Justice: Dragon Hunt

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juli 2016
Justice: Dragon Hunt

Episode 1, klik di Justice

Episode 2, klik di Justice: The Resurrection

---

Ada yang beda dari penampilan Sersan Bruce Wine hari ini, ia memakai seragam resmi pasukan keamanan Epson City. Pakaian tersebut berwarna hitam mulai dari baju sampai celana, di bahu kanan dan kiri terjahit lambang seperti petir kecil sebanyak dua buah yang menandakan dirinya seorang sersan, sementara di bagian dada kiri tampak logo khusus pasukan keamanan Epson City berupa pedang.

Semua mata tertuju lelaki berambut klimis itu. Selama ini Sersan Bruce tak pernah menggunakan seragam lengkap, terakhir kali saat dia masih berpangkat kopral—bertugas di perbatasan Epson City. Namun sejak ia menjadi detektif lapangan, tak pernah lagi menggunakan seragam kebanggaan semua pasukan keamanan kota di seantero negara Kwaad. Pria berumur 35 tahun tersebut sebisa mungkin menghindari hal-hal formal yang terjadi di kantornya.

“Selamat pagi Sersan! Anda tampan sekali!” seru Wina Tupolis—seorang kopral wanita—dari ujung ruangan.

Mata Sersan Bruce melirik sedikit, menahan senyum, dan membalas kata-kata Wina dengan anggukan kecil.

Cieeeeeee! Suittt suiittt!” Seluruh ruangan riuh gemuruh menggoda Sersan Bruce.

Letnan Kevin Leicht—atasan langsung dari Sersan Bruce mengintip dari ruangannya, ia melihat kejadian yang menyegarkan otak, puas tertawa. Kemudian pria yang menjadi orang nomor dua di kesatuan pasukan keamanan Epson City mulai kasihan anak buahnya jadi bulan-bulanan karyawan lain di kantor itu—meskipun ia masih ingin tertawa.

“HEI ... DIAM SEMUA!” seru Letnan Kevin. Ia keluar dari ruangan-nya, “Bruce, masuk ke dalam ruangan.” 

“Siap Pak!” kata semua orang bersamaan.

Seluruh ruangan hening, tapi Sersan Bruce masih melihat beberapa petugas menahan senyum.

“Apakah aku terlihat aneh menggunakan seragam ini?” kata Sersan Bruce dalam hati, kakinya melangkah masuk ke ruangan Letnan Kevin.

“Letnan?”

“Duduklah, Bruce!” balas Letnan Kevin yang sedang menulis sesuatu di meja-nya.

Sersan Bruce duduk di sebuah kursi berbahan dasar logam dengan busa berwarna hitam—tepat di depan meja kayu mewah—fasilitas kantor untuk seseorang berpangkat letnan di Epson City.

“Jadi ada apa ini, Pak?”

Atasannya tersebut berhenti menulis. “Begini, kita akan mengerahkan seribu personil ke tepian Epson City, dan karena kita banyak kekurangan, kau juga harus ikut. Semua detektif lapangan lain juga sudah ‘kutarik’ khusus hari ini.”

“Detektif lain sudah diberitahu?” tanya Sersan Bruce, serius.

“Sudah ... kau yang terakhir. Aku tahu kau pasti akan menolak.” Letnan Kevin menyilangkan kedua tangannya di dada, kemudian menyandarkan punggungnya di “tubuh” kursi.

Wajah Sersan Bruce datar, berkali-kali ia memandangi jam tangan—mengingat janji yang telah dibuatnya dengan beberapa informan. “Apakah ini perintah walikota? Tepian kota mana yang anda maksud?”

“Yang dianggap walikota sebagai daerah kumuh.”

Engaged Street?”

“Ya.” Letnan Kevin melirik sedikit ke arah Sersan Bruce, lalu melanjutkan lagi menulis.

Tangan kanan Sersan Bruce meraba-raba jenggot tipis di dagunya. “Ini tidak benar, mereka punya surat kepemilikan sah atas bangunan di sana, aku punya datanya.”

Letnan Kevin menjawab pertanyaan anak buahnya itu sambil tetap menulis, “Ini perintah, Bruce! Kau bekerja untuk pemerintah, patuhilah, sekali ini saja. Kau tahu posisiku sulit.”

“Baiklah,”—Sersan Bruce berdiri dari tempat duduk—“semoga kau masih ada hati nurani letnan!”

Lelaki berpangkat letnan tersebut memandangi kepergian Sersan Bruce dari tempat duduknya, ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian memandangi kertas yang dari tadi ditulisnya, isinya hanya coretan.

