Ketika "Melamar" Menjadi Ukuran Keberanian yang Tanpa Alasan

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 19 Mei 2016
Ketika

Beberapa hari belakangan saya sering mendengar kalimat: “Laki-laki jantan itu yang berani melamar pujaan hatinya, yang tidak berani berarti pengecut.” Kurang lebih begitulah intinya. Entah dari mana pemahaman itu berasal.

Mari kita lihat dulu definisi “lamar” menurut KBBI:

  • Lamar/melamar: meminta wanita untuk dijadikan istri (bagi diri sendiri atau orang lain), meminang, meminta pekerjaan (di kantor dan sebagainya).
  • Melamarkan: meminangkan, menawarkan diri supaya diterima bekerja
  • Lamaran: pinangan, permintaan untuk meminang, permintaan pekerjaan.
  • Pelamar: orang yang melamar.

Lalu definisi dari “berani” menurut KBBI:

  • Berani: mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dan sebagainya, tidak takut (gentar, kecut).
  • Berani-berani: asal berani, berani yang tidak beralasan.
  • Berberani-berani: mencoba berlaku atau bertindak berani.
  • Memberanikan: membuat supaya berani, memaksa diri agar berani.
  • Terberanikan: tergugah sehingga berani.
  • Pemberani: orang yang sangat berani, yang mempunyai sifat berani.
  • Keberanian: keadaan berani, kegagahan.

Menyangkut pernyataan di atas tentang “laki-laki jantan” itu—menurut saya merupakan pernyataan yang tidak adil bagi semua kaum adam. Mengapa? Karena baik “melamar” dan “menikah” itu bukan hal main-main, pun bukan perkara adu nyali. Semua perlu persiapan, baik mental maupun finansial. Jadi kalau kita simak baik-baik pernyataan: “Laki-laki jantan itu yang berani melamar pujaan hatinya, yang tidak berani berarti pengecut.” Lebih mirip dengan tantangan yang tak beralasan. Maka jika berdasarkan definisi “berani” menurut KBBI—lebih tepat disebut “berani-berani” (asal berani, berani yang tidak beralasan) daripada “berani”.

Saya kemudian berpikir, berarti ada di negara ini sebagian perempuan yang mau dilamar dan menikah dengan pria yang belum siap lahir batin, seandainya ada—saya benar-benar terharu, karena mereka adalah wanita “pemberani”.

Lihat data berikut:

  • Tahun 2009. Pernikahan sebanyak 2.162.268 kejadian. Cerai sebanyak 216.286 kejadian.
  • Tahun 2010. Pernikahan sebanyak 2.207.364 kejadian. Cerai sebanyak 285. 184 kejadian.
  • Tahun 2011. Pernikahan sebanyak 2.319.821 kejadian. Cerai sebanyak 258.119 kejadian.
  • Tahun 2012. Pernikahan sebanyak 2.291.265 kejadian. Cerai sebanyak 372.577 kejadian.
  • Tahun 2013. Pernikahan sebanyak 2.218.130 kejadian. Cerai sebanyak 324.527 kejadian.
  • Tahun 2014 perceraian mencapai angka 382.231 kejadian

Menariknya, coba tebak siapa yang paling banyak mengajukan perceraian? Ya! Anda benar! 70 (tujuh puluh) persen penggugat cerai adalah pihak perempuan, mungkin mereka satu di antara yang sering mengucapkan: “Laki-laki jantan itu yang berani melamar pujaan hatinya, yang tidak berani berarti pengecut.” Sekali lagi, saya katakan “mungkin”, bisa jadi benar, bisa jadi tidak.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar mengatakah dalam sebuah seminar bahwa kebanyakan perceraian terjadi di usia rumah tangga muda, yakni di bawah 5 (lima) tahun.

Dr. Sudibyo Alimoeso juga menjelaskan—perceraian di Indonesia adalah angka tertinggi se-Asia Pasifik.

Akibat perceraian juga berimbas kepada anak-anak mereka. Peneliti dari Stockholm University mengungkapkan remaja yang menyaksikan kedua orang tuanya bercerai lebih berpotensi mengalami masalah kesehatan.

Apakah hal-hal negatif itu yang wanita inginkan? Saya rasa tidak. Semua perempuan ingin merasa aman dan nyaman bersama pasangan. Tidak perlu-lah kaya, minimal untuk makan sehari-hari cukup.

Laki-laki punya tanggung jawab berat kepada pasangannya, oleh karena itu tidak sepantasnya hanya modal niat serta nyali tinggi untuk melamar sang pujaan hati. Kurang lebih faktor-faktor yang harus dipersiapkan pria sebelum menghadapi proses menuju pernikahan, yaitu:

  • Mental
  • Finansial
  • Persetujuan calon mertua
  • Sandang, pangan, papan.

Hal-hal tersebut tidak semudah kelihatannya, perlu perjuangan, syukur-syukur pasangannya bisa mengerti, kalau tidak bisa perceraian akibatnya. Lagi pula, apa ada calon mertua—bersedia “melepas” putrinya kepada seseorang yang tanpa persiapan?

Kurang jelas? Begini saja supaya lebih jelas. Saya punya teman—namanya Ari (nama samaran), umur 27 tahun, wajah biasa saja (tidak jelek, tidak juga tampan), belum punya rumah, belum bekerja (kerja serabutan, baru resign dari pekerjaan lamanya), belum bisa mengontrak rumah, makan untuk diri sendiri masih sulit, belum ada tabungan, kendaraan masih pinjam milik orang tuanya, terakhir kali saya bertemu—dia mengatakan: “Aku sebenarnya siap menikah.”

Bagi perempuan yang siap menikah dengan Ari, hubungi saya, nanti diperkenalkan kepadanya, semoga yang bersangkutan belum berubah pikiran. 

---

Pontianak, 19 Mei 2016

Dicky Armando 

Sumber bacaan: 

  • “Angka Perceraian di Indonesia Tertinggi di Asia-Pasifik.” n. p, 2013. Web. 19 Mei 2016. http://bkkbn.go.id 
  • Baiquni. “Angka Percerian di Indonesia Meningkat 80 Persen.” n. p, 2016. Web. 19 Mei 2016. http://dream.co.id 

  • “Kasus Perceraian Meningkat, 70 Persen Diajukan Istri.” n. p, 2015. Web. 19 Mei 2016. http://health.kompas.com 

  • Munady. “Angka Perceraian di Indonesia Sangat Fantastis.” n. p, 2015. Web. 19 Mei 2016. http://pikiran-rakyat.com 

Sumber foto: theme4cellphone.blogspot.com 


  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Kayanye masih terus berlanjut nih.. wakakaka

    • Lihat 21 Respon