Filosofi Picisan: Luka Selalu Mengubah

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 13 Juni 2016
Filosofi Picisan: Luka Selalu Mengubah

Suatu kali lutut saya terluka gara-gara main sepak bola, semenjak itu saya mulai berhati-hati agar tidak terjadi lagi. Banyak hal yang diusahakan, misalnya dengan berlari lebih pelan, memperhatikan permukaan lapangan, dan lain-lain. Bekas luka juga terlihat sampai hari ini, mungkin butuh biaya banyak agar mulus kembali, kata teman—bisa dengan operasi plastik atau apalah namanya.

Atau mungkin suatu kali anda pernah terantuk daun jendela atau pintu, setelahnya pasti lebih mempersiapkan diri, siap siaga, apalagi ketika bagian tubuh sempat terluka.

Ternyata begitu pula hidup, luka sanggup mengubah siapa pun menjadi apa pun. Rasa sakit dalam berbagai bentuk diterjemahkan dalam satu rasa: Waspada.

Bekas luka itu sendiri mungkin sebaiknya jangan dihilangkan, sebagai pengingat diri, agar paham setiap kejadian berpotensi terjadi benturan.

Kehilangan, putus asa, benci, cacat, dan lain-lain membentuk seseorang secara otomatis—membangun dunianya sendiri, membuat pagar tak kasat mata. Mungkin sebagian orang akan mengatakan ini suatu bentuk kepengecutan atau ketakutan berlebih, ya ... orang yang belum pernah terluka pasti mengatakannya. Namun dalam sudut pandang “si terluka”, anda tak bisa membayangkan apa yang telah terjadi dan berkecamuk dalam hidupnya. Siapa anda sehingga berani menyatakan baik dan buruk terhadap seseorang tanpa tahu perjuangan yang telah dilalui.

Mengetahui nama dan memahami cerita itu adalah perbedaan besar. Seorang motivator ulung berkacamata dan berkepala bulat telur sekali pun tak bisa membakar pagar pembatas yang dibuat oleh “si terluka”. Apa sebabnya? Karena kebanyakan orang hanya mampu mengidentifikasi aroma sampah daripada siapa saja yang membuang kotoran di dalam sebuah tong.

Kita bisa saja memarahi seorang teman yang terbaring di rumah sakit karena menganggapnya tak berhati-hati dalam berkendara, tanpa tahu kendaraannya telah disabotase oleh orang di sebelah anda, persis!

Biarkan waktu merawat luka, sampai waktunya nanti sembuh. 

--- 

Pontianak, 13 Juni 2016

Dicky Armando 

Sumber foto: best-wallpaper.net