Justice: The Resurrection

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Mei 2016
Justice: The Resurrection

Letnan Kevin Lecht dipanggil ke markas besar pasukan keamanan kota. Kolonel Sherlock Home ingin membahasa penanganan kasus pemerkosaan remaja berumur 14 tahun di sebuah kuburan tua—dekat Water Village.

“Kasus pemerkosaan sepertinya sedang marak, sayang sekali kita tak bisa menanyakan informasi pada pelaku yang menyerang Linda Lemsey beberapa hari yang lalu,” ujar Kolonel Sherlock.

“Ya, kita terlambat selangkah dari ‘The Ghost’ ... tapi kali ini tak akan terulang lagi. Kepala pasukan keamanan Water Village sudah meminta bantuan kepada divisi kami,” kata Letnan Kevin.

Kolonel Sherlock mengangguk pelan—sembari menggoyangkan kursinya, ia memandangi langit-langit kantor yang berwarna kuning pucat. Di seberang meja—Letnan Kevin duduk, wajahnya tegang.

“Siapa yang kau kirim ke sana?” tanya Kolonel Sherlock.

“Sersan Bruce Wine.”

“Oh dia? Aku sudah membaca catatan tentangnya, tidak ada satu pun petugas keamanan di Epson City yang punya rekor keberhasilan menutup kasus setinggi dia, seratus persen sukses! Menurutku ada yang aneh tentangnya.”

“Maksud anda?” Letnan Kevin memajukan tempat duduknya lebih dekat ke meja kayu berwarna coklat yang terlihat mahal di depannya.

“Semua pelaku mati sebelum menyentuh penjara. Apa kau tidak menyadarinya?”

“Tapi, kasus-kasus sebelumnya para pelaku memang sudah mati sebelum ia menemukannya! Saya pikir itu kebetulan, membunuh penjahat hanya diperbolehkan saat mendesak saja. Bruce Wine sangat paham aturan itu ... Kolonel!” Letnan Kevin membela bawahan kesayangannya.

“Itu maksudku ... ‘kebetulan’ yang terlalu sering.”

Letnan Kevin Lecht dan Kolonel Sherlock Home saling adu pandang tanpa kata.

***

Water Village terletak 70 km jauhnya dari Epson City, tempatnya termasuk aman selama 20 tahun belakangan—sampai terjadinya kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang terjadi di sana.

Sebanyak 200 orang petugas keamanan ditugaskan di Water Village, mengingat lokasinya tidak terlalu besar, namun mereka kali ini harus meminta bantuan penyelidik berpengalaman untuk membongkar kasus yang terjadi. Hampir tidak ada petunjuk kecuali tubuh Riana Wisdom—tanpa nyawa—terbaring di antara kuburan tua.

Sersan Bruce sampai di desa tersebut ketika hari sudah malam, disambut oleh kepala pasukan keamanan Water Village—Mayor Roman Black. Pria berkulit hitam dengan rambut keriting itu menawarkan Sersan Bruce untuk menginap di wisma khusus tamu dari luar daerah, tapi Sersan Bruce menolak, ia lebih memilih langsung beranjak ke lokasi kejadian perkara, anak buah Letnan Kevin Lecht ini memang tak pernah buang-buang waktu.

Mayor Roman mengantar Sersan Bruce dengan sebuah mobil hitam berlambang pasukan keamanan negara Kwaad pada pintunya. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, Sersan Bruce menyadari betapa kejahatan mudah sekali dilakukan di tempat tersebut, rumah yang masih jarang, banyak hutan di kanan kiri jalan, dan sangat gelap. Pembangunan tidak merata.

Sampai di lokasi, Sersan Bruce sudah melihat pembatas berwarna kuning yang dibuat oleh jajaran pasukan keamanan Water Village, di tengahnya terdapat gambar bekas posisi terbaringnya tubuh Riana Wisdom—terbuat dari cat semprot berwarna putih.

“Jadi di sini? Mayor?”

