Pentingnya Pelayanan Prima

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Ekonomi
dipublikasikan 26 Mei 2016
Pentingnya Pelayanan Prima

Sebagian pengusaha kecil ada yang belum paham pentingnya pelayanan prima kepada pelanggan. Sebagai contoh, suatu kali saya datang ke toko milik teman, ia menjual barang-barang kebutuhan pokok. Tak jauh dari tempat itu terdapat juga toko yang serupa—tetapi entah mengapa toko teman saya ini kalah jauh jumlah pelanggannya, terlihat dari seringnya tingkat kedatangan.

Penasaran—saya datang ke toko “saingan” tersebut.

“Selamat pagi Mas! Bisa saya bantu?” seru seseorang bermata sipit—yang belakangan saya ketahui sebagai pemilik.

“Oh iya, saya mau beli mi instan, ada?”

“Ada, macam-macam merek. Silakan di sebelah sini Mas!” kata orang tersebut, mengarahkan saya ke sebuah rak. Ia melayani pelanggan secara profesional, seolah-olah tempat tersebut memiliki standar tinggi untuk memenuhi keperluan konsumen.

Sangat berbeda dengan sikap dari teman saya—yang mana ia lebih senang menunggu calon pelanggan berkata: “Ada jual barang ‘X’?” Apalagi dengan wajah datar, konsumen mana yang betah dengan pelayanan seperti itu? Keadaan ini kontras, maka wajar kalah jumlah pelanggan.

Dalam usaha penjualan produk sembilan bahan pokok dan sejenisnya, sudah banyak pesaing, barang yang dijual sama, maka diperlukan “pembeda” sebagai selling point (nilai jual). Pelanggan harus punya alasan kuat—mengapa ia harus datang ke toko kita? Setuju?

Menurut Kotler (dalam Sarfin, 2013) pada dasarnya diferensiasi adalah tindakan merancang satu set perbedaaan yang berarti untuk membedakan penawaran perusahaan dari penawaran pesaing.

Pelayanan prima itu sendiri berfungsi agar pelanggan merasa dihargai, merasa sebagai “raja”, dan dihormati. Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka besar kemungkinan para pelanggan yang telah dilayani akan melakukan pembelian ulang.

Dwi (2015) menjelaskan bahwa pelayanan prima adalah pelayanan sebaik-baiknya kepada pelanggan sehingga dapat menimbulkan rasa puas pada pelanggan.

Setelah berkunjung ke dari toko “saingan”, saya kembali ke toko teman, ia sedang asyik memainkan android di tangannya—sementara saat seorang calon pelanggan datang, hanya dipandangi saja tanpa kata.

Saya memberitahukan pemikiran kepada Adi—teman saya itu—agar lebih baik menerapkan prinsip-prinsip pelayanan dalam rangka meningkatkan pendapatan.

Ia menjawab, “Kau pikir ini perusahaan besar? Tak perlulah seperti itu!”

Saya geleng-geleng kepala saja. Ada yang seperti Adi?

---

Pontianak, 26 Mei 2016

Dicky Armando 

Sumber bacaan: 

Sumber foto: 

  • view 488