Nyali

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 07 Mei 2016
Nyali

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia—berani adalah mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dan sebagainya. Sementara Aristoteles mengungkapkan bahwa menaklukkan rasa takut merupakan awal dari kebijaksanaan.

Dapat diketahui dari definisi di atas tentang pentingnya keberanian dalam kehidupan sehari-hari—karena tidak akan muncul rasa percaya diri yang sering disuarakan oleh banyak orang, tanpa ada keberanian.

Tidak selalu mengenai perkelahian atau perselisihan, namun membahas tentang seseorang dapat mengatasi suatu masalah dengan rasa berani pada porsi yang tepat. Jika anak kecil tak pernah diajarkan membela kebenaran, maka sampai kapan pun ia jauh dari pemahaman keberanian itu sendiri.

Kasus-kasus tindakan tidak jujur yang dilakukan oleh oknum siswa saat ujian berlangsung merupakan hasil dari gagalnya penanaman keberanian, rasa takut berlebihan tersebut tidak diimbangi dengan persiapan matang sebelumnya. Dalam hal ini, orang tua dan guru wajib membangun mental anak-anak masa kini—agar mengetahui pentingnya menjauhi kepengecutan stadium akhir tersebut.

Seandainya tidak diperbaiki, dikhawatirkan setelah ini muncul generasi-generasi instan yang hanya mau “enak-nya” tanpa mau mencicipi perjuangan. Maka, timbul bibit-bibit koruptor dan penjilat super canggih.

Di dunia kerja sendiri, banyak pemikiran “cari aman”, hanya agar bisa bertahan—atau dengan kata lain supaya tidak dipecat atasan. Rela menjilat sana-sini agar mendapat posisi bagus, dan bersedia mengorbankan rekan kerja demi kepentingan pribadi. Inilah contoh-contoh hasil pembibitan tanpa nutrisi yang disebut keberanian.

Beberapa pendekatan dapat dilakukan dalam rangka menumbuhkan keberanian. Pada hakikatnya—nilai tersebut berasal dari hati nurani. Satu dari sekian banyak cara adalah dengan sering mengikuti kegiatan-kegiatan sosial. Fungsinya supaya berkembang naluri ingin melindungi dan menolong sesama, diharapkan suatu hari—individu dan/atau sekelompok orang ini memiliki keberanian dan kepedulian untuk memberantas sikap apatis yang sedang melanda masyarakat selama ini. Tidak ada lagi petuah sesat: “Yang penting saya bisa makan, orang lain peduli setan.”

Belajar seni bertarung di suatu pedepokan atau perguruan, atau dengan seorang guru seni tarung yang berpengalaman juga merupakan pendekatan untuk melatih dan memunculkan keberanian. Hal tersebut merupakan alat penunjang rasa berani itu sendiri. Biasanya guru-guru yang bijak akan mengajarkan muridnya bahwa jangan sembarangan memukul orang lain, karena kalian sudah tahu dipukul itu sakit. Jika seseorang sudah memahami “rasa sakit”, maka ia akan selalu berusaha menghindari untuk menzalimi orang lain—walaupun ia sanggup.

Sepertinya “keberanian” harus ditambahkan sebagai mata pelajaran khusus dengan waktu yang tidak sekedarnya untuk anak-anak usia sekolah, bersanding dengan pelajaran-pelajaran kerohanian, supaya hadir bibit-bibit unggul untuk masa depan.

***

Pontianak, 07 Mei 2016

Dicky Armando

Sumber foto: quotesideas.com