***

Bruce Wine berada dalam sebuah barisan panjang di Engaged Street, nyaris semua pasukan keamanan kota dikerahkan di tempat ini. Di seberang barisan, berjejer masyarakat sipil tanpa senjata, berusaha menghalangi laju pasukan.

Anak-anak kecil dan wanita menangis, suara mereka terdengar seperti pekikan burung gagak senja.

Bangunan di Engaged Street sebenarnya tidaklah kumuh, hanya bangunan lama yang menandakan sejarah berdirinya Epson City di masa awal. Mayoritas penduduknya memang berpenghasilan rendah, sehingga tak cukup mampu untuk memperbaiki rumah-rumah mereka.

Di belakang barisan pasukan keamanan, terdapat puluhan alat berat penghancur bangunan. Bola-bola besi besar tampak seperti benda dari neraka, bercahaya kuning—memantulkan panas matahari.

Letnan Kevin berada paling depan, siap memberi aba-aba, “Siaaapp! Majuuuuu!”

Barisan pasukan keamanan kota perlahan tapi pasti mulai memasuki “wilayah kumuh” itu. Para penduduk pria Engaged Street melempari pasukan dengan peralatan seadanya—seperti kayu, batu, kursi plastik, dan lain-lain. Tapi percuma! Pasukan punya peralatan lengkap, siap perang. Perisai ber-bahan logam ringan, dan senjata api, bukan lawan bagi masyarakat sipil. Tirani!

Di depan barisan—memang ditempatkan personil-personil yang bengis dan tak punya rasa kemanusiaan, mereka hanya peduli dengan isi kantong dan perut sendiri. Sersan Bruce dengan mata kepalanya melihat—penduduk yang berusaha melawan dibantai seperti binatang, dipukuli habis-habisan.

“Bruce,”—Sersan Mark London menepuk bahu Sersan Bruce—“jangan bertindak gegabah!”

Sersan Bruce mengangguk pelan. Sersan Mark London adalah sahabat Bruce Wine saat masih pendidikan di akademi pasukan. Tubuhnya besar berotot, seperti Hulk.

Sementara itu mesin penghancur bangunan mulai beraksi, meruntuhkan bangunan di kanan dan kiri jalan, di lini depan, “pasukan khusus” tetap melancarkan kekerasan kepada masyarakat sipil. Sersan Bruce tidak tahan, ia berlari keluar barisan.

“Bruce! Jangan!” seru Sersan Mark, berusaha menarik temannya itu, tapi sudah terlambat. Akhirnya ia mengikuti sersan yang punya nilai tertinggi dalam hal bela diri di kota tersebut.

Sersan Bruce mengamankan anak-anak kecil dan para wanita dalam satu tempat, dibantu oleh Sersan Mark. Ia paham betul, jika menghentikan kekerasan di lini depan, maka pasukan akan terlihat “pecah” di hadapan masyarakat, maka Sersan Bruce mengambil inisiatif lain.

Sersan Bruce dan Mark, menggiring kelompok tadi ke luar batas konflik, dan menyuruh para ibu menutup mata anak-anaknya, agar tak melihat kekerasan yang terjadi pada ayah-ayah yang tak berdosa itu.

Mereka melintasi debu, kekerasan, darah, dan air mata. Suara tangis benar-benar melukai hati Sersan Bruce, ia tak menyangka harus mengambil bagian dalam kasus ini, setelah sekian lama hanya menangani kasus penjahat kambuhan.

Kurang dari satu jam, semua hancur, rata. Kehidupan masyarakat Engaged Street sirna. Semua warga berlutut di depan puing-puing rumah mereka sendiri.

***

Para wartawan sibuk mempersiapkan kamera dan peralatan lain di depan balai kota. Antony Hooker—atau biasa disingkat dengan A. Hooker oleh para jurnalis—akan memberikan pidato tentang kebijakan “pemusnahan” Engaged Street kemarin.

Tak lama, dari pintu utama balai kota—muncul-lah orang yang ditunggu, ia langsung menaiki podium.

“Selamat pagi,”—A. Hooker memperbaiki letak kacamata bulat di matanya—“terima kasih sudah datang. Saya tak akan berpanjang lebar menjelaskan kejadian kemarin, langsung saja, apa yang ingin kalian tanyakan?”

Semua wartawan riuh, mengangkat tangan.

Billy West—seorang wartawan senior, angkat bicara, “Di mana orang-orang itu akan tinggal setelah Anda menghancurkan tempat tinggal mereka?”

Sang walikota menatap Billy West tajam dengan matanya yang kecil itu. “Menghancurkan bukan kata yang tepat, tetapi ‘merapikan’, Anda paham? Semua demi kebaikan kota ini.”

