Justice

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Mei 2016
Justice

“Kota ini tak aman lagi,” ujar Letnan Kevin Lecht, “bukan begitu Sersan?”

Sersan Bruce Wine yang sedang mengetik di komputer melirik sedikit dari celah kacamatanya. “Ya, Letnan ... tentu saja. Keadaan berubah sekarang.”

“Tapi kabarnya para pemerkosa itu akan dikebiri jika tertangkap,” kata Letnan Kevin.

“Saya rasa,”— Sersan Bruce Wine berdiri dari kursinya—“itu bukan solusi terbaik.”

“Jadi menurutmu?” tanya Letnan Kevin penasaran.

“Nanti ... ‘keadilan’ akan menjawabnya.”

***

Sersan Bruce membuka lemari pakaian tua di apartemen-nya, di dalam benda tersebut terdapat celah tersembunyi yang hanya bisa dibuka dengan menekan bagian tertentu dari ‘tubuh’ lemari.

JREEEK!

Ruang rahasia terbuka. Sersan Bruce menatap lesu sebuah pakaian warna hitam—anti peluru, lengkap dengan topeng seperti ninja.

“Hai sisi gelapku, lama tak bertemu.”

***

BAAK! BUUUK! BAAAK! BUUUK!

Lima orang pemuda jatuh ke tanah, mereka hampir berhasil memperkosa seorang gadis cantik yang baru pulang kerja di malam hari—jika saja tidak muncul sesosok hitam legam dengan pedang katana di tangan.

“Amppuuun!” rintih seorang anak muda—berambut panjang, bersujud di hadapan “hantu”.

Epson City tidak menerima orang-orang seperti kalian!”

BRAAAZZZ!

***

Letnan Kevin Lecht berjalan cepat masuk ke kantor, tangannya menggenggam selembar kertas laporan dari divisi kriminal.

“Sersan! Kau sudah tahu?”

“Ada apa Letnan?” Sersan Bruce terkejut melihat kedatangan atasannya.

“Linda Lemsey hampir diperkosa tadi malam!”—wajah Letnan Kevin menegang—“tapi ... dia selamat! Dan semua pelaku kehilangan kepala! Hanya tersisa badannya saja! ‘Setan’ itu muncul lagi di kota ini, kita harus bertindak agar ia tak main hakim sendiri.”

Jari-jari Sersan Bruce Wine terhenti di atas keyboard komputer. “Mungkin anda menyebutnya ‘setan’, tapi saya menyebutnya ‘keadilan’!”

“Apa yang kau pahami dengan ‘keadilan’ Sersan?” kata Letnan Kevin, sambil menyerahkan kertas laporan kepada Sersan Bruce untuk disimpan.

Lelaki kurus tersebut mengambil sebuah map khusus—penyimpanan dokumen penting—di bawah mejanya. “Ini dia!”

“Kau belum menjawabku Sersan.”

“Menurut saya,”—Sersan Bruce memasukkan kertas laporan ke dalam map—“arti ‘keadilan’ adalah penderitaan yang serupa!”

---

Pontianak, 12 Mei 2016

Dicky Armando

Sumber foto: 1fotonin.com