Strategi Stasiun Televisi

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 April 2016
Strategi Stasiun Televisi

Seorang manajer stasiun televisi mengadakan sebuah rapat rahasia di kantornya—mengenai pengisian program acara.

“Keuangan kita terbatas. Bagaimana caranya agar kita bisa mengisi acara dengan program yang murah? Ada ide?” tanya si manajer kepada beberapa anak buahnya.

Seseorang bernama Ramzo mengangkat tangan.

“Ya! Kamu silakan!” seru manajer.

“Kita buat saja sinetron murahan yang isinya artis tidak terkenal dan bisa dibayar murah. Tayangan itu kita buat panjang durasinya!” kata Ramzo.

“Ide bagus! Saya setuju!” balas manajer. “Ada lagi?”

Dirgo mengangkat tangannya kali ini.

“Kamu punya ide Dirgo?”

“Punya Pak!” jawab lelaki bertubuh besar itu, percaya diri.

“Bagaimana?”

“Jadi acara dangdut yang sudah berjalan sekarang ini diperbarui. Setiap habis menyanyi—kita isi dengan lawakan yang tidak jelas tujuannya, di mana lawakan tersebut bisa menghabiskan waktu sebanyak tiga puluh sampai enam puluh menit. Lebih lama daripada waktu menyanyi si artis dangdut!”

“Wooow! Ide yang sangat cemerlang Dirgo! Aku pikir kau hanya bisa makan dan tidur!” Si manajer tertawa senang. “Ada lagi?”

“Saya Pak!” seru Andhiko.

“Langsung saja!” kata manajer bersemangat.

“Acara dangdut yang kita miliki, dibuat versi lainnya, yaitu menampilkan artis-artis tidak terkenal untuk menyanyi dangdut. Tentunya mereka mau dibayar murah! Bagaimana Pak?” jelas Andhiko.

Sang manajer tampak sedang menghitung di atas kertas. “Kalian memang hebat! Setelah kuhitung, apa yang dijelaskan tadi telah menghemat biaya perusahaan kita sebanyak enam puluh persen! Mantap! Ayo kita laksanakan! Para penonton bodoh itu tak akan menyadari strategi kita!” jelas manajer menutup rapat.

***

Pontianak, 29 April 2016

Dicky Armando

Sumber foto: www.penangkalpetir.id


  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    Oh kayak acara yang itu ya? Kadang kalau dipikir-pikir acara TV Indonesia itu 15 % Hiburan .. 5 % Mendidik .. Sisanya omong kosong gak jelas

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Yang bodoh, mereka yang lahap, menerimanya,
    Tanpa perduli apa yang mereka kecap,
    Dan bersoraksorai

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    *sedih

    tulisan ini mewakili keresahan lagi ya Pak?

    • Lihat 12 Respon