Fearless

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Motivasi
dipublikasikan 04 Mei 2016
Fearless

Dulu ... saya selalu bangga mengenakan pakaian rapi, menyisir rambut sampai klimis, sepatu mengkilat—sebelum pergi kerja, sampai pada suatu hari ketika negara api menyerang ... eh? Maksudnya sampai suatu hari saya bertemu dengan Pak Hamdi (nama samaran), mengenai beliau akan saya ceritakan sebentar lagi.

Jadi saat lulus kuliah, saya ingin menjadi usahawan—tapi ditentang oleh kedua orang tua yang punya basic pegawai. Kala itu mereka mengatakan, “Untuk apa kuliah kalau pergi kerja tidak masuk ke perusahaan besar? Pergi kerja itu wajib rapi!”

Kata-kata tersebut jelas tidak bisa diterima akal saya, namun belakangan diketahui penyebabnya, yaitu “pandangan tetangga”.

Oknum tetangga menurut versi saya—adalah sekumpulan orang yang tidak pernah memberi kita makanan dan/atau uang, tetapi sangat senang mengurusi isi dompet orang lain.

Orang tua khawatir jika saya menjadi pedagang, lalu oknum-oknum ini berpendapat: “Ah, untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau cuma jadi pedangang!” Sebagian orang di komplek rumah saya—berpendapat bahwa pergi kerja itu harus pakai baju rapi, name tag, sepatu mengkilat, rambut klimis, bawa tas, dan lain-lain.

Teringat kata-kata dari almarhum Bob Sadino: “Kamu ini bangun pagi, mandi, pamit kerja, pakai seragam, kaki dibungkus sepatu, berangkat pagi, pulang sore, bayaran tidak seberapa. Kerja apa dikerjain?”

Pada akhirnya dalam kurun beberapa waktu—saya juga terhanyut dalam segala bentuk “kerapian” dan formalitas untuk menjaga agar tetap “bergengsi” di mata para oknum tetangga (salah saya sendiri).

Tahun 2010, saya bekerja di sebuah perusahaan penyedia jasa finansial—sebagai petugas survey kelayakan kredit. Dalam suatu kesempatan, saya ditugaskan untuk mendatangi seseorang yang bernama Hamdi, ia tinggal di Jalan Tanjung Raya II, Pontianak. Dari data-data, diketahui bahwa lelaki tersebut adalah pedagang ikan di sebuah pasar tradisional.

Sampai di lokasi rumahnya, saya tertegun, berdiri tegak rumah mewah pada alamat yang tertera. Apa benar ini rumahnya? Penjual ikan? Pak Hamdi muncul dari dalam, menyapa saya.

“Dicky ya? Ayo silakan masuk!” kata Pak Hamdi.

Saya masih bengong memperhatikan mobil mewah miliknya. “Oh baik Pak, terima kasih.”

Di dalam kami berbincang dan memeriksa kelengkapan persyaratan kredit yang diajukan oleh Pak Hamdi. Mata ini tak berhenti kagum melihat isi rumah beliau.

“Kenapa? Tidak percaya ya?” Pak Hamdi tertawa.

“Ah ... bukan begitu Pak, saya ingin tahu bagaimana caranya mendapatkan semua ini?”

“Kita butuh ‘nyali’ Dik!” kata Pak Hamdi.

“Nyali? Saya sering berantem Pak, dulu ...,” jawab saya sembarangan.

“Bukan tentang perkelahian, tapi ‘nyali’ keluar dari kebiasaan. Tak mudah memang, aku juga dulu karyawan sepertimu,” kata Pak Hamdi sambil menggulung bagian atas kain sarung di pinggangnya. Penampilan lelaki 45 tahun itu tidak mirip orang kaya, sangat sederhana, dan saya baru tahu, orang yang benar-benar kaya—penampilannya malah mirip “orang susah”. Tapi “orang susah” selalu berusaha bergaya seperti orang kaya. Aduh malunya hati ini!

Seorang teman, bernama Wijaya (nama samaran)—seorang peracik dan pedagang pomade (minyak rambut padat berbahan dasar lilin lebah dan minyak kelapa)—berhasil membangun merek dagangnya sendiri. Saya bertemu dengannya beberapa waktu lalu di sebuah pameran di Pontianak Convention Centre. Kebetulan, saya dan Wijaya tergabung dalam suatu komunitas—PETAK—kepanjangannya Pomade Enthusiast Pontianak, kumpulan para pecinta pomade dan rambut klimis. Sekedar informasi, rambut saya sangat klimis, mengkilat, dan licin, sehingga dapat membuat lalat atau nyamuk terpeleset jika hinggap di atasnya.

Balik lagi ... pada saat itu Wijaya tiba-tiba menghilang dari lapaknya, digantikan oleh seorang kawan yang juga tergabung di PETAK, setelah dicari-cari, rupanya ia sedang duduk sambil merokok—agak jauh dari lapak. Dia melihat saya, dan memanggil, “Sini Bro!”

Saya duduk di samping Wijaya. “Capek Bro?”

“Lumayan,” jawab Wijaya, tersenyum. Wajahnya menyiratkan kepuasan.

“Kau senang kerja seperti ini?” tanya saya, “tidak lelahkah kau berpromosi tiap hari? Dan dengan segala kegiatan penjualan?”

“Capek itu sudah pasti Bro ... tapi belum pernah aku merasakan ketenangan hati seperti ini, semenjak resign dari kantorku dulu.”

Benar sekali apa yang dikatakannya, betapa saya belum pernah tenang pikiran dan perasaan selama bekerja di perusahaan. Tekanan, “caci maki”, “ancaman”, dan sejenisnya.

Saya sendiri sejak berkenalan dengan Pak Hamdi sudah memulai usaha secara sembunyi-sembunyi (orang tua tidak tahu), yaitu berjualan batu permata, baik itu kelas akik, sampai kelas batu delima ... ya benar ... saya telah berjualan batu sejak tahun 2011, sebelum batu akik booming seperti tahun 2014-2015 kemarin. Meski, sekarang saya masih menekuni pekerjaan di bidang formal (kantor/perusahaan).

Saya mempelajari dan memahami beberapa hal dari pengalaman di atas:

  • Bekerja tidak harus pakai baju rapi dan rambut klimis.
  • Pedagang dan bidang pekerjaan lain juga disebut bekerja, tidak ada perbedaan “kasta” di antaranya. OKNUM TETANGGA SAYA SALAH!
  • Tidak bekerja di bidang formal pun bisa melanjutkan hidup dengan baik dan sejahtera.
  • Siapa bilang bekerja kantoran senang hatinya? Maksudnya belum tentu.

Bang Rahmad—seorang pekerja honor—baru diangkat menjadi pegawai tetap setelah 16 tahun lamanya di sebuah instansi, pernah mengatakan sesuatu kepada saya, bahwa jangan takut menjalani hidup, karena selama pikiran dan tubuh masih mau bergerak, maka di situ ada jalan rezeki. Keep Positive

*** 

Pontianak, 04 Mei 2016

Dicky Armando

Sumber foto: www.tianxinqi.com