Prostitute

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Mei 2016
Prostitute

Barisan penegak hukum Epson City berhasil mengungkap jaringan prostitusi terbesar di kota itu. Sebagai ibu kota dari negara Kwaad, tempat tersebut merupakan ladang subur bagi mafia-mafia “bisnis lendir” lokal maupun internasional.

Pagi ini di kantor petugas keamanan kota—mereka mengamankan lebih dari 100 orang pekerja seks komersial, beberapa di antaranya masih berstatus sebagai pelajar.

“Kami bangga dapat mengungkap sindikat ini,” kata kepala petugas keamanan tertinggi negara Kwaad.

“Apakah operasi ini akan terus berlanjut Pak?” tanya seorang wartawan. Insan pers memenuhi bagian depan bangunan kantor petugas keamanan Epson City yang berbentuk piramida berwarna kuning itu.

“Satu hal yang pasti adalah operasi ini telah dijalankan di seluruh penjuru negara Kwaad, tak hanya di Epson City!” tegas lelaki bertubuh gempal tersebut. Ia memandangi kerumunan wartawan dengan rasa bangga.

“Tapi bukankah penangkapan pelaku prostitusi tidak ‘mematikan’ akar masalahnya Pak?” tanya wartawan yang berdiri di barisan paling belakang.

Wajah orang nomor 1 di jajaran petugas keamanan negara Kwaad itu berubah, merengut. “Saya rasa sudah cukup wawancara untuk hari ini.” Ia meninggalkan sesi wawancara, menuju ke sebuah mobil hitam, jurnalis mencoba mengejarnya—tapi ditahan oleh sekelompok pasukan keamanan berseragam warna merah muda.

Dari pintu kantor muncul seorang pelaku prostitusi—Katie Brown—ia dibebaskan karena belum cukup bukti atas keterlibatannya. Para wartawan kemudian mengejarnya, barisan petugas keamanan tak lagi bisa menahan.

“Anda bebas?” tanya Billy, seorang wartawan senior dari koran Daily Shit. Katie sedikit memalingkan wajahnya, karena microphone Billy terlalu dekat di mulut wanita 23 tahun itu.

“Ya,”—Katie mengibaskan rambutnya yang berwarna coklat—“mereka kurang bukti.”

“Apa yang terjadi di dalam sana?” tanya Billy lagi. Wartawan lain dengan serius merekam percakapan antara Katie Brown dan Billy West.

“Di sana?”—Jari Katie menunjuk ke arah kantor di belakangnya—“ah ... biasalah, kalian pura-pura tidak tahu.” Semua wartawan tertawa mendengar celotehan Katie.

“Coba jelaskan?” sambung Ted Wilson, wartawan yang berdiri di sebelah Billy West.

“Mereka sedang mencari makan, dan ditangkap. Itu saja.” Katie beranjak, jemputannya sudah menunggu di ujung jalan, semua wartawan tetap mengerumuni-nya.

“Anda bilang itu bekerja?” Pertanyaan Ted cukup tajam.

Katie menghentikan langkahnya, ia memandangi lelaki dengan jas berwarna coklat dan rambut klimis itu, lantas mendekatinya. “Mereka yang ditangkap di sana itu punya pendidikan jauh lebih tinggi dari anda! Beberapa di antaranya ahli komputer, sarjana, profesional, dan ibu rumah tangga yang harus menghidupi anak-anaknya!”

“Kalau begitu apa masalahnya?” selidik Ted.

“Masalahnya adalah apa yang Epson City tawarkan kepada mereka? Bukankah tempat ini hanya bisa menangkap dan menjebloskan orang ke penjara? Percayalah, kalau rekan-rekanku di dalam itu cukup beruntung ke dalam perusahaanmu, kau akan kehilangan pekerjaan karena tak mampu bersaing.” jelas Katie panjang lebar. Semua wartawan tercengang, berpandangan satu sama lain.

(End) 

Pontianak, 02 Mei 2016

Dicky Armando

Sumber foto: shyree.deviantart.com