Filosofi Picisan: Teman Pasti Datang dan Pergi

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 13 Juni 2016
Filosofi Picisan: Teman Pasti Datang dan Pergi

Bermula sejak saya mengenyam pendidikan di sekolah dasar sampai sekarang (bekerja), dengan naif-nya berpendapat bahwa teman dan mungkin sahabat akan selalu ada.

Jauh panggang dari api, begitu kata pepatah, mereka pergi satu per satu dengan alasan yang benar dan yang dibuat-buat. Misalnya karena harus bekerja di tempat jauh, sudah menikah, atau menghilang tanpa jejak.

Lama saya bepikir, berujung pada bahwa sesungguhnya pertemanan itu tak lebih dari kepentingan-kepentingan. Bahkan seseorang yang dianggap sahabat pun pada akhirnya masuk dalam kategori teman, hati kita salah sangka. Ya ... hati memang mudah tertipu.

Mungkin anda akan menemukan seseorang kawan lama yang mengetuk pintu rumah pada hari minggu dengan senyum menawan, lalu ia masuk, dan mengatakan: “Aku perlu bantuanmu.”

Begitu juga diri ini, tak jauh beda. Bisa jadi kita pernah dianggap sahabat oleh seseorang, kemudian turun level dengan hanya menjadi teman karena sikap egois, maksud saya—melupakan banyak kebaikan, sementara orang yang pernah menolong anda sekarang ini sedang menderita.

Saya punya seorang teman, namanya Ono (nama samaran). Dulu, ia merupakan pribadi yang menyenangkan, namun ketika mendapatkan sedikit status sosial lebih tinggi—semua berubah. Obrolan kami tak jauh tentang pekerjaan, uang, gengsi, dan sejenisnya. Bertemu hanya untuk saling meninggikan diri. Saya menyadari—ini bukan bentuk persahabatan maupun pertemanan yang baik, karenanya—pergi jauh adalah pilihan tepat. Dia seperti mimpi buruk bagi logika saya yang masih mengharapkan pertemanan asyik seperti di masa lalu.

Pada tahun 2012, saya bekerja di bidang perbankan, bertemu dengan kawan-kawan baru. Seperti dulu-dulu, kebodohan kembali menghantui otak saya—berpikir mereka-lah sahabat se-perjuangan. Liburan bersama, bersenang-senang bersama. Cukup banyak masa indah saya alami bersama mereka.

Suatu hari seorang pimpinan kantor yang jahat berkata, “Kalian hanya akan bersama ketika bersenang-senang.”

Awalnya saya berprasangka bahwa pimpinan tersebut iri terhadap kami. Sampai pada suatu saat terjadi sesuatu hal yang mengharuskan kami semua kompak menghadapinya. Tapi apa yang terjadi? Semua “sahabat” itu melarikan diri alias menyelamatkan diri masing-masing, tak satu pun berani “pasang badan”.

Saya benci mengakuinya—Bu Peyot (nama samaran)—sang pimpinan jahat terbukti benar, mungkin ia sudah pernah mengalami kejadian seperti itu sebelumnya, pengalaman mengajarkan banyak hal.

Di sebuah lingkungan baru, saya berusaha untuk tidak membawa banyak perasaan dalam pertemanan. Hasilnya sikap ini dianggap dingin, seakan tak peduli. Salah lagi jadinya, mau pakai hati salah, tak pakai hati juga salah. Maka saya putuskan untuk kembali berbaur, meskipun pertemanan kali ini adalah yang paling gersang terasa.

Terulang kembali, ketika kapal bocor, teman-teman baru saya itu menarik sekoci-nya masing-masing, dan berlayar jauh sampai mata tak lagi bisa melihat keberadaan mereka. Bodohnya saya!

Akhirnya saya mengerti, pertemanan adalah ilusi di setiap tempat dan/atau lingkungan baru, sementara kita mencari-cari persahabatan di tengah kabut ilusi tersebut, hampir mustahil. Kepentingan dan kebutuhan adalah dua kata yang membuat manusia terhubung satu sama lain, dan percayalah ... jangan berharap itu selalu berakhir indah, pertemanan merupakan bentuk judi sejati. 

--- 

Pontianak, 13 Juni 2016 

Dicky Armando 

Sumber foto: wallpaperus.org 

Dilihat 695

  • Ulum Arifah
    Ulum Arifah
    1 tahun yang lalu.
    Semua orang punya jatah masing masing untuk dihianati. Begitu menurut saya. Jika ada sahabat saya yang berkhianat, saya hanya berpikir bagaimana penyelesaian nya. Salah satunya dengan meninggalkan dan melupakan.