Apresiasi Puisi: Karakteristik Elektronik dalam Genggaman, Karya Bagus Noer

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 19 Juni 2016
Apresiasi Puisi: Karakteristik Elektronik dalam Genggaman, Karya Bagus Noer

Saat membaca judul puisi ini, sebenarnya lebih mirip dengan judul artikel informatif, yaitu: "Karakteristik Elektronik dalam Genggaman", tapi tak ada larangan sama sekali mengenai judul seperti apa yang cocok, saya yakin Bagus Noer sudah mempertimbangkan masak-masak tentang apa yang dipilihnya.

Puisi dari akun-nya Bagus Noer dapat dilihat di sini

Saya tuliskan kembali puisinya sebagai berikut: 

---

Antara mesin pencari dunia maya

Rela aku gadai waktu tanpa percuma

Demi tawa serta jeritan pula

Saudara diantara lain benua

Kupasrahkan kiprah mimpi dan inspirasiku dalam LDR pembacanya

Ketakutan selalu kualami sesak sesaat

Pembacaku beralih dengan nuansa mainstream

Demi pundi-pundi di dalam dompet tipis

Khas anak rantau dipenghujung bulan

Karya adalah lompatan isi hati dan fikiran yang menyeruak membasahi permukaan

Dalam keluh yang terlewati tanpa tersadari diri mampu mengatasi

Tiap tafsir mimpi seperti mendoktrin ke arah teorinya dan determinant

Pengecup rasa jenuh hingga garis horizontal

Terhadap sang pencipta tertunduk aku malu

Meminta kembali tanpa tiada waktu yang kulakukan

Lebih untuk memantaskan dengan semua akun medsosku

Dengan semua kronologi yang kutautkan

Aku mendamba sesuatu yang lebih dari sekedar pengertian

Cari saja kata itu dalam seruan tanya

Dalam relung hati kecil

 

 

jakarta?/bekasi2016juni16

Bagus Noer

#kurirperasaan063 

---

Dari puisi di atas saya mencoba menebak bahwa ini memang jenis puisi baru, atau boleh dibilang puisi bebas. Mempunyai 20 (dua puluh) baris, tanpa pemisahan bait, kita sebut saja ini memang 1 (satu) bait. Berarti saya rasa ini tidak termasuk dalam kategori distikon, terzina, quatrain, quint, sektet, septima, stanza, dan soneta. 

Dari segi isi--saya rasa puisi ini temasuk balada, yaitu puisi yang membentuk cerita, kalau salah mohon koreksinya.

Mengenai "rasa" di dalam puisi tersebut, sampai sekarang saya masih menebak-nebak pikiran Bagus Noer yang memang sulit "dibaca", atau mungkin beliau memang piawai menyamarkan maksud sebenarnya. Misalnya pada baris 6, 7, dan 8. Coba kita simak: 

Ketakutan selalu kualami sesak sesaat

Pembacaku beralih dengan nuansa mainstream

Demi pundi-pundi di dalam dompet tipis 

Kalau saya melihatnya ada missing link terhadap tiga kalimat tersebut. Ada sedikit ke-tidak-sinambungan di antaranya, sehingga agak sulit menangkap maksud si penulis. 

Beda halnya dengan pada baris 14, 15, 16, yang menurut saya cukup apik dalam penyampaiannya, kejadian-nya saling sambung. Mari kita lihat: 

Terhadap sang pencipta tertunduk aku malu

Meminta kembali tanpa tiada waktu yang kulakukan

Lebih untuk memantaskan dengan semua akun medsosku 

Terlihat perbedaannya bukan? 

Sementara ini--saya menafsirkan puisi Bagus Noer adalah tentang rasa gundahnya terhadap smartphone, bagaimana penggunaannya bisa mengantarkan kepada rasa bahagia pun rasa semu. Ada tanda tanya besar terhadap apa yang sudah si penulis lakukan di dalam dunia maya (internet). Apakah benar? Apakah salah?  

Mengenai kata-kata yang mungkin salah ketik adalah: 

  • Pada baris 4, kata "diantara" seharusnya "di antara". 
  • Pada baris 7, kata "mainstream" sebaiknya dibuat miring. 
  • Pada baris 8, kata "pundi-pundi" sama artinya dengan kata "dompet" yang juga ada pada satu baris. 
  • Pada baris 9, kata "dipenghujung" seharusnya "di penghujung".
  • Pada baris 10, kata "fikiran" seharusnya "pikiran". 
  • Pada baris 12, kata "determinant" seharusnya "determinan". 
  • Pada baris 14, saya rasa kalimat "sang pencipta" seharusnya "Sang Pencipta".  

Sepertinya Bagus Noer sedang mencari-cari karakter berpuisi-nya, dan saya sangat menunggu karya-karyanya yang gemilang di lain hari. Semangat terus Bro

--- 

Pontianak, 19 Juni 2016 

Dicky Armando 

Sumber foto: www.inspirasi.co  

  • view 84