Pengantar Hantu

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Mei 2016
Pengantar Hantu

Udara semakin dingin menyelimuti Ishinomaki—sebuah kota di negara Jepang yang pernah “disapu” habis oleh bencana Tsunami—Sasuke Kamikaze memacu taksi kuningnya dengan kecepatan sedang melewati stasiun kereta. Dia sedang berpikir untuk pulang ke rumah, karena biasanya sudah tak ada penumpang setelah pukul 6 sore.

Di ujung stasiun, ia melihat seorang pemuda memakai jaket berwarna jingga, dan bercelana hitam—sedang melambai kepadanya, ia pun memelankan laju kendaraan sampai akhirnya berhenti di samping lelaki tersebut.

Sasuke membuka jendela. “Mau naik?”

Pemuda itu membuka penutup kepala, rambutnya berwarna kuning terang, wajahnya ramah meski agak pucat. “Ah ... ya, bisakah kau mengantarku ke distrik Minamihama?”

“Bisa, naiklah!” Sasuke membuka pintu mobil. Lelaki nyentrik itu lalu duduk di samping supir.

“Mengapa kau duduk di sini?”—Sasuke memandang penumpangnya—“biasanya penumpang duduk di belakang.”

“Tak apa, aku suka duduk di sini.”

Sasuke merasa heran, tapi ia tak berniat melanjutkan pertanyaan—karena hak setiap pelanggan mau duduk di mana.

Selama sepuluh menit perjalanan, penumpang aneh itu hanya bersenandung kecil, lagu-lagu duka cita. Sasuke merasa risau mendengarnya.

“Namaku Sasuke Kamikaze, siapa namamu?”

“Namaku Naruto Kuramayashi,”—Naruto menjulurkan tangan kepada Sasuke—“senang berkenalan dengan anda.”

Sasuke menyambut tangan Naruto, menjabatnya.

“Kalau boleh tahu, untuk apa kau datang ke Minamihama? Di sana sudah tak ada apa-apa lagi selain kenangan,” tanya Sasuke.

Lelaki berambut kuning itu tertawa riang, wajahnya sangat kocak. “Aaahhh”—Naruto mengarahkan kedua jari telunjuk kanan dan kiri kepada Sasuke—“anda memang pintar Pak Sasuke! Aku memang mencari kenangan! Hihihihhi!”

Sasuke semaking bingung, selain hari ini ia mendapatkan penumpang aneh, dan di tujuan sebenarnya tak ada lagi sesuatu apa pun, setelah dilanda bencana tahun lalu. Ia memperhatikan Naruto menulis sesuatu pada kertas yang dikeluarkannya dari jaket.

“Apa yang sedang kau tulis?”

Naruto menyerahkan secarik kertas kepada Sasuke. “Ini alamat keluargaku di Tokyo, mungkin besok aku akan ke sana, simpan saja alamatnya, aku akan pakai taksi ini lagi ke sana.”

“Apa kau gila?”—Sasuke terperanjat, memukul setir—“biayanya akan mahal sekali! Lebih baik naik kereta dari Ishinomaki!”

“Ah ... tentang itu jangan khawatir. Aku anak orang kaya, tenang saja.” Naruto tersenyum lebar. Sasuke melempar topi supir taksinya ke kursi belakang, kemudian menggaruk kepalanya sendiri.

“Dasar aneh!” gerutu Sasuke. Naruto tertawa geli.

Ketika sampai di distrik Minamihama, Naruto minta berhenti di sebuah reruntuhan rumah. Sejauh mata memandang memang sudah tak ada lagi bangunan yang berdiri tegak.

Naruto keluar dari taksi, dan berdiri menghadap ke suatu arah, membelakangi Sasuke di kursi taksi.

“Itu bekas rumahmu?” selidik Sasuke, “inikah kenangan yang kau cari?”

“Bukan ... rumahku masih jauh,”—Naruto menunjuk ke arah jalan—“tapi tubuhku terseret sampai di sini?”

“Tubuh siapa?” Sasuke kaget.

“Ya tubuhku! Hehehehe!” Naruto kembali tertawa.

“Kau bercanda?” Sasuke keluar dari taksi.

“Tolong sampaikan kepada bibiku di Tokyo, di sinilah tubuhku berada”—Naruto menunjuk suatu tempat yang penuh tumpukan kayu—“terima kasih atas bantuannya, biaya taksi nanti bibiku yang membayar. Selamat tinggal Pak Sasuke, anda baik sekali!”

Sosok pemuda riang itu perlahan hilang, mulai dari wajah sampai ke kakinya, menjadi asap—menuju langit.

***

Seminggu kemudian, mayat Naruto ditemukan oleh pihak keluarga, dibantu oleh keterangan dari Sasuke. Supir taksi tersebut menangis sejadi-jadinya melihat tubuh naruto yang sudah termakan waktu, menyisakan tulang dan jaket berwarna jingga miliknya.

***

Pada suatu malam yang dingin, Sasuke sudah tertidur pulas di apartemen-nya. Tiba-tiba ia terbangun karena sesuatu menggoyang tubuhnya. Tubuh Sasuke terlempar ke dinding karena terkejut bukan main, seorang wanita memakai baju kimono putih dengan mata berdarah-darah duduk dengan sopan di samping kasur.

“Pak Sasuke ... maaf mengganggu. Naruto mengatakan kepadaku bahwa anda bisa mengantarkan saya ke tempat tubuh saya terkubur,” jelas arwah penasaran itu.

“NAAARUTO SIALAAAAAANNN!!!”

(End)

Pontianak, 05 Mei 2016

Dicky Armando

Sumber foto: www.tianxinqi.com 


  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Mantap

  • Reza Syaputra
    Reza Syaputra
    1 tahun yang lalu.
    HAHAHAA,.. Asik cerpen nyaaa,..
    sering2 bikin yg model begini mas

    • Lihat 1 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Akhirnya kamu 'keluar' juga Mas Dicky. Sudah lama saya tunggu.

    Cerpen yg menarik, seram dibumbui humor. Suatu genre yang berbeda. Belum saya temukan di Rumah Bersama ini.

    Berlatar belakang sejarah 'jepang' dgn tokoh kartun populer. Kamu berhasil menarik saya untuk membaca tulisanmu ini.

    Selama saya, membaca tulisanmu secara sembunyi2, ini tulisan yg paling saya suka. Makanya, paket lengkap untukmu Mas Dicky.

    _____ Dinan ::

    • Lihat 3 Respon

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    1 tahun yang lalu.
    Ahahahahaa
    Horror yang lucu dan menyentuh _^

    • Lihat 3 Respon