Pacaran Hanya Konsep, Bukan Komponen Zina

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 18 Mei 2016
Pacaran Hanya Konsep, Bukan Komponen Zina

Menarik saat menyimak sebuah karya grafis dari seorang saudari—namanya “F”—di Inspirasi(dot)co, yang berjudul “Menu Pacaran”. Menggelitik dan membuat mata saya “segar”.

Sepertinya saudari ini seorang muslim konservatif, dan hal tersebut adalah hal yang membanggakan buat saya pribadi. Mengapa? Karena di zaman “edan” seperti sekarang—tidak banyak perempuan muslim yang berusaha untuk tetap berpegang teguh pada “kemurnian”. Semoga Sang Penguasa Alam memberikan berkat kepadanya.

Saya juga seorang muslim, lebih tepatnya seseorang yang sedang mempelajari Islam lebih dalam, boleh dibilang—sementara ini saya memilih berpikir secara liberal, tapi tidak ada hubungannya dengan jaringan Islam mana pun atau organisasi apa pun. Tulisan ini murni dari kepala dan hati saya sendiri.

Kali ini tidak akan ada kutipan ayat dari kitab suci, hadis, dan pendapat para ulama, karena saya khawatir salah dalam mengartikannya. Maklum ... ilmu agama saya masih sangat dangkal.

Adapun tentang menu pacaran yang “disajikan” pada karya saudari F itu seperti ini:

  • Sms-an = zina tangan.
  • Teleponan = zina kuping .
  • Boncengan = ikhtilat.
  • Berduaan = khalwat.
  • Mengkhayal = zina hati.
  • Memandang = zina mata.
  • Gombal-gombalan = zina mulut.
  • Pegang-pegangan = zina tangan.
  • Hubungan badan = komplit.

Pada kolom komentar postingan saudari F, saya menulis: Kalau saya tidak salah “tangkap”, di situ tertulis: “Sms-an = zina tangan”. Jadi kalau misalnya sms pacar seperti ini: “Sudah zuhur, jangan lupa salat!” Masuk kategori zina tangan donk ya? Abaikan saja komentar ini mungkin otak saya memang tidak sampai.

Dia menjawab: Ya kak dicky betul banget, saya paham permisalan kaka dan itu memang benar adanya, disisi lain kita bisa lihat klo pacaran itu tidak ada dalam islam alias haram, sedangkan sholat adalah suatu kewjiban , nah mengingatkan sholat ke pacar sama halnya dengan mengkolaborasikan yg baik dan yg buruk secara bersamaan , nah lagi2 itu ngak dibenarkan dalam islam.

Kalimat jawaban saudari F tersebut saya salin tanpa mengubah apa pun. Ketika membacanya, saya berpikir bahwa benar juga yang dia katakan: “Mengolaborasikan yang baik dan yang buruk secara bersamaan.” Eits ... bukankah hal tersebut sama dengan memakai jilbab plus pakaian ketat seperti milik Captain America? Tentunya hal itu juga harus dikritisi jika memang pacaran pun menjadi masalah. Is it right?

Kembali lagi ... coba kita selisik tentang definisi pacar. KBBI mengartikannya menjadi 4 (empat), yaitu:

  • Pacar: teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih.
  • Berpacaran: bercintaan, berkasih-kasihan.
  • Memacari: menjadikan sebagai pacar.
  • Pacaran: berpacaran

Definisi pacaran versi saya adalah saling mengasihi antara dua insan yang berbeda jenis kelamin.

Pertanyaannya kemudian: “Apa yang salah dari saling mengasihi?”

Jadi sebenarnya, pacaran merupakan sebuah konsep sekaligus komitmen untuk saling mengasihi, dan tidak berhubungan kasih sayang selain dengan orang yang diajak membuat komitmen beserta keluarga.

Ini yang saya bilang tentang salah pemahaman tentang pacaran, yang mana ia hanyalah sebuah konsep. Mengenai “meraba-raba”, “colek-colek”, dan sebagainya itu adalah perkara teknis. Bukan “pacaran-nya” yang salah—melainkan oknum pelaku.

Muncul pertanyaan lagi: “Bukankah setiap pelaku pacaran selalu ‘meraba-raba’?”

Saya tidak berani menjawab pertanyaan ini, karena tidak punya data yang akurat, maksudnya hasil survey. Tetapi kembali lagi, pada akhirnya bukan konsep masalahnya, tapi oknum pelaku—yang mana hati dan pikiran setiap orang berbeda, menyesuaikan kondisi. Jika pelaku punya otak mesum, jelas akan rusak nilai dari pacaran itu sendiri. Coba pikirkan lagi, apakah “konsep” letak masalahnya?