“Tepat di sini kami menemukannya,” jawab Mayor Roman, “tapi tak ada petunjuk lagi. Kala itu hujan, harusnya ada jejak kaki, entah bagaimana pelaku bisa menghapus jejaknya.”

Sersan Bruce memperhatikan tanah di sekeliling kuburan, memang tak ada jejak, ia cukup merinding berada di antara ratusan makam tua yang dibuat dengan semen itu.

“Apa kau percaya hantu?” tanya Mayor Roman.

“Hmm,”—Sersan Bruce masih asyik menyinari sekitar dengan lampu senter di tangannya—“aku percaya, tapi hantu tidak memperkosa bukan?”

Mayor Roman tertawa kecil. “Benar juga.”

Mata Sersan Bruce tertuju pada suatu bangunan di ujung lokasi kuburan. “Bangunan apa itu Mayor?”

“Itu hanya gudang kosong, tak ada isinya, aku sudah memeriksanya kemarin.”

“Anda yakin tidak melewatkan apa pun?”

Tanpa menunggu jawaban dari Mayor Roman, ia segera bergerak menuju bangunan tersebut. Gudang yang dimaksud bersebelahan tepat dengan kuburan terakhir di bagian kanan komplek pemakaman.

Sersan Bruce segera mencari-cari sesuatu di tanah, dan ia mendapatkannya.

Got you!” kata Sersan Bruce. Sepasang jejak tanpa sepatu tercetak jelas di depan pintu gudang. “Pintar sekali, siapa pun tak akan menyangka kau turun di sini.”

Mayor Roman terheran-heran, ia melewatkan bukti yang jelas-jelas di depan mata pada hari kemarin.

***

Pada suatu siang—rumah keluarga Wisdom diketuk oleh seseorang—mengenakan jubah panjang warna coklat dan topi koboi.

Ketika pintu dibuka, seorang wanita tua muncul, rambutnya sudah putih semua—namun masih tampak anggun. Ibu dari Riana Wisdom itu tidak mengenal siapa orang di hadapannya.

“Permisi, benar anda Martha Wisdom?”

“Benar, anda siapa?”

“Maaf,”—lelaki kurus tinggi tersebut membuka topinya—“nama saya Bruce Wine, penyelidik dari Epson City, diutus untuk membantu menyelesaikan kasus yang menimpa putri anda.”

“Oh ya, Mayor Roman sudah memberitahuku, silakan masuk.”

Selagi Martha Wisdom menyiapkan teh untuknya, Sersan Bruce melihat-lihat foto keluarga yang terpampang di dinding ruang tamu. Ia memperhatikan beberapa foto Riana Wisdom bersama beberapa rekannya pada suatu pigura kecil di sudut ruangan.

“Silakan duduk, ini teh-nya,” kata Martha.

Sersan Bruce menoleh. “Baik, terima kasih.”

Martha duduk di samping Sersan Bruce. “Apa yang ingin anda ketahui Letnan?”

“Uhuukk!”—Sersan Bruce tersedak—“maaf, pangkat saya belum setinggi itu, saya masih sersan.”

“Maafkan aku.” Martha menutup wajahnya, malu.

“Tak apa.” Sersan Bruce tersenyum, sebenarnya ia juga malu. “Maaf Bu, kalau boleh tahu, siapakah dua orang yang bersama Riana di foto itu?”

Wanita tua itu beranjak dari tempat duduknya, dan menurunkan foto yang dimaksud dari dinding. “Maksud anda foto ini?”

“Benar, siapa mereka?”

“Yang ini namanya Frans Potter,”—jari Martha menunjuk pada sebuah foto lelaki berambut pirang—“dia guru musik Riana.”

“Kalau yang bertubuh langsing itu siapa?” selidik Sersan Bruce, memperhatikan baik-baik wajah lelaki di foto.

“Dia pelatih atletik Riana, namanya Paul Balder. Hanya mereka berdua orang terdekat anakku, Riana adalah orang yang tertutup, dan tak banyak memiliki kawan.” Martha menitikkan air mata.