“Apakah Anda sudah bermusyawarah dengan masyarakat sebelumnya?” tanya Billy West lagi.

Tuan A. Hooker yang terhormat meletakkan kedua tangannya di meja podium. “Pernah, tapi belum menemukan kecocokan, berlarut-larut, saya harus bertindak cepat!”

“Dengan siapa Anda berkonsultasi mengenai tata kota?” tanya seorang wartawan di barisan depan.

“Dengan tim yang sudah saya siapkan.” Pria berkulit putih pucat tersebut memandangi seluruh hadirin di depan-nya.

“Apakah di antara mereka ada seorang yang benar-benar ahli mengenai tata kota dan hukum?” tanya wartawan di bagian paling belakang.

“Bukan urusan anda! Baik sudah cukup, saya sibuk!” A. Hooker segera membalik badan, memasuki pintu balai kota, dikawal sepuluh orang personil pasukan keamanan.

Dari kejauhan, Sersan Bruce Wine mengintai pidato singkat dari walikota, ia merasa ada yang tak beres.

***

“Ini data yang kau butuhkan, lengkap, nama penghubung itu Jackie,” kata Jet Loo, seorang ahli teknologi informasi yang sudah lama bekerja untuk Sersan Bruce. Ia sudah meretas informasi dari surat-surat elektronik pribadi milik A. Hooker dan tim-nya.

Diketahui si walikota memiliki kepentingan untuk menyediakan proyek besar bagi investor asing dari negara jauh di sebelah timur: Dragon Nation.

Sebelumnya A. Hooker sudah mendapat banyak bantuan dari “penjajah” asing untuk menguasai negara Kwaad.

“Baik, terima kasih,”—Sersan Bruce memasukkan dokumen itu ke dalam tas-nya—“kalau ada info lagi, kabari aku, sekarang minumlah teh itu.”

“Hahahaha! Kau terlalu tenang, kawan! Ini kasus berbahaya, jika Anda ... maksud saya ‘The Ghost” membunuh A. Hooker, ini akan menjadi pertanyaan besar,” kata Jet sambil mengikat rambutnya yang panjang sebahu.

Sersan Bruce tersenyum penuh arti. “Aku punya rencana lain.”

***

Jackie, lelaki kurus dan berambut lurus itu sudah beberapa hari diintai oleh Sersan Bruce. Beberapa foto pertemuan rahasia antara Jackie dan A. Hooker. Hari ini lelaki asing itu harus kembali ke negara-nya dengan membawa beberapa dokumen.

Dalam keramaian di bandara internasional negara Kwaad, bahkan untuk melangkah saja sangat sulit. Jackie berjalan perlahan, memasuki pintu masuk, di depannya ada seorang pria memakai jubah hitam besar, kacamata hitam, topi hitam dan berjenggot lebat, membawa sebuah tas besar di tangan kanan-nya.

SRAAATTTT!!

“Ah!” Jackie berteriak kecil, punggung tangan-nya tergores, sedikit berdarah, ia memandang ke belakang, sepertinya ada bagian tajam dari tas si lelaki berjenggot lebat tadi melukainya, karena waktu keberangkatan pesawat sebentar lagi, pria dengan tato naga di leher tersebut tak sempat mengobati luka.

“Sialan,” gerutu Jackie dalam hati.

***

“Terima kasih atas pinjaman jenggot palsu dan racun kobra ini,” kata Sersan Bruce.

“Kau benar-benar gila,” kata Jet Loo, menggelengkan kepalanya, “entah apa reaksi A. Hooker nanti.”

Sersan Bruce menghidupkan mobilnya, dan menyerahkan sejumlah uang kepada Jet Loo dari jendela. “Aku pergi dulu!”

Jet Loo melambaikan tangan.

***

Berita utama koran internasional bertajuk: Petugas Administrasi Dragon Nation Meninggal Dunia di Maskapai Kwaad Airlines, Ular di Pesawat?

Jet Loo menikmati teh di sebuah kedai minuman sambil tertawa kecil—membaca berita koran. “Kau benar-benar gila, kawan!”

Tak lama, teleponnya berdering.

“Ya? Ada apa?” kata Jet.

“Aku, minta jadwal kedatangan penghubung berikutnya, jangan lupa bawakan aku jenggot palsu lagi, dalam kasus ini aku belum memerlukan topeng,” jawab suara di seberang sana. 

--- 

Pontianak, 10 Juli 2016

Dicky Armando

Sumber foto: wall.alphacoders.com 

  • view 134