Polar Bear

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Juli 2016
Polar Bear

Dari jendela lantai dua kantor, saya melihat anak-anak yang sepertinya masih SMA, berjalan ramai-ramai. Sepertinya mereka sedang bersama senior-seniornya, ada yang pria dan wanita. Ingatan saya kembali saat masih orientasi sekolah dulu.

Waktu itu, saya dan teman sekelas dilarang menertawai senior—apapun keadaannya. Suatu kali, seorang senior—Danu (nama samaran) namanya—makan di depan kelas, ia menghabiskan beberapa bungkus makanan ringan.

Woi, jangan makan terus!” seru Riko (nama samaran), kepala senior yang bertanggung jawab atas kelas kami. Diteriaki, Danu tidak berhenti, bahkan semakin banyak makanan yang ditelannya. Saya pikir perutnya berupa dimensi lain, seperti kantung Doraemon. Oke, jangan ditanya, saya memang penggemar robot kucing berwarna biru itu.

Gerah dengan sikap Danu, Riko menghampiri siswa di bagian tengah barisan meja, semua diam.

Hei kamu!” Riko menunjuk ke arah saya.

Saya bengong, alih-alih menjawab senior berkulit hitam tersebut, saya memandang ke belakang.

Riko berteriak lagi, “IYA KAMU, JANGAN PURA-PURA BEGO!”

“Siap, Bang!” Tubuh saya gemetaran.

“Menurutmu tingkah Danu itu mencerminkan binatang apa?” tanya Riko.

Saya terdiam, tidak tahu harus berkata apa, menoleh ke kanan dan kiri meminta bantuan teman, tapi ternyata teman-teman sedang berusaha pura-pura jadi mayat.

HEH! JAWAB!” teriak Riko karena saya tak menjawab.

“Be ... beruang madu, Bang!” jawab saya agak keras. Satu kelas menahan tawa kecuali beberapa senior yang berjaga di depan pintu.

Mendengar perkataan saya, Danu bangkit dari tempat duduk, menghentikan ritual makan-nya. Ia bergerak menuju saya dan Riko. Suara langkahnya mirip gajah kebelet kencing.

“Ulangi kata-katamu tadi!” perintah Danu. Saya diam. “AYO ULANGI!”

“Beruang madu, Bang! Beruang maduuuuu!” kata saya, panik.

Lelaki bertubuh besar itu menarik kerah baju saya. “Apa kau bilang? Kurang ajar! Berani-beraninya kau mengataiku ‘beruang madu’! Ini penghinaan!”

“Me ... memangnya biasa dipanggil apa, Bang?”

“BERUANG KUTUB!”

Tawa yang sudah ditahan dari tadi, akhirnya pecah semua. Waktu itu kelas saya mendapat hukuman memunguti sampah di sepanjang koridor. Apes! 

--- 

Pontianak, 13 Juli 2016

Dicky Armando 

Sumber foto: www.polarbearsinternational.org 

  • view 114