“Apakah mereka dua orang terakhir yang ditemui Riana?” tanya Sersan Bruce datar, berusaha agar emosi apa pun tak menguasai dirinya.

Martha menyeka air mata. “Ya, mereka punya jadwal hari itu.”

“Baiklah, maaf mengganggu waktu anda. Saya tidak bermaksud membuka kesedihan,” kata Sersan Bruce prihatin.

“Tentu saja tidak, aku berterima kasih masih ada yang peduli dengan Riana, meski ia sudah tak ada.” Air mata Martha Wisdom kembali mengalir.

“Sampai jumpa.” Sersan Bruce segera meninggalkan kediaman keluarga Wisdom, tak tahan harus melihat kesedihan orang lain, rasa simpati-nya terlalu tinggi.

***

“Aku berhenti di sini saja,” kata Sersan Bruce.

“Kau yakin? Nanti anak buaku akan menjemputmu.”

“Tak perlu Mayor Roman, anda baik sekali. Saya pulang jalan kaki saja, sepertinya penyelidikan di sini agak lama.”

“Baiklah, hati-hati.” Mayor Roman menyalami Sersan Bruce.

Setelah mobil Mayor Roman agak jauh, Sersan Bruce menyeberangi jalan, menuju ke sebuah studio musik kecil. Bangunan-nya berwarna putih dengan kaca gelap, suara piano terdengan sayup-sayup, tidak kedap suara.

TOK TOK TOK!

Sersan Bruce mengetuk pintu studio. Ia memperhatikan sekelilingnya, lalu menyisir rambut.

“Tunggu sebentar,” seru suara dari dalam.

Akhirnya pintu dibuka, Sersan Bruce memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuannya. Frans Potter—pelatih sekaligus pemilik studio mempersilakan tamunya itu masuk untuk melihat-lihat keadaan studionya.

“Ini alat musik kesukaaan Riana.” Frans menunjukkan sebuah biola. “Anak itu tangannya sangat kuat, sehingga dapat memainkannya dengan sempurna.”

“Hmm,”—Sersan Bruce membolak-balik alat musik gesek tersebut—“kau tahu sesuatu tentang kasus anak didikmu?”

“Beberapa jam sebelum kejadian, ia baru pulang dari sini, tidak ada yang mencurigakan. Riana datang seperti biasa,” jawab Frans.

“Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?” Sersan Bruce meletakkan biola di atas sebuah piano, kemudian melihat-lihat ke luar jendela.

“Sebelum pulang ia mengatakan bahwa akan melakukan sesuatu yang luar biasa, itu saja.”

Sersan Bruce memandang heran ke wajah Frans.

“Hei apakah kau mencurigaiku?” tanya Frans.

“Curiga adalah tugasku, jangan tersinggung,” jawan Sersan Bruce, datar.

Frans Potter diam, ia merasa tidak nyaman dengan sikap Sersan Bruce.

“Tuan Potter, saya ingin tahu, apakah seorang pemain musik handal seperti anda mampu melakukan loncatan dari tangga setinggi lima meter ke anak tangga yang paling bawah?”

“Pertanyaan macam apa itu?” Frans berdiri, menjauh, mengambil sebuah gitar. “Ini keahlianku!”

“Baik, terima kasih atas waktunya!” Sersan Bruce pamit kepada si pemilik studio. Agak jauh dari tempat tersebut, ia menelepon Letnan Kevin Lecht, agar data pribadi Frans Potter diselidiki dan dikirim ke email-nya.

***

“Hei Bruce ... ini data yang kau minta, milik Frans Potter dan Paul Balder. Aku sudah membacanya. Frans Potter mantan guru matematika, Paul Balder mantan pemain sirkus dari Epson City. Aku rasa mereka tak membahayakan, setidaknya selama berada di Water Village,” jelas Mayor Roman, menyerahkan sebuah berkas kepada Sersan Bruce.

“Ah ... terima kasih Mayor, maaf merepotkan. Hari ini saya akan pergi ke tempat latihan Paul Balder.”

“Apakah kau mencurigainya?”

