Rentenir Resmi

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Juli 2016
Rentenir Resmi

"Selamat pagi, Pak! Kami ingin menawarkan pinjaman uang kepada Anda," jelas Marco.

"Saudara dari mana?" tanya Rahmat yang bekerja sebagai pedagang.

"Saya dari sebuah penyedia jasa keuangan yang punya profit terbesar di negara ini." Marco tersenyum seraya merapikan dasinya. Ia memakai kemeja lengan panjang berwarna biru langit, kadang-kadang lelaki penyebar hutang ini mengenakan baju seperti montir sepeda motor balap di televisi.

"Baiklah!" Rahmat setuju meminjam uang dan menandatangani beberapa berkas. Rayuan Marco sebagai seorang yang terdidik cukup manjur ternyata.

***
Berjalan waktu, usaha Rahmat mengalami kendala sehingga belum bisa memenuhi tagihan hutangnya. Macet!

"Saya belum bisa membayar, usaha sedang kandas," kata Rahmat.

"Saya tidak mau tahu, itu urusan Anda! Sekarang saya akan mengambil beberapa barang, seperti mesin jahit, motor, dan beberapa alat elektronik yang Anda miliki!" seru Marco, wajahnya masam, masih dengan dasi "terhormat" di lehernya.

Singkat kata, sore itu Marco dan beberapa kawan-nya mengangkut barang-barang Rahmat, dan menyimpan benda itu di dalam kantor mereka yang megah, meskipun dalam surat perjanjian antara perusahaan Marco dan Rahmat tidak menyebutkan adanya persetujuan pengambilan barang. Tetapi pedagang jujur tersebut tak kuasa dengan tekanan "pintar" dari pesuruh-pesuruh kapitalis yang ingin menyelamatkan periuk nasi mereka, seakan-akan tidak bisa hidup di tempat lain.

***
Bulan berikutnya--Marco dan rekan-nya datang lagi ke kediaman Rahmat.

"Bapak mana, Bu?" tanya Marco kepada istri Rahmat.

"Anda sudah melewatinya tadi."

Marco bingung. "Di mana? Saya tak melihatnya!"

"Dekat kantor Anda, di pemakaman umum, cobalah sesekali mengunjunginya jika sempat." 

--- 

Pontianak, 9 Juli 2016

Dicky Armando

Sumber foto: www.allwidewallpapers.com 

  • view 197