Alien Penjaga Bumi

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Mei 2016
Alien Penjaga Bumi

Sebuah negara heboh, karena seorang pejabatnya hilang tanpa jejak. Semua fasilitas dan jajaran pemerintahan dikerahkan untuk mencarinya, sayang ... hasilnya nol besar.

“Kita harus mendapatkan kembali orang itu! Semua rahasia ada di dalamnya! Berbahaya jika bocor ke tangan orang lain!” seru perdana menteri kepada lima orang staf-nya.

“Baik Pak! Akan kami urus secepatnya,” jawab seorang anak buah.

“Bagus, cepat laksanakan. Presiden sudah ‘teriak’ dari kemarin,” jelas si perdana menteri—menutup percakapan.

***

Sudah 1 bulan, tidak ada kabar dari pejabat hilang. Seperti ditelan bumi, tak ada satu pun petunjuk. Ia lenyap begitu saja dari mobilnya saat parkir di sebuah hotel mewah, menemui selingkuhannya.

Semua manusia bumi memang tak akan bisa menemukannya kecuali beruntung. Karena pejabat yang bernama John Hadley itu diculik oleh alien.

Berabad-abad lalu sekelompok makhluk asing dari luar bumi—datang ke planet ini. Tujuannya mengajarkan teknologi-teknologi praktis kepada para manusia. Saat tugas mereka selesai, satu anggota ditinggalkan untuk menjadi “mata-mata” peradaban dunia, dan berkewajiban melapor kepada kelompok alien-nya seandainya terjadi kezaliman di suatu peradaban.

Di sebuah pesawat berbentuk wortel—sepanjang ratusan meter, terbaring tubuh John Hadley, si pejabat korup.

***

“Aku tidak tahu apa-apa!” bentak John Hadley. Di hadapannya berdiri sesosok alien besar, tingginya sekitar 3 meter lebih sedikit. John Hadley harus mengangkat wajahnya ketika bicara, sementara ia duduk terikat di sebuah kursi berbahan dasar titanium. Kabel-kabel dengan bahan serupa menahan tubuhnya.

“Kau tak tahu apa-apa?” tanya Kazak santai. Sebuah senjata berbentuk pistol hitam besar mengarah ke hidung John Hadley. Tampak sinar biru yang kadang redup, kadang terang dari ujung senjata tersebut.

“Jangan! Jangan! Aku benar-benar tak tahu ....”

“Katakan sekali lagi ‘aku tak tahu’, dan senjata ini akan menghancurkan otak licikmu,” ancam Kazak,“mau coba?”

John Hadley terkencing-kencing mendengar perkataan alien yang bernama Kazak itu, air mengalir dari selangkangan, menuju kebawah, sampai ke kaki Kazak.

“Oh kau tidak beradab, ratusan tahun lalu, orang-orang mengerti bahwa tidak boleh kencing sembarangan ketika berhadapan dengan orang lain,” kata Kazak mengejek.

Pejabat negara berkepala botak itu memberontak sejadi-jadinya, tapi percuma, ikatan di kursi logam sangat kuat, perlu sinar laser untuk merusaknya.

“Apa yang ingin kau ketahui?” tanya John Hadley.

Kazak menurunkan senjata, memasukkannya ke sebuah sarung di pinggang. Mata Kazak yang berdiameter 20 sentimeter—melotot garang, ia menundukkan kepala sedikit. “Mengapa banyak tenaga kasar asing dari negara lain di negaramu? Sementara rakyatmu kesulitan pekerjaan! Kau disuap siapa? Bukankah tujuan investasi asing adalah untuk membuka lapangan kerja bagi rakyatmu?”

John Hadley menundukkan wajah. “Itu syarat dari investor asing.”

“Syarat? Itu bukan syarat, tapi penjajahan!” Kazak berteriak tepat di depan wajah John Hadley. “Siapa yang punya wewenang?”

“Presiden, perdana menteri, dan ... aku,” jawab John Hadley lemas.

“Mengapa kalian bertiga menyetujuinya?”

“Semuanya bagian dari politik luar negeri. Kami dijanjikan ‘aman’ saat terjadi suatu konspirasi besar terjadi menghantam negara.” Mata John Hadley mencuri-curi pandang wajah Kazak yang di dalam mulutnya penuh taring-taring kecil, sungguh ia lebih mirip mayat hidup daripada alien.

Kazak menyilangkan kedua tangannya di dada. “Maksudmu ada yang berusaha menguasai negara? Negara lain?”

“Ya ....” jawab John Hadley singkat.

“Mengapa tidak melawan?” Kazak menendang sebuah meja di sampingnya. John Hadley menutup mata, ketakutan.

“Ka ... ka ... kami belum mampu. Mereka terlalu kuat.”

“Mereka siapa?” tanya Kazak lagi.

“Sebuah perkumpulan rahasia internasional yang bertujuan menguasai dunia.”

“Kau termasuk di dalamnya? Siapa lagi?”

“Ya, kami belum terlalu banyak. Tapi semuanya memegang posisi tinggi sebagai pembuat kebijakan.”

“Baik, aku mengerti. Besok aku akan mengembalikanmu ke bumi.”

John Hadley tidak menyangka bahwa sedang berada di luar planet asalnya—kalau saja ia tidak melihat keluar jendela pesawat di sebelah kanan, terlihat sebuah planet dengan cincin besar mengitarinya.

***

Warga Epson City geger, begitu pula pihak pemerintah. Hari itu menjadi sorotan dunia internasional. Mayat John Hadley tergantung di sebuah monumen berbentuk mirip obelisk—kebanggaan masyarakat Epson City. Pada tubuh monumen tertulis: KAMI AKAN KEMBALI.

(End)

Pontianak, 01 Mei 2016

Dicky Armando

Sumber foto: www.ancient-code.com