Lelaki Benang dan Lelaki Batu

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Juni 2016
Lelaki Benang dan Lelaki Batu

Irfan menyusuri jalanan ibu kota, tangannya sibuk mengerjakan sesuatu—bukan hal yang lazim dilakukan seorang lelaki, setidaknya begitu kata sebagian orang: merajut. Ia selalu membawa tas besar yang penuh benang wol, jarum, dan bermacam-macam “amunisi” menjahit maupun rajutan. Seandainya suhu udara semakin gerah, lelaki kurus itu melepas penutup kepalanya, buatan sendiri. Benda itu berwarna coklat tua, terbuat dari benang dan penuh menutupi kepala bagian depan sampai belakang, kalau saja Irfan bisa terbang—orang pasti mengira dirinya makhluk luar angkasa, alien.

Langkahnya sampai di Jakarta Gems Center (JGC), Rawabening. Saat akan masuk ke tempat itu, seorang laki-laki berambut panjang meneriaki-nya, “Woi! Laki-laki jantan itu enggak mainan benang!”

Irfan menoleh. “Woi! Laki-laki jantan itu yang punya sopan santun!”

Pria berwajah seram tadi diam saja, tak membalas lagi. Irfan pun berlalu, menuju ke sebuah kios batu akik tak jauh dari pintu masuk utama bangunan JGC. Tempat itu tidak terlalu besar, namun penuh batu-batu mulia dan semi mulia terpajang, di dalamnya terlihat seseorang sedang asyik memoles batu-batu yang sepertinya berjenis zamrud, berwarna hijau, Irfan menyangka semua batu berwarna hijau itu zamrud.

“Oi Dik!”

Si pemilik toko menoleh. “Oiii Broo! Lama tak bersua! Baru pulang kerja?”

Irfan duduk di kursi kecil, di depan etalase, kini ia dan Dicky saling berhadapan dibatasi sebuah kotak kaca penuh batu.

“Iya ... malas pulang ke rumah, mau cari angin dulu,” kata Irfan, lesu. Dilepasnya penutup kepala, kemudian mengibaskan rambut seperti iklan sampo.

“Cari angin jangan ke sini, di sini kau cari batu namanya.” Dicky tertawa.

Irfan tersenyum kecil. “Iya ya ....”

“Jadi bagaimana misi ‘merajut budaya’? Ada perkembangan?”

“Orang-orang apatis Bro, mereka pikir kegiatan merajut ini merupakan monopoli nenek-nenek.” Irfan memandangi 5 lampu pijar bersinar di atasnya, tapi matanya kosong.

“Kau ingat? Pertama kali aku jualan batu di kampus, semua orang bilang bahwa aku menjual perkakas dukun? Sama saja bukan? Orang-orang selalu merasa aneh dengan sesuatu yang mereka tak kenal sebelumnya, atau sesuatu yang telah lama ditinggalkan dengan alasan kuno.” Tangan Dicky menghentak etalase di depan-nya, kesal, batu-batu yang tersusun rapi berubah dari tempatnya, seperti pecahan gunung berapi—berantakan.

Irfan panik, Dicky tidak panik—melainkan terpana, setelahnya mereka berdua tertawa keras-keras. Hari itu toko batu Dicky tutup lebih awal.

***

Suasana pekan Jakarta Fair di Kemayoran luar biasa semarak. Irfan dan Dicky tak kalah heboh, mereka rajin menawarkan produk-produk andalan kepada calon pembeli. Kedua pria beda aliran itu patungan membayar lapak yang disediakan oleh panitia event.

Setiap selesai bertransaksi—Dicky selalu menyisir rambutnya yang terlebih dahulu dilumuri pomade.

“Kau sisiran terus?” tanya Irfan.

“Biar rapi, jadi calon pembeli tidak takut denganku.”

Irfan menggelengkan kepalanya, ia memang tak perlu menyisir rambut lagi, kepalanya sudah terlindung rajutan wol besar berwarna merah.

Tiba-tiba sekelompok pejabat melewati lapak mereka.

