Catatan Tidak Penting: Kesepakatan

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Juni 2016
Catatan Tidak Penting: Kesepakatan

Tadi malam (17/6/2016), saya, Gusti, Fanny, dan Bang Rikky—berkumpul di rumah Fanny. Bertujuan melepas stres yang melanda selama hampir satu minggu ini di bidang kesibukan kami masing-masing. Pukul 20.00 WIB, saya dan Gusti sampai duluan ditujuan, kemudian disusul oleh Bang Rikky beberapa jam setelahnya (beliau menikmati malam sepertinya, hahahaha!)

Saya sengaja menulis kejadian yang mungkin tidak penting (bagi orang lain) ini karena penting buat saya. Bermula dari kesukaan menonton tayangan dari History Channel dan National Geographic—kemudian terinspirasi dengan tokoh-tokoh yang selalu menuliskan kegiatannya dalam buku catatan, merekam kegiatan masa lalu, sehingga bisa diketahui siapa ia sebenarnya, sisi lain yang tak diketahui publik, tentang apa kegiatannya, siapa teman-temannya, dan lain-lain.

Mungkin saya sendiri bukan tokoh yang punya kehidupan menarik seperti orang-orang yang disebutkan di atas, tapi saya baru sadar ternyata catatan harian punya faktor penting dalam napak tilas hidup seseorang, mungkin saja berguna bagi generasi berikutnya. Siapa tahu?

Pandangan saya benar-benar berubah tentang catatan harian yang detail dan lugas, karena selama ini kisah-kasih serta pemikiran hidup saya—tertuang dalam bentuk puisi atau cerpen, maksudnya kadang saya berusaha menyamarkan apa yang terjadi terhadap diri saya, sehingga hanya orang-orang dekat yang mampu memahami tulisan tersebut.

Namun dalam beberapa hal, ternyata mencatat kejadian secara detail melalui tulisan juga tak kalah penting. Pernah suatu hari terpikir bahwa seandainya suatu hari saya menghilang entah ke mana, maka rekan-rekan dan sahabat dekat bisa melacak keberadaan diri ini melalui catatan-catatan yang saya buat, tentang kebiasaan, keresahan, pemikiran, dan rencana-rencana. Semuanya terekam, detail.

Kembali lagi, dari hasil pertemuan saya dan kawan-kawan, lebih tepatnya mungkin disebut kongko-kongko, kami semua menyadari bahwa daerah di tempat kami tinggal sedang terjadi kejadian tidak biasa, yang mana dirasa tidak adil untuk beberapa kalangan, dan menguntungkan buat sebagian lain.

Alhasil, kami membuat kesepakatan bahwa akan memulai dengan hal-hal pribadi untuk mengubahnya, dengan cara lebih berhati-hati memilih pemimpin, dan sebisa mungkin pemimpin terpilih adalah dari kaum muda yang ter-edukasi dengan baik, bukan lagi oknum kaum tua yang terkontaminasi.

Kesepakatan berikutnya adalah mulai sekarang kami semua akan membuang sampah pada tempatnya. Konyol? Menurut kami tidak, karena jika tidak bisa berlaku benar pada hal sederhana, artinya pemikiran kita juga masih kotor, sebisa mungkin hal-hal seperti itu dikurangi.

Pukul 02.30 WIB, mendekati sahur, kami semua pulang ke rumah masing-masing—kecuali Fanny, karena kami memang berkumpul di rumahnya. Gusti bersama saya dengan satu sepeda motor, dan Bang Rikky di sepeda motor lainnya. Di persimpangan jalan, kami berpisah. Saya hanya berharap pemikiran dan doa-doa bisa terwujud, dan suatu hari nanti bisa senyum-senyum sendiri membaca tulisan ini meski tak sempurna.

--- 

Pontianak, 18 Juni 2016 

Dicky Armando 

Sumber foto: sf.co.ua 


  • Dede Mulyanah
    Dede Mulyanah
    1 tahun yang lalu.
    "oknum kaum tua yang terkontaminasi" suka deh sama kata - kata itu sarat banget makna

    • Lihat 1 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    saya juga suka nulis yang samar-samar untuk bercerita tentang diri sendiri.
    kalo untuk tulisan yang lugas, saya simpan sendiri --gak dipublikasikan di medsos

    • Lihat 2 Respon