Siklus Pembalasan

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juni 2016
Siklus Pembalasan

Suasana kelas riuh, kabar beredar bahwa akan terjadi razia rambut mendadak oleh para guru. Tapi Dicky dan Fanny tampak tenang saja.

“Mau ke mana kita Bro?” tanya Fanny, mencolek tangan Dicky.

Mata teman-nya itu masih menerawang ke arah papan tulis, ada kekosongan yang entah apa di pikirannya. Fanny pun diam saja, melanjutkan coretannya di kertas.

Tiba-tiba Dicky tersadar. “Tenang, kalau guru-guru sudah terlihat keluar dari ruangan mereka, baru kita beraksi. Oke?”

“Tempat biasa?” Fanny balik bertanya.

Dicky melambaikan jempol kanan. Ia tersenyum percaya diri, lebih tepatnya senyum penuh muslihat.

“Siap!” Fanny memperagakan gaya menghormat seperti komandan upacara.

***

Tiga puluh menit kemudian, seorang guru masuk ke dalam kelas, Pak Karim namanya—seorang guru Agama Islam—sangat disegani karena tegas dan baik hati.

Lelaki bertubuh tambun itu memperhatikan seisi kelas.

“Sepertinya kurang dua orang? Benar?” tanya Pak Karim ke seluruh kelas.

Semua murid diam.

Guru baik hati tersebut berjalan ke tengah kelas.

“Ayo, jangan disembunyikan, beritahu saya keberadaan mereka! Atau kalian semua kena ini!” Pak Karim mengacungkan gunting, berkilauan karena terkena cahaya mentari yang masuk dari ventilasi kelas. Waktu itu masih pagi.

Roni—siswa paling alim yang duduk di belakang mengangkat tangan.

“Ya, ada apa Ron?” tanya Pak Karim.

“Se ... sepertinya kedua orang itu pergi keluar kelas Pak!”

“O begitu,”—Pak Karim meraba dagunya dengan tangan kiri—“kalian harus bisa mencari mereka berdua, bagaimana?”

Lagi-lagi semua murid diam.

“Saya perintahkan kalian mencari Dicky dan Fanny! Semuanya!” teriak Pak Karim, seperti deklarasi perang atas dua buronan.

“WOOOOOOOOO!” Seluruh kelas bergemuruh, kalau di film-film mereka pasti sudah memegang tombak dan pedang, diacungkan ke atas. Kurang dari 1 menit semua murid bertebaran mencari Dicky dan Fanny di luar kelas.

Pak Karim tersenyum menang, wajahnya menyiratkan: “Aku pasti mendapatkan kedua orang itu.”

***

Dicky dan Fanny sedang asyik makan gorengan di kantin kelas.

“Jarang-jarang bisa santai Bro!” kata Fanny.

Dicky tak menjawab, mulutnya penuh dengan makanan, ia hanya mengangguk tanda setuju.

“Kawan-kawan mana ya?” tanya Fanny lagi.

“Wooiiiii!” teriak Roni dari belakang mereka.

Dua sekawan yang sedang asyik makan bakwan goreng itu menoleh ke arah suara. Roni langsung menerkam.

“Apa kau ini? Datang-datang mengincar makanan!” kata Dicky sewot.

“Aku lapar, dan misi berhasil!” balas Roni tak kalah sewot.

“Apakah misi ini aman?” tanya Fanny.

“Aku pikir aman,”—Dicky menyeruput air teh hangat—“guru itu pelupa.”

Fanny dan Roni tersenyum. Tak lama kawan-kawan berdatangan satu-satu ke kantin sekolah yang memang tertutup, luput dari pengamatan guru-guru—sementara 3 IPS 1 mendapat tugas mencari Dicky dan Fanny yang diduga sedang buron.

Kurang dari 5 menit kantin sudah menjadi kelas khusus bagi murid-murid 3 IPS 1. Pak Karim—sang pemberi komando—sudah sibuk dengan murid-murid kelas lain. Surga seperti ini sangat jarang didapati lagi saat tahun-tahun terakhir sebelum kelulusan.

***

Setelah salat jumat berjemaah di masjid sekolah—Dicky dan Fanny mendapat kejutan. Pak Karim sudah menunggu mereka di dekat pintu masuk kelas bersama guru magang yang bertugas memberikan pelajaran tambahan sebagai persiapan ujian nasional.

Dua sekawan itu berpandangan.

“Lari!” seru Dicky.

Tanpa basa-basi—Fanny segera mengambil langkah seribu.

“Tangkap merekaaaaa!” seru Pak Karim, entah memberi perintah kepada siapa.

Tak disangka, murid-murid kelas 2 menghadang, Dicky dan Fanny terkepung.

“Habislah rambut kita!” kata Fanny, lirih.

“Jangan menyerah! Kita harus berjuang sampai darah penghabisan!” Dicky menggenggam tangan kanan-nya, tanda semangat.

Belum sempat dua buronan itu lari, aliansi murid-murid kelas 2 tersebut sudah menangkap mereka. Sesaat kemudian Roni melintas.

“Rooon toloooong!” teriak Fanny, tangan-nya sudah dipegangi erat, tak bisa kabur.

Roni melambai sambil melompat. “Berjuanglah kawan! Doaku beserta kalian! Aku tak akan lupa masa-masa kita bersama!”

“Roni setaaaan!” Dicky mengacungkan tinju. Roni pun lenyap dari pandangan.

Pak Karim mendatangi dua muridnya yang sudah terjebak, ia tersenyum penuh arti dengan gunting tajam di tangan. “Apa kabar?”

***

Dicky dan Fanny melanjutkan kuliah di sebuah universitas, fakultas ekonomi. Saat penerimaan mahasiswa baru, mata mereka tertuju ke seseorang yang sepertinya tak asing.

“Siapa nama kamu?” bentak Fanny.

“Raihan Karim, Bang,” jawab anak itu gemetaran.

Dicky berbalas pandang dengan Fanny.

“Siapa nama ayahmu? Bekerja di mana?” selidik Dicky lebih lanjut.

Mahasiswa baru bertubuh besar itu menjawab, “Nama ayah saya, Karim, beliau guru di SMA ‘XXX’.”

Fanny dan Dicky tersenyum lebar.

“Apa kabar?” tanya mereka berdua serentak. 

--- 

Pontianak, 2 Juni 2016

Dicky Armando 

Sumber foto; www.youtube.com