Sebagian orang berkata: “Ada metode yang lebih aman dan ‘halal’ daripada pacaran.”

Pernyataan tersebut saya balik: “Siapa yang berani menjamin metode selain pacaran membuat pelakunya terhindar dari maksiat lainnya? Memangnya maksiat hanya zina?”

Ada pertanyaan lagi: “Bukankah pacaran lebih berpotensi membuat pelakunya berbuat maksiat?”

Sebelum menjawabnya, saya akan bertanya terlebih dahulu: “Apakah orang yang menggunakan metode selain pacaran dalam berkomitmen dan berkasih sayang tidak punya potensi bermaksiat di luar sana?”

Saya pikir sudah saatnya kita tidak menyalahkan sebuah konsep, tapi lebih fokus pada sikap yang menjalankan konsep tersebut (oknum). Hati sulit ditebak, pikiran selalu berubah, begitulah manusia.

Pertanyaan yang muncul berkutnya: “Memangnya ada orang yang pacaran tanpa maksiat?”

Pertanyaannya diputar lagi: “Memangnya anda punya data valid dan berani memastikan bahwa tidak ada satu pun orang yang pacaran tanpa maksiat?”

Di negara ini kita punya saudara/saudari lain yang berbeda keyakinan. Kebenaran untuk sebagian orang, bisa jadi bukan hal ideal bagi separuh lainnya. Pendekatan dakwah yang kurang tepat akan menghilangkan nilai dari Islam itu sendiri. Bagaimana caranya orang lain yang berbeda keyakinan di negara ini bisa kagum terhadap Islam, jika kita seolah-olah memaksakan paham tersebut kepada mereka?

Dalam sebuah program televisi—The Story of God—yang ditayangkan di National Geographic Channel, Morgan Freeman mewawancarai seorang mantan pemimpin organisasi Islam garis keras di Mesir, ia mengabdi selama 13 (tiga belas) tahun di sana. Orang tersebut sekarang menetap di Inggris, pada kesempatan itu Morgan Freeman mendapatkan keterangan darinya bahwa Islam sebagai agama sama sekali berbeda posisinya dengan pendekatan yang memaksakan paham-paham tertentu.

Pacaran memang tidak ada di dalam ajaran Islam, saya setuju, hal tersebut sangat jelas. Namun berkomitmen dan berkasih sayang bukanlah hal terlarang, yang dilarang adalah perbuatan zina.

Saya mengerti bahwa apa yang disampaikan saudara/saudari atau ikhwan/akhwat itu adalah sebagai pengingat, agar kita menjaga diri dengan baik  dan tidak jatuh dalam jurang kenistaan. Saya juga seorang muslim, tidak bisa menutup mata pun pura-pura tuli dengan apa yang mereka sampaikan, karena tentu saja ada kebenaran-kebenaran di dalamnya. Semoga kita semua terjaga lisan dan tingkah laku—agar selamat dunia dan akhirat.

---

Pontianak, 18 Mei 2016 

Dicky Armando 

 


  • Fina Kamiliah
    Fina Kamiliah
    1 tahun yang lalu.
    cool statement kak dicky,,,'zina= oknum pelaku pacaran penyimpangan konsep.
    asyiik banget apalagi yang ini 'pacaran konsep

  • Bina Raharja
    Bina Raharja
    1 tahun yang lalu.
    tempelin cap jempol dulu ya Kakaaa ^ ^

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    ahaayyy~~~ saya nitip jejak dulu...

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Hahahahaha..., sepemikiran bro.. sayangnye gue bukan penulis yang doyan baca.. jadi males nulis opini gue tentang postingan yg ente maksud... makanye gue komentar tentang sisi grafisnya.. Karena postingan tersebut ada di konten Grafis.
    Dan yang gue komentari adalah isi menunya dengan gambar Menu, padahal gak nyambung isi menu dengan gambar menu tersebut... hehehe
    .
    .
    Ini yang saya bilang tentang salah pemahaman tentang pacaran, yang mana ia hanyalah sebuah konsep. Mengenai ?meraba-raba?, ?colek-colek?, dan sebagainya itu adalah perkara teknis. Bukan ?pacaran-nya? yang salah?melainkan oknum pelaku.
    .
    Komentar : Bukan Perkara teknis tapi itu BUMBU berpacaran wakakakak...

    • Lihat 7 Respon

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Gurih, Dan semoga saja banyak yang, jungkir balik geregetan, mau bikin tandingannya, salamlemahbotolsaustomat

    • Lihat 4 Respon