Ramadan, Bukan Ramadhan

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 10 Juni 2016
Ramadan, Bukan Ramadhan

Tiba-tiba teringat beberapa tahun ke belakang—saat melihat tema tantangan minggu ini di Inspirasi(dot)co, yaitu “Ramadhan dan Konsumerisme”.

Menarik tema-nya, eiittss ... sebentar dulu, kalau tidak salah lihat, kata yang benar itu “Ramadan”, bukan “Ramadhan”. Hati bimbang, akhirnya buka kamus.

Menurut KBBI (2016) dan KBBI versi Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia (2008) mengartikan Ramadan, ya ... bukan “Ramadhan”—sebagai berikut:

  • Bulan ke-9 tahun hijriah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam diwajibkan berpuasa.
  • Bulan kesembilan di tahun hijriah, bulan puasa.

Sementara arti dari konsumerisme adalah:

  • Gerakan atau kebijakan untuk melindungi konsumen dengan menata metode dan standar kerja produsen, penjual, dan pengiklan.
  • Paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya.
  • Gaya hidup tidak hemat

Khususnya di tempat saya tinggal, memang benar terjadi konsumerisme berlebihan—dilakukan oleh sebagian orang, kita sebut saja oknum. Biasanya mendekati lebaran, mereka mulai melakukan transaksi pembelian secara kredit. Tentu saja, ini merupakan lahan subur bagi para kreditor—sementara debitur tak sadar akan “bahaya” yang timbul—disebabkan keinginan mereka untuk tampak “mewah” saat hari raya tiba.

Menurut Amin (2007), biaya servis yang dikenakan bank untuk pinjaman atau kredit yang diberikan kepada nasabahnya biasa dikenal sebagai bunga (interest). Dari sisi nasabah peminjam dana, interest adalah biaya (cost).

Dulu, sekitar tahun 2011—saya bekerja sebagai penyurvei kelayakan kredit di sebuah perusahaan pembiayaan barang-barang elektronik dan mebel. Suatu ketika saya ditugaskan ke sebuah toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari, toko-nya kecil, baru berjalan dua tahun kurang lebih. Seorang ibu-ibu berumur 42 tahun menyambut saya (umurnya diketahui dari formulir kredit yang diajukan oleh ibu tersebut).

“Dari Bank ‘X’ ya Mas?” tanya ibu berambut tebal itu. Kebanyakan orang-orang di sini menyebut pemberi kredit dengan kata “bank”, padahal sebenarnya saat itu saya bekerja di sebuah lembaga keuangan non-bank, tapi ya sama-sama makan “bunga”—tak banyak beda. Semoga Tuhan kelak memberikan saya jalan rezeki yang lebih baik daripada harus terlalu lama di dunia “perbungaan”.

“Benar, Bu. Dengan Ibu Rani?”

“Iya, Mas. Silakan duduk,” kata Bu Rani, ramah. Saya duduk di sebuah kursi kayu kecil—dekat pintu masuk toko, di belakangnya ada parit kecil.  Kursi itu tidak terlalu kukuh, bergoyang, seandainya sempat saya jatuh, pasti rasa malu akan jauh lebih besar daripada rasa sakit.

“Jadi apa yang mau diperiksa ini, Mas?” tanya Bu Rani lagi.

“Saya ditugaskan memeriksa kebenaran lokasi dan keberadaan toko serta isinya. Saya harap Ibu tidak keberatan.” Saya membuka jaket berwarna coklat dan sarung tangan hitam andalan.

“Panas ya?” Bu Rani tertawa melihat tingkah saya yang kerepotan melepas aksesori dari tubuh.

Saya tersenyum getir. “Hehe ... iya, Bu.”

“Saya buatkan air teh dingin dulu, silakan toko-nya dilihat-lihat.” Bu Marni masuk ke dalam toko, dari luar saya mendengar bunyi es batu dituang dan diaduk.

