Nasib Penjual Bensin Eceran

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 01 Mei 2016
Nasib Penjual Bensin Eceran

Penjual bensin eceran yang tak berizin atau berada di zona yang tidak diperbolehkan harus segera membongkar atau memindahkan lapaknya. Polres Bulungan hanya memberikan waktu sepekan ("Penjual Bensin").

Sepertinya peraturan sedang dijalankan. Aturan sejatinya memang untuk dipatuhi, tapi akibatnya tentu juga harus dipertimbangkan, apalagi mengenai nasib masyarakat kecil.

Khusus tentang bensin eceran, izin seperti apa yang harus mereka miliki? SITU? SIUP? Izin gangguan? Lalu bagaimana dengan biaya pembuatan izinnya? Apakah mahal? Apakah murah/gratis? Seandainya mahal, dari mana saudara-saudara kita mendapatkan uang untuk mengurusnya? Sementara untuk makan satu hari saja sulit.

Ada pendapat mengatakan: "Kalau begitu mereka dibuatkan satu tempat khusus oleh pemerintah dengan biaya sewa murah." Mungkin pendapat itu terdengar seperti solusi. Tapi coba pikirkan, mengapa bensin eceran menjamur? Kalau menurut saya, karena para penjual itu memilih tempat-tempat strategis di mana masyarakat bisa mendapatkan bensin secara cepat tanpa harus terlalu jauh menuju SPBU. Pedagang-pedagang ini sebenarnya cukup mempermudah mobilitas kendaraan yang mendadak kehabisan bensin.

Jika benar terjadi bahwa saudara-saudara kita yang berjualan bensin eceran dibongkar lapak-nya, maka akan muncul masalah baru, menurut saya pribadi akibatnya adalah:

  • Bertambahnya pengangguran
  • Bertambahnya pengangguran
  • Bertambahnya pengangguran
  • BERTAMBAHNYA PENGANGGURAN

Lalu misalnya ada sebagian orang mengatakan: "Bukankah bisa pindah ke bidang usaha lain?"

Tidak sepenuhnya salah pendapat tersebut, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Pada faktanya tidak mudah membalikkan telapak tangan untuk banting setir ke suatu bidang yang bukan keahlian dari seseorang dan/atau sekelompok orang. Mereka membutuhkan waktu lebih, dan kita berharap dalam kurun waktu itu--tidak terjadi hal-hal yang menyulitkan usaha mereka untuk melanjutkan hidup.

Pada akhirnya segala kegiatan perdagangan idealnya memiliki izin dari pemerintah, agar tertib. Tapi kalau bicara tentang izin, maka tidak hanya mencakup tentang para penjual bensin eceran bukan? Harus merata, harus kena semua. Pertanyaan yang masih berputar-putar di kepala saya: "Mengapa kali ini penjual bensin? Mengapa bukan usaha lain yang lebih beresiko?"

Ah ... sudahlah, mungkin saya terlalu baper. Saya hanya ingin semua rakyat Indonesia merasakan keadilan dan kesejahteraan, itu saja.

***

Pontianak, 01 Mei 2016

Dicky Armando

Sumber bacaan: "Penjual Bensin Eceran Akan Dipenjara 6 Tahun." n. p, 2016. Web. 01 May 2016. http://www.jpnn.com

Sumber foto: www.yourenergyblog.com 


  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    ini masih di Kalut (akronim Kalimantan Utara, bener gini kan )
    atau bakal keseluruhan Pak?

    • Lihat 3 Respon