Kendaraan Tak Pernah Berbohong

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 April 2016
Kendaraan Tak Pernah Berbohong

Kemarin sore hujan turun deras sekali. Saya di lantai dua kantor masih berpikir untuk pulang atau menunggu hingga tetes terakhir.

"Belum pulang Dik? Sudah jam setengah lima sore ini," kata Pak Maman--atasan saya. 

"Masih hujan Pak, silakan duluan," jawab saya.

Ia melengos pergi menuju lantai dasar. Tak lama saya melihat mobilnya keluar dari parkiran kantor menuju jalan. Sebuah mobil hitam mewah, cantik sekali.

Bosan berlama-lama dalam ruangan--saya turun ke bawah. Beberapa rekan kerja masih terlihat sibuk, mungkin mereka lembur. 

Di pintu depan saya menemukan Alex (nama samaran) sedang terpaku melihat sesuatu di parkiran kantor.

"Lihat apa Lex?" tanya saya. Dia tidak menjawab, tetap terpaku. Saya mengikuti arah pandangannya. Terlihat seorang perempuan sedang berjalan bersama seorang laki-laki menuju ke sebuah mobil sportLelaki tersebut membawa sebuah payung untuk melindungi pasangannya.

"Vivi?" Saya terheran-heran. Alex hanya memandangi saya dengan tatapan kosong. "Saya kira dia--"

"Ya ... aku pun berpikir dia suka padaku." Alex membakar sebatang rokok, dan mengarahkan bungkusnya kepadaku.

"Saya sudah berhenti Lex." Saya mengarahkan telapak tangan kanan ke dekat bungkus rokok tersebut. "Ngomong-ngomong kau tidak mengajak Vivi pulang seperti biasa?"

"Sudah,"--Alex memandangi langit sejenak--"tapi dia tidak mau."

"Alasannya?"

Alex menunjuk ke arah sepeda motor berwarna hitam, keluaran tahun lama--produksi Jepang. "Itu sebabnya."

"Yang benar?" Saya benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan terdengar. Alex mengangguk pelan. Ia berpamitan, menaiki sepeda motor miliknya--dan perlahan menghilang di balik derai-derai hujan. Sementara di kepala saya masih penuh pertanyaan yang sepertinya tak akan pernah terjawab. Alex adalah pemuda tampan dan seorang pekerja keras, mungkin belum nasibnya menjadi orang kaya, apalagi punya mobil, tapi setidaknya ia berpotensi menuju kemakmuran. Ya ... itu pendapat saya saja.

Hujan kemarin sore benar-benar menyebalkan.

*** 

Saya dan dua orang sahabat--Arif dan Asep--bertemu di sebuah warung kopi. Seperti biasa kami bicara tak karuan untuk melepas stres akibat tekanan di kantor.

"Sep, mana gebetan-mu kemarin?" tanya Arif.

Asep menggaruk kepalanya. Saya melihat ketombe beterbangan dari rambutnya, bersinarkan cahaya lampu. "Jangan bicara tentang dia ya? Aku malas!"

"Kenapa Sep?" tanya saya.

Asep menyandarkan punggunya yang lebar pada sandaran kursi, kemudan meletakkan kedua tangannya di kepala. "Ah ... biasalah. Dia malu pergi denganku sekarang ini."

"Malu kenapa?" selidik Arif sambil menghembuskan asap rokok ke wajah Asep.

"Sialan kau!"--Asep mengibaskan tangannya--"sesak goblok!" Kami semua tertawa.

"Jadi bagaimana gebetan-mu?" tanya saya lagi.

"Dia malu berjalan denganku. Teman-temannya punya pasangan yang kehidupannya mewah, mobil keren. Sementara aku hanya punya itu." Jari telunjuk Asep mengarah ke sebuah sepeda motor berwarna merah terang. Sebenarnya benda itu masih sangat layak pakai.

"Hanya gara-gara itu?" Arif tampak geram. "Tinggalkan saja Bro!"

Asep mengangguk pelan, memandangi arah bawah. Entah apa yang dilihatnya, apakah seekor kucing lewat di kaki--atau mungkin rasa penyesalan hinggap di pikirannya.

Saya diam dan membisu sampai kami pulang. Kejadian yang menimpa Alex dan Asep membuat saya terpukul sebagai seorang laki-laki. Saat bubar, saya tidak langsung pulang ke rumah, melainkan menyusuri jalan Kota Pontianak yang bermandikan cahaya lampu. Di sebuah jalan--saya berhenti sejenak, memandangi setir--terbungkus kulit sintetis berwarna merah.

Dalam hati saya berkata, "Apa jadinya seandainya benda ini suatu hari menjadi benda kuno? Apa yang akan dilakukan para perempuan kepada saya?"

Tiba-tiba hujan turun, lumayan deras. "Ah ... minimal saya bisa berteduh."

(End)

Pontianak, 29 April 2016

Dicky Armando

Sumber foto: www.carsguide.com.au