Busuk

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Mei 2016
Busuk

Sejumlah warga negara Kwaad dibebaskan oleh kelompok separatis negara Wisecastle. Mereka tertangkap saat kapal barang berangkat dari Kwaad menuju utara.

Setelah hampir 2 bulan lamanya, pemerintah Kwaad dan pihak militer Wisecastle bekerja sama, menempuh berbagai “jalur” yang memungkinkan adanya negoisasi. Kelompok separatis tersebut sebenarnya menuntut sejumlah uang tebusan, tapi para cendekiawan dan ahli-ahli militer kedua negara yang berdedikasi—berhasil membebaskan sandera.

***

Puluhan mobil berwarna hijau tua melintasi hutan belantara di Provinsi Broxy, Wisecastle. Terbagi dua pasukan, dari negara Kwaad dan Wisecastle. Mobil paling depan ditempati Kolonel Andrew Dufrey, Kolonel Ellis Red, dan lima orang bekas tawanan kelompok separatis.

“Apakah perusahaan kami memberikan uang tebusan Pak?” tanya seorang bekas tawanan.

“Tidak ... ini berkat usaha dan kerjasama kedua negara,” jawab Kolonel Andrew Dufrey, “tapi sebelum keluar dari hutan ini kita tetap harus hati-hati.”

Semua tawanan mengangguk.

Kolonel Ellis Red menyalami Kolonel Andrew Dufrey. “Anda seorang pemimpin yang tangguh, senang bekerja sama denganmu!”

“Anda juga.” Kolonel Andrew Dufrey menyambut tangan rekan barunya.

***

Sebuah pesawat mendarat mulus di bandara internasional Kwaad. Para bekas tawanan disambut keluarga dan kerabat.

Sebelum pulang, mereka semua berterima kasih kepada wakil-wakil pemerintah dan jajaran militer negara Kwaad. Keadaan haru dan penuh emosi.

Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Kolonel Andrew Dufrey, ia melihat seorang politisi dari sebuah partai di tempat tersebut.

“Apa urusan orang itu di sini?” tanya sang kolonel, dalam hati.

***

“Kami telah berusaha dan berhasil melakukan lobi-lobi politik agar para sandera dibebaskan, dan terbukti berhasil!” kata Ron Briggs. Ia menyilangkan kaki kanannya, dalam sesi wawancara di kantor Blue Star Party.

Billy West merekam pembicaraan itu baik-baik. “Jadi hanya partai anda yang berkontribusi dalam kasus ini?”

Ron Briggs berdiri, merapikan jas putihnya. Lampu di ruangan hampir mengenai kepalanya, tubuh pria 50 tahun lalu itu cukup jangkung. “Hahahaha, sejauh ini sepertinya hanya kami. Baiklah, cukup sampai di sini, masih banyak yang harus diselesaikan.”

“Terima kasih atas waktunya Pak!” kata Billy West. Ron Briggs mengangguk pelan dan pergi dari ruangan.

***

“Tuan Briggs, apakah tidak masalah anda mengeluarkan pernyataan seperti tadi?” tanya Gloria—asisten pribadi Ron Briggs.

Ron Briggs diam saja, menikmati pemandangan dari jendela mobil mewahnya.

“Pak?” tanya Gloria lagi.

Ron Briggs menoleh. “Ini kesempatan Glo, sebentar lagi pemilihan umum, partai kita harus mendapatkan kepercayaan masyarakat.”

“Tapi apakah etis menggunakan isu tersebut sebagai keuntungan kita Pak? Sepertinya tidak manusiawi,” protes Gloria. Hanya perempuan ini yang berani menanyakan hal sensitif tersebut kepada Ron Briggs, ia sudah 20 tahun bekerja kepada lelaki pemilik perusahaan terbanyak di Epson City itu.

Ron Briggs tertawa terbahak-bahak. “Glo ... sepertinya kau sudah tidak cocok di dunia ini, terlalu naif. Jangan sebut-sebut kata ‘manusiawi’ lagi ya, karena politik bukan bagian darinya. Apakah kau mengerti Glo?”

“Baik Pak,” jawab Gloria singkat.

Melihat wajah asisten kesayangannya berubah, Ron Briggs menjadi luluh sedikit. “Pikirkan tentang untung rugi Glo, coba kau lihat di luar jendela itu, banyak orang kesusahan akibat kebijakan-kebijakan, apakah mau seperti mereka?”

Gloria menggelengkan kepala. Ron Briggs memandangi tubuh seksi asisten yang duduk di sampingnya. Lalu lelaki jangkung tersebut melanjutkan kalimatnya, “Karenanya lupakan tentang kemanusiaan, ini tentang memakan dan dimakan, oke? Kita tak akan membicarakan ini lagi, setuju?”

“Baiklah ....” jawab Gloria. Ia merebahkan kepalanya di pundak bos-nya, mereka akan menikmati malam yang panjang di sebuah vila. Sementara—sepanjang jalan banyak pengemis dan anak jalanan kelaparan—mati dalam kehampaan.

(End)

Pontianak, 02 Mei 2016

Dicky Armando

Sumber foto: wall.alphacoders.com