The Wizard's Disciple

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Mei 2016
The Wizard's Disciple

Airis Black berjalan perlahan di antara makam-makam tua di Kota Manchester, Inggris. Lampu senter di tangannya—meski terang—tapi tetap saja tak mampu “menerangi” keangkeran tempat tersebut. Arwen Brown mengekor di belakangnya, ketakutan.

“Tuan apa yang kita cari di tempat ini? Bukankah membeli peralatan di toko vodoo sudah cukup?” tanya Arwen.

Airis tidak menjawab, sibuk memperhatikan nama-nama yang tertera di komplek pemakaman itu. Wajah Arwen cemberut, ia tak sabar lagi, ingin pulang.

Mereka berdua semakin jauh memasuki “taman kematian”. Mulut Airis tak henti membaca mantra-mantra dalam bahasa latin, membuat kumisnya naik turun. Sementara Arwen mulutnya rajin memaki sepanjang jalan, ia menyesali perjalanan malam ini.

“Ini dia!” seru Airis, menunjuk pada sebuah batu nisan besar tua paling bontot di pemakaman tersebut.

Arwen memicingkan mata. “Luci? Siapa dia Master?”

Airis duduk di samping nisan bertuliskan nama “Luci” itu. “Dia penyihir pertama di kota ini. Kita akan memanggilnya sekarang. Kau bawa perlengkapan kita ... Brown?”

“Bawa ... tapi ini berbahaya sekali Master! Anda bukan seorang Conjurer!”

“Apa kau pikir seorang Enchanter tak bisa melakukan ‘pemanggilan’? Sudahlah, cepat kita selesaikan!”

Perempuan berumur 26 tahun itu membongkar isi tas-nya dengan ragu-ragu. Berkali-kali ia menarik nafas dalam. Ritual berbahaya yang dilakukan oleh orang gila, begitu pikirnya.

Seorang Enchanter hanya mempelajari kemampuan untuk memanipulasi energi atau elemen alam, sama sekali tak terlatih dalam melakukan perjanjian atau pemanggilan terhadap wujud gaib, hal itu hanya bisa dilakukan oleh seorang Shaman atau Conjurer.

Arwen menyusun beberapa benda sihir seperti belati, batu kristal, darah hewan, daun mentol, dan beberapa perkakas lain di depan makam Luci. Aroma dupa yang dibakar gurunya mulai membuat wanita berambut panjang itu mulai bersin-bersin.

“Selesai,”—Airis menusukkan dupa batangan di atas tanah makam—“minggirlah Brown.”

“Master, apa kau yakin? Ritual ini sangat berpotensi merusak portal gaib yang selama ini stabil,” tanya Arwen, serius.

“Tenang saja.” Airis tersenyum.

Setelah menyuruh murid satu-satunya itu mundur beberapa langkah ke belakang, Airis mulai membaca mantera sambil menuangkan darah hewan ke sekitar batu nisan.

Luci er came ol la nowitz riguut nowatz !” bisik Airis perlahan. Ia membacanya berulang kali.

Di belakangnya, Arwen sedang membuat “lingkaran perlindungan”, membentuk gambar bentuk bulat di antara kaki. “Proto ergio sogule mee.”

Setelah beberapa lama, tak terjadi apa pun, hanya langit semakin gelap, dan udara semakin dingin. Airis membuka matanya sedikit, menengok ke arah nisan, tak ada apa-apa. “Sepertinya kita gagal Brown.”

“Apa kubilang, ini bukan keahlian kita,” Arwen tersenyum penuh kemenangan.

BRUUGHH!

Tubuh Airis hancur, diinjak makhluk besar setinggi 6 meter. Wajahnya seperti komodo, bersisik ular, bertaring, dan mengeluarkan api. Dari lubang hidungnya tampak cahaya kemerahan, tanda api yang siap menyala.

“Aaaaaaacchhhh!” Arwen berteriak. Ia berusaha keluar dari komplek pemakaman, karena jika bisa lolos dari tempat itu, maka monster tersebut akan kehilangan 50 persen kekuatannya. Arwen teringat hasil pelajarannya dari manuskrip tua milik Airis—tentang cara mengalahkan makhluk gaib pendamping.

WUUZZZZZZ!

Api menyambar rok panjang milik Arwen, ia berusaha mengambil belati sihir yang sudah disucikan dengan cahaya bulan. Arwen memang lambat, sang monster berhasil menangkapnya.

Wanita kurus tersebut menggeliat kesakitan, tubuhnya terangkat ke atas, dalam genggaman monster gaib. Ia masih berusaha meraih belati di dalam tas-nya. Dapat!

Makhluk gaib tersebut memutar lengannya, sekarang posisi wajah Arwen berada tepat di hadapan.

ZAAZZHHH! ZAAAZHHH!

Arwen berhasil memotong jari-jari komodo jadi-jadian itu. Berhasil lolos, ia sembunyi dalam semak-semak, dekat kaki si monster.

Makhluk gaib penunggu kuburan itu meraung kesakitan, melontarkan api dari mulutnya ke udara. Saat itulah Arwen langsung menancapkan belati keramat miliknya—tepat ke dada si monster.

ROOAAARRRRR!!

“Mati kau bangsat!” seru Arwen kesal di sela-sela raungan komodo buatan alam gaib itu.

Perlahan wujud binatang yang tak jelas asal-usulnya itu berubah, mengecil, menjadi bentuk manusia. Tapi ... tapi ... berubah sempurna ... Airis! Itu Airis Black!

Airis mendekati Arwen, tapi sang  murid malah berjalan mundur karena ketakutan, tak percaya.

“Arwen Brown, yang tadi itu namanya ujian akhir semester.”

Arwen masih terguncang dengan kejadian tadi. “Lalu?”

“Lalu,”—Airis mengembalikan belati kepada Arwen—“kau lulus, itu saja.”

Arwen memeluk Airis penuh haru. “Thanks Master!”

--- 

Pontianak, 31 Mei 2016

Dicky Armando

Sumber foto: wall.alphacoders.com 

  • view 91