Fast Food

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Mei 2016
Fast Food

“Aku sudah mendapatkan orang yang tepat untuk presentasi di hadapan anda!” Gregory Hawk tersenyum percaya diri di hadapan atasannya.

Morgan Freewill mengelus-elus jenggotnya, seraya bersandar di kursi besar nan empuk di sebuah kantor dengan dekorasi klasik. “Kau yakin?”

“Tentu saja! Dia akan memberikan banyak keuntungan bagi restoran cepat saji milik anda!” Gregory tampak antusias, dia memang sangat loyal kepada Morgan.

“Baik, suruh ia datang besok.”

***

Telah berdiri seorang pemuda di hadapan Morgan dan Gregory. Ia mengenakan setelan jas hitam, celana hitam, dan baju kemeja putih di dalamnya. Paulie Walcot—seorang konsultan restoran cepat saji—sudah terkenal sampai semenanjung Epson City.

“Kita mulai saja?” tanya Paulie kepada dua orang di depannya.

“Baik,” jawab Morgan. Lelaki tua tersebut menyanggah dagu dengan tangan kanannya yang tegak lurus di atas meja.

“Sebenarnya ada banyak bahan makanan yang akan menguntungkan bagi anda, tetapi saya akan menjelaskan sedikit saja. Kalian akan terkejut betapa sebuah restoran cepat saji akan membuat kaya pemiliknya. Kita mulai dengan saus cabai, bahannya dicampur dengan Silicon Dioxide, agar tidak menggumpal!” jelas Paulie.

Silicon Dioxide?” Gregory terkejut. Morgan melirik sedikit ke arahnya. “Bukankah itu—?”

“Benar sekali, pasir!” kata Paulie memotong kata-kata Gregory, “lalu untuk menu yang menggunakan vanilla, saya menyarankan menggunakan Castoreum!”

Morgan menggosok kedua telapak tangannya. “Apakah benda yang kau sebut itu?”

“Bahasa awamnya adalah kencing berang-berang, sebagai cita rasa pada vanilla dan raspberry,” jelas Paulie, “bahan-bahan tersebut sudah lumrah digunakan pada industri ini.”

Morgan menoleh ke arah asistennya, membisikkan sesuatu. “Dari mana kau dapatkan orang ini?”

“Ah ... ehm ... dari seorang kenalanku.” Gregory memegang keningnya sendiri, ia tak percaya membawa orang gila ke hadapan atasan-nya.

Morgan menatap Paulie. “Lanjutkan ....”

“Baik Tuan Freewill. Saya memperhatikan restoran anda juga menjual roti, maka bahan yang sempurna untuk makanan itu adalah L-Cysteine, sebagai pelembut,”—Paulie memandangi satu per satu wajah pebisnis di hadapannya—“terbuat dari dua puluh persen bulu bebek, dan delapan puluh persen rambut manusia.”

“Oke hentikan! Langsung saja, berapa banyak aku bisa berhemat dari bahan-bahan tadi?” selidik Morgan. Ia berdiri, mendekati Paulie dan memandangi papan tulis putih di mana konsultan restoran cepat saji itu menulis hasil presentasinya.

“Sekitar lima puluh persen ... Tuan,” bisik Paulie di telinga Morgan.

***

“Maaf Pak, aku akan mengganti orang tersebut!” seru Gregory, menundukkan kepala sebagai tanda penyesalan.

Morgan tertawa keras sekali—kemudian berkata, “Kali ini kau bekerja dengan sangat baik! Aku salut!”

Gregory mengangkat wajahnya. “Apa? Bukankah Paulie membawa barang-barang berbahaya bagi kesehatan Pak?”

“Kau lupa Greg? Ini restoran cepat saji, mana ada yang sehat di sini!” Morgan menepuk bahu asisten pribadinya itu, lalu pergi meninggalkan ruangan.

(End) 

Pontianak, 03 Mei 2016

Dicky Armando 

Sumber foto: yoyowallpapers.com