“Tugasku adalah curiga ... Mayor. Oh ya, apakah tubuh Riana Wisdom masih diautopsi?”

“Masih, kenapa?”

“Tolong periksa sesuatu, periksa apa saja yang tersangkut di kuku tangan Riana. Kudengar tangannya cukup kuat saat menggenggam biola.”

Lagi-lagi Mayor Roman Black merasa bingung dengan cara investigasi yang tidak biasa ini.

***

Seorang pria langsing sedang melakukan pull-up di antara dua buah tiang kayu yang bagian atasnya tersambung sebatang besi bulat. Tepat pada hitungan ke-35 ia berhenti. Sementara Sersan Bruce sudah menunggu di belakangnya.

“Anda hebat sekali, tiga puluh lima, saya hanya bisa dua puluh dua,” kata Sersan Bruce.

Pria tersebut membalik badannya. “Terima kasih, siapa anda?”

“Nama saya Sersan Bruce Wine, penyelidik dari Epson City. Maaf mengganggu anda Tuan Balder.”

Paul Balder bercekak pinggang. “Apakah tentang Riana? Apa yang bisa kubantu?”

“Aku hanya ingin tahu kegiatannya selama di sini, apa saja yang ia pelajari?”

Mantan pelatih Riana itu menunjukkan sesuatu kepada Sersan Bruce. Di bagian belakang bangunan gimnasium, tergeletak beberapa kotak—terbuat dari kayu dengan ukuran berbeda.

“Untuk apa itu?”

“Aku dan Riana menyebutnya latihan meringankan tubuh. Meloncat dari satu kotak ke kotak lainnya tanpa jatuh. Riana terobsesi dengan acara televisi yang pemerannya bisa meloncat ringan tanpa halangan,” jawab Paul, “ini metode kuno.”

“Aku mengerti,”—Sersan Bruce melepas topi dan menggaruk kepala—“aku pun pernah menjalani latihan seperti ini, sangat berguna.”

“Benarkah?”

“Hampir di setiap misi,”—Sersan Bruce tersenyum—“bisakah anda menunjukkan padaku caranya?”

Pria berwajah tampan itu diam sebentar. “Baiklah, sekali ini saja.”

Sersan Bruce memperhatikan gerakan Paul yang meloncar dari satu kotak kayu ke kotak lainnya—tanpa kesulitan sedikit pun, bahkan bisa menggunakan dinding di samping kotak sebagai bantuan dorongan kekuatan loncatannya, diakhiri dengan memanjat sebuah tiang kayu setinggi 2 meter.

“Luar biasa!” Sersan Bruce bertepuk tangan. Paul menundukkan badannya—tanda terima kasih.

“Apakah ada lagi yang ingin kau ketahui?” tanya Paul.

“Jam berapa Riana latihan?”

“Setiap jam empat sore.”

“Ke mana anda pada saat itu?”

Paul menyeka keringat di leher. “Aku baru datang, kehujanan, tapi Riana tak datang. Beberapa jam kemudian baru aku tahu ia sudah meninggal.”

Sersan Bruce menulis sesuatu pada selembar kertas. “Ada saksi?”

“Dia.” Paul menunjuk kepada seorang petugas kebersihan di gimnasium tersebut. “Namanya Roy Mustdie.”

“Apakah anda tidak keberatan saya bicara padanya?”

“Dia milikmu!” Paul tersenyum ramah, lalu melanjutkan latihannya.

Roy Mustdie seorang pemuda berambut hitam, wajahnya terdapat bekas luka benda tajam, di bagian pipi.

“Tuan Mustdie, bisa bicara sebentar?”

Roy Mustdie menghentikan kegiatan pembersihan lantainya. “Ada apa?”

“Nama saya—“

“Aku sudah tahu, apa yang ingin kau tahu?” tanya Roy, memotong kalimat Sersan Bruce.

Mulut Sersan Bruce masih dalam kondisi terbuka, bengong. “Baik, apakah anda tahu di mana keberadaan Paul Balder pada jam empat sore, di hari kematian Riana Wisdom?”