“Pak ... Pak ... ini silakan dilihat rajutan saya, murah dan bagus Pak!” seru Irfan kepada pria di barisan paling depan.

Tanpa berkata apa pun, pejabat-pejabat itu melihat-lihat lapak yang penuh dengan rajutan dan batu tersebut.

“Buatan dalam negeri ya?” tanya si pejabat.

“Iya Pak, berkualitas, buatan tangan, saya sendiri pembuatnya,” kata Irfan semangat. Dicky tampak sibuk melayani pejabat lain yang sepertinya tertarik dengan batu mulia.

“Lihat ini,”—si pejabat menunjukkan syal di lehernya—“buatan luar negeri, lima ratus ribu jika di-rupiah-kan.”

Irfan memperhatikan baik-baik benda itu. “Saya punya yang seperti itu Pak, seratus ribu saja kalau Bapak berminat, dijamin bagus.”

Pejabat gemuk tersebut mengarahkan telapak tangan kanan-nya, tanda tak berminat, ia pergi begitu saja. Irfan kemudian menoleh ke belakang, nasib serupa dialami rekan seperjuangannya.

“Batu kecubung ini saya dapatkan di Korea, harganya lima juta dalam rupiah,” kata seorang wanita dengan pakaian mewah, berkacama mata hitam—meskipun hari sudah malam.

“Boleh saya lihat Bu?” tanya Dicky.

“Boleh,”—Ibu pejabat menjulurkan tangannya—“bagaimana? Bagus bukan?”

“Bagus sekali Bu, ini batu kecubung Kalimantan, saya punya batu dengan kualitas yang sama seperti ini satu juta saja. Ibu berminat?” Dicky tersenyum.

“Ah bohong kamu! Ini batu luar negeri! Tidak mungkin sama dengan batu jualanmu ini!”

Ibu-ibu pejabat lainnya tertawa, suaranya seperti lebah mau pergi berperang. Mereka pun lenyap

***

Irfan dan Dicky sedang membereskan lapak, sudah akan tutup. Lalu, mereka terkejut mendengar seruan dalam bahasa asing, maklum kedua lelaki ini sudah lama tak berkomunikasi selain menggunakan bahasa negaranya sendiri.

“Excuse me?”

Seorang turis pria, bertubuh tinggi, mata biru, rambutnya putih semua. Irfan dan Dicky saling dorong, mereka merasa canggung.

May I help you, Sir?” tanya Dicky.

I saw the knitting product and gemstone in this shop, could I see them again?”

Of course, yes ... yes ... yes!” Irfan menyeruak maju, membuat Dicky tersungkur ke samping. Bule itu tertawa keras sekali melihat tingkah mereka berdua.

Lebih dari sepuluh menit warga negara asing tersebut memilih dan memilah produk yang ia suka.

I love the products of you ... the knitwork ... the gemstones, they are lovely!”

THANK YOU, SIR!” teriak Irfan dan Dicky bergantian, mereka mulai terlihat norak.

I want to know something,” tanya si bule.

What is that?” Irfan balik bertanya.

You want to go to England?” 

--- 

Pontianak, 03 Juni 2016 

Dicky Armando 

Sumber foto: www.deviantart.com 


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Karya unik berlatar benda dan kebiasaan etnik, keren dan patut dilanjutkan jadi serial... ^_

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    Kita lbih suka produknya bule, karena? Gengsi! Hehe (coba ambil inti dr cerpen diatas, maaf klo tb2 nimbrung)

    #salim ke tokoh utama sm tokoh figuran

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Hahaha ... kocak nih, Mas
    Seharusnya cerpen ini dimuat di koran nasional biar para pejabat itu bisa baca and berkaca

    • Lihat 3 Respon

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    No coment.. wakaakaka

  • Ntan Home Craft 
    Ntan Home Craft 
    1 tahun yang lalu.
    aku kok geli sendiri sama kelakuan 2 lelaki ini. unik cara menjual produknya. yang satu kalem yang satu hebring..
    hihihi...
    saya salutnya bangga dengan produk dalam negeri dan produk buatan sendiri. good boys...
    lelaki inspirasi

    • Lihat 4 Respon