang. Saya tidak bilang ini hal yang membanggakan, tapi hanya berharap agar Natasha tidak mengalami apa yang saya derita, itu saja, sederhana. 

--- 

Pontianak, 14 Juli 2016

Dicky Armando 

Sumber foto: plus.google.com