Ustazah "Abal-Abal"?

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 27 April 2016
Ustazah

Sejak lama saya mengkhawatirkan hadirnya para ustaz dan ustazah baru di televisi, yang mana sepak terjang dari orang-orang tersebut belum terlacak selama ini. Maksud saya adalah idealnya seorang ustaz atau ustazah berasal dari kalangan yang ter-edukasi dengan sangat baik di bidang agama islam, misalnya beliau-beliau ini sudah punya jam terbang tinggi dalam berdakwah di berbagai tempat di Indonesia, punya bacaan Alquran yang baik serta mengerti artinya, dan merupakan lulusan dari lembaga pendidikan agama islam yang credible.


Baru-baru ini diberitakan tentang seorang ustazah “abal-abal” yang dipetisi oleh sejumlah netizen karena dianggap tidak layak menyandang gelar sebagai ustazah—karena belum fasih dalam pembacaan hadis dan penyampaian ayat-ayat Alquran. Saya kali ini enggan menyebutkan nama meskipun sumber beritanya cukup jelas, tapi ciri-cirinya sebagai berikut:


• Pernah main film
• Sudah menikah
• Masih muda
• Mengisi acara dakwah di sebuah stasiun televisi
• Petisinya dapat diikuti pada situs internet www.change.org


Beberapa waktu lalu, saya sempat berdiskusi dengan seorang anggota di Inspirasi.co—sebut saja namanya “I”—mengenai motivasi orang-orang yang menulis hal-hal tentang dakwah, apakah mereka murni berdakwah? Atau cari tenar? Entahlah ....


Dalam diskusi di postingan I tersebut—saya mengatakan setuju dengannya mengenai kita harus punya pengetahuan mumpuni jika membahas hal-hal tentang agama, karena akan sangat berbahaya jika tidak memiliki panduan yang tepat tentang pembahasannya. Setahu saya—untuk menjadi ahli tafsir Alquran dan hadis itu menghabiskan waktu lama, maka apa jadinya jika muncul ada orang yang sedang bersemangat berbagi informasi—kemudian mengutip ayat dan hadis tanpa pendalaman ilmu? Ketika penafsiran dan penjelasannya salah, lalu pembaca terpengaruh, salah siapa?


Kembali lagi tentang kasus ustazah “abal-abal”. Dalam berita yang saya baca itu, sang pendakwah wanita sering meminta fasilitas mewah dan tarif yang mahal saat melakukan ceramah secara off-air, dan selalu memamerkan hal-hal duniawi di akun instagramnya. Kabarnya ia telah dipetisi oleh lebih dari 1000 orang.


Saya pribadi berharap berita tersebut tidak benar, karena berpotensi mencoreng citra agama yang dibawanya ke ranah publik.


Terlepas dari benar atau tidaknya berita di atas, saya berharap agar siapa pun orang yang akan berkiprah di dunia dakwah—hendaknya “berkaca” dan memastikan kedalaman ilmunya agar bisa mencerahkan khalayak.

 

Pontianak, 27 April 2016

(Dicky Armando)

Sumber gambar: weheartit.com 


 


 


  • Fina Destriana
    Fina Destriana
    1 tahun yang lalu.
    nice pemikirannya luas banget...keren ka

    • Lihat 3 Respon

  • Ujank Ahmad Solihin  
    Ujank Ahmad Solihin  
    1 tahun yang lalu.
    Kritis yang agamis
    Saya Suka Sekali


    • Lihat 1 Respon

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    sempet mikir hal yang sama juga, tapi saya tau dan saya no comment aja deh

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    Menjadi Da'i adalah menjadi saksi. Mengetahui lalu menyampaikan. Pekerjaan ini beratnya bukan kepalang, sehingga Syahadat itu "Aku bersaksi"
    Hanya saja, ilmu sebanyak apa sehingga seseorang layak untuk menjadi Da'i (Saksi)?

    Beberapa tahun yang lalu saya sering secara tidak langsung berinteraksi dengan mbak nya, beliau pribadi yang baik. Sepengetahuan saya waktu itu.

    • Lihat 2 Respon

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    So confused Haahahahahacim, Keren tulisannya, Hadehh Pikiran nya bisakemana" top