Strong Old Man

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Mei 2016
Strong Old Man

Hari jumat beberapa tahun lalu—saya dan Ari menuju ke sebuah masjid di Kota Pontianak. Dalam perjalanan kami berpikir untuk memilih salat di masjid mana.

“Dik ... mending kita ke masjid di Kotabaru, di sana lebih luas,” kata Ari, sembari memainkan kemudi mobil.

“Ah jangan Bro! Di sana ustaz-nya masih muda-muda, ceramahnya pasti panjang,” jawab saya, “lebih baik kita ke mesjid yang pernah kutunjukkan kepadamu, bagaimana?”

Ari berpikir selama beberapa detik, memandangi saya dengan matanya yang tidak indah sama sekali. “Oke aku setuju!”

Sampai di tujuan, kami langsung melakukan wudu, setelahnya melaksanakan salat sunah. Ketika penceramah naik ke atas mimbar, tampak seorang tua—penuh uban, berjenggot panjang, langkahnya gemetaran. Dalam hati, saya berkata pasti ceramahnya sebentar saja. Ari memandangi saya, tersenyum.

Sebagai dua insan yang iman-nya masih setengah-setengah—saya dan Ari memang mendambakan ceramah yang padat dan efisien daripada ceramah panjang, tapi kami menyadari bahwa “praktis” itu tidak selalu bagus.

Setengah jam berlalu, sang ustaz masih bersemangat ceramah di atas mimbar. Saya lihat si Ari sudah berlayar ke negeri mimpi, ia bersandar di dinding.

Akhirnya saat yang ditunggu tiba juga: ikamah. Saya membangunkan Ari, agar segera mengulang wudu di luar.

***

Saat perjalanan pulang ke kantor Ari protes kepada saya, “Siapa bilang orang tua tidak kuat ceramah? Sampai tidur aku! Lain kali kita ke masjid dekat kantor sajalah!”

“Iya ... iya.” Saya menggaruk kepala.

“Jadi ... kita makan dulu?” tanya Ari. Sepertinya ia melakukan perjalanan jauh dari negeri mimpi, sehingga kelaparan.

“Boleh.”

“Kita harus makan, karena kita adalah pemuda kuat yang penuh energi untuk melakukan aktivitas berat! Kau tahu itu Dik?” Entah kenapa Ari tiba-tiba jadi doyan berceramah.

“Sudahlah! Ayo cepat kita makan!” seru saya.

Tak lama, dari jendela mobil—kami melihat seseorang, sudah tua renta, membawa beberapa balok kayu di bahunya. Ia melewati mobil sambil tersenyum. Saya dan Ari membalasa senyum ramah itu. Kemudian sosoknya hilang ditelan kemacetan jalan.

“Ri ... kau sekuat itu? Bukankah kau banyak makan?” tanya saya.

Ari melonggarkan dasi di lehernya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan masih memegang kemudi mobil. “Eh ... aku kasi tahu ya, dia itu adalah superhero yang menyamar. Kau tidak lihat di balik kemejanya tadi? Kaos biru bukan?”

“Jadi maksudmu dia itu Superman?”

“Bodoh sekali kau! Bukan! Dia itu Captain America!” jawab Ari meyakinkan dengan nada tegas.

Sekarang saya yakin, perjalanan Ari di negeri mimpi sudah membawanya dalam kesesatan yang sangat jauh.

***

Jam kantor selesai. Saya dan Ari tidak langsung pulang ke rumah masing-masing—melainkan kongko di warung kopi di sebelah kantor. Tak jauh dari tempat duduk kami, tampak seorang tua—sedang menyapu jalan. Ia mengeluarkan sebatang rokok, tapi kemudian bingung, karena tak punya korek api. Lelaki tersebut melihat Ari sedang menikmati rokok, lantas mendatangi kami.

“Boleh pinjam korek api-nya De’?” tanya orang tua itu ramah.

“Silakan,”—Ari mengambil korek api berlapis besi dari kantongnya—“ini Pak!”

Pria berkulit hitam tersebut membakar rokoknya, dan mengembalikan korek api kepada Ari. “Terima kasih ya De’!”

“Sama-sama Pak,”—Ari menyimpan kembali korek api itu ke dalam saku celananya—“sudah lama kerja seperti ini Pak?”

“Sudah dua puluh tahun.” Pria tua itu tersenyum.

“Dari jam berapa Pak?” selidik saya.

“Mulai subuh sampai magrib.”

“Waaaahh! Kuat sekali ... jangan-jangan Bapak ini Superman ya?” tanya Ari sembarangan dan tak tahu etika.

“Benar De’ ... nama saya Suparman! Saya permisi dulu ya, terima kasih.”

Saya menyadari bahwa pikiran rekan kerja di sebelah saya sudah lama terganggu sejak lama, dan bapak tua itu telinganya mulai ada gejala gangguan, tapi saya berharap dia sehat selalu serta dirahmati oleh Tuhan YME.

---

Pontianak, 20 Mei 2016

Dicky Armando 

Sumber foto: www.bestwallpapers-hd.com 

  • view 68