Setelah segar kembali, hampir selama 15 menit—saya memeriksa pencatatan keuangan toko dan melakukan pengambilan gambar dari beberapa sudut, termasuk isi dalamnya. Berdasarkan keterangan, pencatatan, cek lokasi, dan beberapa pertimbangan, saya menyatakan Ibu yang bekerja sambil membesarkan anak-anaknya secara mandiri tersebut—layak mendapatkan kucuran dana kredit—untuk membeli sebuah mesin parut kelapa. Pengalaman saya selama ini, hanya sedikit orang meminjam uang dengan tujuan produktif—main curang—atau gagal bayar dengan kriteria “parah”.

Sekitar 4 bulan kemudian, suatu sore, saya bertemu dengan seorang Field Collector di depan pintu masuk kantor. Mata ini merasa tak asing dengan benda yang sedang diangkatnya.

“Cuy ... apa itu?” tanya saya.

“Ini, dari daerah seberang. Bu Rani kalau tidak salah namanya tadi,” jawab Acuy polos, “aku masuk dulu ya Bro!”

Saya terdiam, kemudian mengikuti Acuy dari belakang. Lelaki besar itu menyadari.

“Ngapain ikut, Bro?” tanya Acuy.

“Ah, tidak apa, mau bantu saja.”

"Tumben kau baik.” Acuy tertawa keras sekali. Semua orang di ruang tunggu tamu menoleh ke arah kami, anak kecil menangis ketakutan, anjing dan kucing panik berlarian.

Sampai di gudang, saya membantu memasukkan mesin parut kelapa itu. Ketika melihat dari dekat, saya benar-benar kaget! Astaga! Pada mesin itu masih terlihat parutan kelapa segar, cukup banyak.

“Cuy! Ini kapan kau ambil ke beliau?” Saya berdiri tegak menghadap Acuy.

“Ini tadi siang, waktu dia masih kerja. Kau lihat kelapa parut tadi bukan?” tanya lelaki mantan preman tersebut, wajahnya terlihat bangga bisa mengambil paksa sesuatu dari orang lain.

“Terus Bu Rani-nya bagaimana?”

Acuy menutup pintu gudang dan menguncinya. “Dia menangis, tapi mau bagaimana lagi, ini tugas kita semua.”

Saya tak bisa berkata-kata. Acuy berlalu tanpa rasa bersalah. Mungkin inilah mengapa uang “bunga” dilarang untuk dimakan, karena bisa menyebabkan matinya hati. Termasuk saya yang mungkin sudah banyak sekali makan “uang jasa”, sehingga diri ini pun tidak masuk dalam kategori orang baik-baik.

Kembali lagi dengan tema konsumerisme, berdasarkan pengalaman, uang yang dipinjam untuk aktivitas produksi saja sering mengalami kendala pada saat pengembaliannya, apalagi seandainya uang tersebut murni digunakan untuk tujuan konsumtif.

Terbukti, pada bulan Ramadan tahun 2011, target pembiayaan perusahaan kami tercapai, bahkan lebih. Sayangnya, pada bulan berikut, nyaris 50 persen-nya dari debitur bulan lalu—gagal bayar pada setoran pertama!

Baju mewah baru, kendaraan mewah baru, dan barang-barang mewah bukan primer merupakan benda-benda tak penting, yang mana sebenarnya tidak menaikkan status sosial anda, kecuali di dalam alam pikiran sendiri.

Ramadhan ... eh ... Ramadan maksud saya, merupakan masa yang tepat untuk melatih pengendalian diri terhadap konsumerisme. Anda boleh tahan puasa sebulan penuh, tapi kalau tidak tahan untuk membeli baju baru atau perabotan seharga jutaan rupiah, maka mungkin boleh dipertanyakan lagi tentang nilai puasa anda. 

--- 

Pontianak, 10 Juni 2016 

Dicky Armando 

Sumber bacaan: 

  • Amin, Riawan. A. 2007. Satanic Finance. Jakarta: Celestial Publishing 

  • KBBI Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia 

  • KBBI Kemdikbud 

Sumber foto: www.peterhaas.org 


  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    saya udah cek di kamus kalo sebenarnya Ramadan (tanpa huruf h), tapi saya lebih seneng pake 'h' (anggap aja itu yang masih terikat arabic)

    udah baca Satanic Finance juga, Pak? itu buku keren isinya

    • Lihat 11 Respon