Sampah Televisi

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 12 Juni 2016
Sampah Televisi

Kalau dihitung—entah sudah berapa lama saya tidak menonton siaran televisi nasional, sejak bertaburan acara yang mengumbar aib orang lain di dalamnya. Terakhir kali saya melihat ada sebuah acara bernuansa agama tertentu—mempertontonkan perempuan cantik dengan penutup kepala yang bisa bernyanyi, menari, dan menjawab pertanyaan juri, namun tak ada satu pun penilaian mengenai kelihaian cara membaca kitab agama tersebut. Konyol?

Zaman dulu, dalam tayangan sinetron, jika seorang wanita tertabrak mobil—ia jatuh dengan cantik bak bidadari dengan lipstik merona. Kenyataannya, korban tabrakan sangat menggenaskan keadaannya, walau tidak semua.

Banyaknya tayangan televisi—di satu sisi merupakan perkembangan yang membanggakan, karena berarti teknologi di Indonesia berkembang. Namun di sisi lain, berkaitan dengan program-program acaranya, banyak tayangan yang kurang memberikan unsur pendidikan bagi pemirsanya (Takariani 39).

Besarnya efek “cuci otak” dari tontonan sampah sangat berbahaya. Mungkin secara tidak langsung ada hubungannya dengan keadaan darurat moral yang sedang melanda negeri ini. Pemerkosaan, prostitusi, pencurian/perampokan, dan sejenisnya.

Bagaimana bisa? Perhatikan tayangan televisi anda, beberapa tayangan kental dengan “kemewahan” yang nantinya bisa “merangsang” siapa saja untuk mencapai yang diinginkan melalui cara apa pun, khususnya generasi muda.

Tayangan televisi yang mempertontonkan anak-anak Sekolah Menengah Atas (SMA) pergi sekolah menggunakan mobil dan/atau kendaraan mahal lainnya—menurut saya adalah satu dari sekian banyak indikator yang membuat banyaknya saudari kita jatuh ke dalam jurang pelacuran.

Aksesori seperti telepon pintar model terbaru—diekspos dan dikesankan menjadi “senjata” andalan dalam pergaulan. Hal tersebut juga—saya rasa merupakan sebuah indikator yang mendorong saudara-saudara kita berencana dan melakukan perampokan.

Della (2016) menyebutkan bahwa KPI menjatuhkan 250 sanksi pada tahun 2015, dan program sinetron menjadi salah satu program yang mendominasi sanksi tersebut.

Solusinya menurut saya:

  • Meningkatkan peran orang tua dalam mendidik dan mengawasi anak-anaknya.
  • Penyuluhan kerohanian secara berkala dilakukan pemerintah untuk semua generasi muda.
  • Penyuluhan kerohanian secara berkala dilakukan pemerintah untuk semua produser, sutradara, serta pemilik perusahaan televisi yang terlibat dalam proses pembuatan “tayangan sampah”.
  • Pemerintah membuat peraturan dan sanksi yang tepat.

Tentunya tidak semua sinetron atau tayangan televisi lainnya seperti ini, namun agar lebih aman—maka “sampah-sampah” harus cepat dibersihkan sebelum membusuk dan menjadi penyakit baru di lingkungan sekitar. 

---

Pontianak, 12 Juni 2016

Dicky Armando 

Sumber bacaan: 

Sumber foto: www.kaskus-dimension.com