Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya
Keanehan Zaman Sekarang

Miris baca berita tentang seorang guru--bernama Pak Muhammad Samhudi yang sedang menjalani proses persidangan karena dituntut muridnya, dituduh mencubit sampai memar.

Saya memang tidak suka jika ada yang main kasar, tapi juga harus dilihat "kadarnya" seperti apa, lagi pula menurut guru di atas dia tak melakukan tindakan tersebut, entah mana yang benar.

Terlepas benar atau salah, saya berkaca dari generasi angkatan saya sewaktu masih mengenyam pendidikan di sekolah (SD hingga SMA, kalau kuliah sebagian pengajarnya hanya murni mengajar). Penggaris kayu? Penggaris besi tipis? Penggaris plastik? Cubit? Kena marah? Buat saya itu sudah biasa, bukan bangga, tapi sadar diri ini memang nakal. Mau lapor dengan orang tua di rumah, saya tahu persis ibu akan kasi "bonus" omelan yang panjangnya bisa jadi 1 (satu) novel berjenis satire.

Hmmm ... apa ya, generasi sekarang--apakah terlalu lembek? Mungkin gara-gara tontonan tidak bermutu atau karena gadget yang membuat sebagian orang muda jadi anti sosial?

Kalau anak-anak yang rajin melaporkan gurunya ini hidup di zaman saya sekolah dulu--mungkin penjara bisa-bisa isinya guru semua. Hey Bro! Bapak dan Ibu guru kita itu punya maksud dan tujuan yang mulia! Tanpa mereka--kita tak akan bisa membaca sekaligus menulis!

Kadang-kadang lucu juga rasanya, perayaan kelulusan SMA misalnya, padahal aturan main mereka--menurut saya lebih ringan daripada aturan pada zaman 90-an (zaman saya). Satu saja mata pelajaran tak memenuhi syarat bisa tak lulus, sementara kalian yang konon katanya (entahlah), ujian nasional tidak menjadi satu-satunya indikator kelulusan, Tapi lihat, perayaan kalian sangat berlebihan untuk ukuran yang syarat kelulusannya relatif mudah. Saya coret-coret baju juga, walaupun ini termasuk pemborosan, tapi masih bisa dimaklumi mengingat betapa senangnya melewati "ujian" yang bisa bikin mimpi malam terasa menyeramkan, dan berharap malam menjadi sangat panjang. Ketika masa itu ada saja siswa atau siswi yang tak tahan tekanan--sehingga bunuh diri ketika tak lulus ujian sekolah, banyak pemberitaan-nya.

Saya bukan ahli di bidang ini, tapi cuma terpikir beberapa solusi gila saja:

1. Buang gadget kalian ke sungai.
2. Mau foto-foto? Silakan pakai kamera biasa.
3. Mau internetan? Silakan pergi ke warnet bersama teman-teman, tapi jangan nonton film porno.
4. Bosan? telepon kawan-kawan kalian (pakai telepon genggam biasa atau telepon rumah), ajak main bola atau main apa saja yang bisa menguras keringat.
5. Jangan nonton sinetron!
6. Mau baca-baca? Silakan datang ke perpustakaan daerah.
7. Mau nongkrong? Silakan ke warung kopi, ingat, gadget-nya sudah dibuang ke sungai atau ke lubang WC bukan?
8. Belajar bela diri dengan guru yang mumpuni, jadi tahu rasa sakit di badan, sehingga akan berpikir 2 (dua) kali jika ingin menyakiti orang lain.
9. Ada lagi? Cukup sepertinya, yang mau tambah, silakan.

Sekian.

--- 

Pontianak, 1 Juli 2016

Dicky Armando 

  • Sumber bacaan: Nazarman. "Diadili Karena Tudingan Mencubit Murid, Air Mata Sang Guru Luruh di Ruang Sidang, Semangat Pak!" n. p, 2016. Web. 1 Juli 2016. http://www.sarkopos.com 
  • Sumber foto: wallpaperscraft.com 

Karya : Dicky Armando