“Dia ada di sini, kuyup, dan berlumpur.” Roy menggoyangkan topi biru-nya.

“Lumpur? Apakah ia memakai sepatu?”

“Pakai, itu sepatunya, masih penuh lumpur.” Pemuda berwajah seram itu menunjuk ke arah tempat penyimpanan sepatu.

“Oke, terima kasih atas kerja sama-nya!”

Kemudian Sersan Bruce pamit kepada Paul Balder dan Roy Mustdie. Selesai latihan, Paul kebingungan, ia menghampiri Roy.

“Roy ... apakah kau melihat sepatuku?”

“Tidak Tuan ... tadi masih ada di tempatnya, banyak sekali orang tadi di sini, aku tak memperhatikan.”

Paul melihat-lihat di sekitar tempat penyimpanan sepatu, ada bekas telapak kaki orang berdiri tepat di depan tempat sepatunya tadi berada.

***

Mayor Roman Black mendapatkan hasil pemeriksaan laboratorium divisi kriminal Water Village. Hasilnya identik dengan laporan Sersan Bruce yang sebenarnya masih berupa hipotesis. Ia langsung mengerahkan 30 orang mengepung rumah tersangka, tapi sayangnya tempat tersebut sudah kosong.

Mayor Roman memerintahkan agar pasukan di perbatasan Water Village menutup semua akses masuk dan keluar ke desa itu.

Selama 1 jam, banyak pasukan dikerahkan menyisir desa. Paul Balder ditemukan tergeletak di samping mobil jip-nya—dengan satu kaki putus—tapi masih hidup. Saksi mata—Rick Hammer, seorang petani lokal mengatakan bahwa mobil Paul diserang seseorang tak dikenal—menggunakan topeng berwarna hitam, dan membawa pedang panjang.

“Dia berteriak ‘aku akan membuatmu tak bisa meloncat lagi’ sembari mengibaskan pedang,” jelas Rick kepada Mayor Roman Black.

***

“Analisismu sangat akurat, dia sudah mengaku, bagaimana caranya kau mengetahui Paul Balder pelakunya?” tanya Letnan Kevin Lecht kepada Sersan Bruce Wine.

“Siapa lagi yang bisa meloncati kuburan-kuburan itu dengan sempurna? Petugas di sana sibuk memeriksa tanah, tapi lupa memeriksa permukaan kuburan yang kebanyakan punya permukaan datar dan cukup tinggi dari tanah.”

“Bukti apalagi yang kau pikirkan saat itu?”

“Luka di punggung Paul, itu bekas cakaran. Saat berlatih ia tak menggunakan pakaian, dan aku tahu tangan Riana cukup kuat untuk menggores siapa saja.” Sersan Bruce menatap wajah Letnan Kevin untuk beberapa saat, lalu mengalihkannya ke arah lain.

“Kau dan Mayor Roman cukup beruntung mendapat pertolongan dari ‘setan’ ketika Paul akan kabur ke perbatasan, kebetulan sekali!”

“Sepertinya ‘The Ghost’ tertarik dengan pelaku pemerkosaan ... Letnan.” Sersan Bruce sekali lagi memandangi wajah atasannya itu. “Apa maksud pembicaraan ini Letnan?”

Letnan Kevin Lecht tak menjawab pertanyaan Sersan Bruce, ia malah balik bertanya, “Apakah keadilan itu Sersan?”

“Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya Letnan! Saya permisi ....”

Sersan Bruce meninggalkan kantor, segera masuk ke dalam mobil kecil miliknya. Di depan kemudi ia merenung. Dekat tempat duduk—terdapat sebuah koper, Sersan Bruce membuka benda itu. Sebuah kostum ninja berwarna hitam, anti peluru, dan kotor berlumur tanah merah—tersembul dari dalam koper.

“Kawan, kita tak akan berhenti!”

---

Pontianak, 13 Mei 2016

Dicky Armando 

Episode sebelumnya dapat dilihat di:

  • view 138