Kompetisi Menutup Kepala

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Mei 2016
Kompetisi Menutup Kepala

Di Epson City sedang berlangsung seleksi untuk kompetisi para perempuan yang mengenakan penutup kepala dari kain—biasa disebut deksel. Program tersebut bertujuan menemukan bakat terpendam dari wanita-wanita beragama edele.

Edele adalah agama mayoritas di negara Kwaad. Kitab suci mereka bernama Pragtige. Pada negara yang sudah disusupi paham liberal, kompetisi-kompetisi seperti ini tumbuh subur—tanpa mengetahui lebih lanjut nilai-nilai dari agama edele itu sendiri.

Kim Lochart—seorang pengamat sosial ternama di Epson City mempertanyakan manfaat tentang adanya kompetisi yang memamerkan kecantikan perempuan-perempuan edele—yang mana sebenarnya bertentangan dengan isi kitab Pragtige.

Pada suatu kesempatan, Kim Lochart bertemu dengan pimpinan produksi kompetisi tersebut—Frank Jones. Mereka berbincang-bincang.

“Sebenarnya apa tujuan anda menyelenggarakan kompetisi semacam ini?” tanya Kim.

“Tentu saja menggali bakat-bakat terpendam yang ada pada umat edele, khususnya yang wanita,” jawab Frank. Pria berambut ikal itu meminum teh dari cangkir perak yang disediakan kafe.

Kim juga minum dari cangkirnya, lalu melanjutkan pertanyaannya, “Apakah pihak anda sudah berkonsultasi dengan ahli agama edele?”

“Untuk apa? Tidak perlu, aku hanya berusaha mengangkat derajat wanita-wanita mereka. Apakah itu perlu izin?” Wajah Frank mulai serius.

“Ehm,”—Kim memperbaiki letak kacamata bundarnya—“Apakah tes membaca Pragtige termasuk dalam penilaian?”

“Tidak,” jawab Frank, singkat. Ia mulai tak tertarik dengan pembicaraan tersebut, sudah tahu ke mana arahnya. “Untuk apa kau menanyakan ini?”

“Menurutmu sekarang mereka tertindas?” Kim tersenyum.

“Tidak.”

“Lalu mengapa kau katakan tadi bahwa kompetisi itu untuk mengangkat derajat para wanita edele?”

Frank bersandar di kursi, menatap lawan bicaranya, tajam. “Ayolah kawan! Ini hanya acara hiburan!”

Sang pengamat sosial memiringkan kepala, tersenyum lebar menatap Frank. Merasa sudah terjebak, Frank mencoba melakukan pembelaan.

“Begini ... aku hanya memberikan mereka kesempatan berkarya,” jelas Frank lagi.

Kim berdiri, membawa cangkir minuman di tangan, nafasnya dalam—menghirup udara sore sehabis hujan. Ia melirik ke kanan kiri, jalanan masih sepi, kemudian menatap Frank. “Apakah kau tahu di dalam Pragtige disebutkan bahwa perempuan tidak boleh sembarangan memamerkan tubuhnya atau kecantikan kepada sembarang orang kecuali pasangan sah?”

“Tidak.” Frank merasa menyesal bertemu orang di hadapannya itu, ia terus membuang muka saat Kim menatap.

“Apa agamamu?” selidik Kim.

Dahi Frank mengkerut luar biasa. “Aku tak percaya Tuhan, dan acara ini dipesan oleh organisasi rahasia internasional yang sangat besar dengan dana tak terbatas, untuk mencuci otak para wanita dari agama edele, khususnya yang menggunakan deksel, agar melupakan Pragtige. Uang yang ditawarkan terlalu menggiurkan untuk kutolak. Kau puas sekarang?”

Kim menjabat tangan Frank, sangat erat. “Sangat puas ... kau orang yang tepat! Gunakan uang kami baik-baik!”

(End)

Pontianak, 08 Mei 2016

Dicky Armando

Sumber foto: abisyakir.wordpress.com 

  • view 153

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    jadi keinget kompetisi di in***ia* kemarin
    gaya Pak Dicky bgt dengan satirenya.
    *eh bener gak ya

    • Lihat 9 Respon