Penjelasan Singkat tentang Efek Domino

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 April 2016
Penjelasan Singkat tentang Efek Domino

Kelas saya—3 IPS 1—ketika itu adalah kelas yang tenteram. Terkenal sebagai kelasnya siswa-siswa baik hati dan tak pernah punya masalah. Rahasianya adalah kami semua tidak pernah ribut di kelas saat guru berhalangan mengajar. Sepanjang waktu diisi dengan kegiatan masing-masing, nyaris tanpa suara, misalnya bermain kartu domino, catur, berdandan cantik (khusus siswi), tidur cantik (siswa/i), dan lain-lain.

Saya sebagai ketua kelas membebaskan mereka melakukan apa pun kecuali keluar kelas, melakukan tindakan asusila, dan penggunaan narkoba. Hal ini dilakukan karena percuma melarang kawan-kawan yang sudah bisa berpikir sendiri, mereka akan melawan jika merasa terkekang.

Suatu hari seorang guru tidak bisa mengajar karena sakit. Tentu saja merupakah kabar gembira, kesempatan untuk mengistirahatkan sejenak rasa penat sejak tadi pagi. Seperti biasa—saya, Zaman, Bima, dan Dwi—bermain kartu domino di bagian belakang kelas. Posisi duduk saya di samping meja, sehingga masih bisa melihat kondisi pintu masuk—demi keamanan kami semua, atau dengan kata lain, kami bisa dalam keadaan siap siaga apabila ada guru masuk tiba-tiba.

Suasana kelas cukup tenang, di bagian kiri kelas—para siswi bergosip dengan cara berbisik, kemudian tertawa cekikikan. Entah apa yang ada di pikiran mereka, mungkin sedang membicarakan ketampanan wajah kami—para siswa. Di tengah kelas adalah surga bagi yang mengantuk, embusan kipas angin menerpa wajah, menimbulkan rasa kantuk dan kedamaian seperti rona-rona senja.

Saya dan rekan masih asyik bermain kartu domino. Kali ini kami lengah, tidak mendengar suara langkah kepala sekolah mendekat ke kelas. Sialnya, Faisal sang penjaga pintu juga tertidur pulas, wajahnya ditutupi buku sosiologi berukuran besar.

Faisal ditempatkan sebagai penjaga pintu, karena dia adalah seorang siswa alim. Misalnya ada sesuatu yang mengejutkannya, ia selalu mengucap: “Astaghfirullah!”. Sudah beberapa kali kami sekelas selamat karena sikapnya.

Merasa terlambat memperingatkan kawan-kawan lain, saya langsung membuang kartu ke arah Zaman. Bima yang membelakangi pintu diam sejenak memandangi saya yang sedang memperhatikan pintu masuk, ia lalu melempar kartu ke arah Zaman pula. Dwi melakukan hal yang sama. Sementara Zaman sudah tak bisa berkutik.

Saya, Bima, dan Dwi langsung berpura-pura membaca buku pelajaran. Siswi-siswi berhenti bergosip, yang di tengah kelas bangun dari tidurnya. Faisal—sang penjaga pintu masih lelap dalam mimpi indahnya.

Kepala sekolah menghampiri tempat kami bermain kartu, langkahnya cepat dan tegas. Ia melihat Zaman “bersimbah” kartu di meja-nya.

“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Pak Ridho (nama samaran) dengan suara keras.

“Ti ... tidak Pak,” jawab Zaman lemas. Kami punya aturan, jika seseorang tertangkap tangan melakukan kenakalan, maka tidak dibolehkan menyebutkan nama anggota yang lain.

“Tidak apa? Itu banyak kartu berserakan! Mau bohong ya!”

“Tapi ... tapi saya dijebak Pak!” Zaman mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Pak Ridho juga sepertinya sudah tahu siapa saja pelaku permainan kartu, tapi ia malas untuk menyelidikinya lebih lanjut.

Pak Ridho menarik tangan si Zaman. “Kamu ikut saya ke kantor sekarang juga!”

“Apaaa?”—badan Zaman mundur ke belakang melawan tarikan—“Tapi saya tidak ... tidak ....”

Perkataan Zaman terhenti saat saya, Bima, dan Dwi mengacungkan kepalan tinju secara sembunyi-sembunyi. Kami bertiga tahu bahwa terlambat sedikit saja—maka rahasia akan terbongkar.

Akhirnya lelaki yang sekarang menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Pontianak itu terseret-seret, ditarik paksa oleh kepala sekolah. Sebelum keluar kelas, Pak Ridho sempat menepuk buku sosiologi Faisal, sehingga membuat pimpinan remaja masjid sekolah tersebut terkejut, kepalanya membentur dinding kelas, liurnya menempel di buku. Dari kejauhan Zaman melambai-lambai kepada kami semua, tanda meminta pertolongan. Kami juga melambai kepadanya, tanda selamat jalan.

***

Saat upacara hari senin, Pak Ridho mengeluarkan pernyataan keras. “Barang siapa yang ketahuan bermain kartu domino di dalam kelas, maka ia akan menyesal!!”

Saya dan teman-teman sekelas berpandangan, tanpa kata.

***

Keesokan harinya, guru sejarah berhalangan hadir. Saya memilih tidur di meja. Tak lama Zaman dan Bima mendekati. “Bro kita main ini yuk!” Bima mengeluarkan setumpuk kartu remi bergambar ikan mas koki pada bungkusannya.

Lho, kita sudah tak boleh bermain kartu!” tegas saya.

“Yang tidak boleh itu kartu domino Bro! Bukan kartu remi.” Jawab Zaman.

Benar juga apa yang mereka katakan. Akhirnya tradisi bermain kartu berlanjut lagi tanpa ketahuan sampai kami lulus SMA. Sepanjang waktu itu, Faisal menebus kesalahan dengan berjaga tanpa tidur mengawasi pintu masuk di meja paling depan, tidak tanggung-tanggung—ia memandangi setiap pergerakan guru yang keluar masuk dari ruangan para guru. Seandainya muncul kecurigaan, Faisal langsung berteriak: “Fire in the hole!”. Seketika itu pula kelas dalam kondisi membaca, meski buku yang dibaca terbalik-balik posisinya. Terima kasih Faisal.


Pontianak, 15 April 2016

(Dicky Armando)

 

Sumber foto: www.cardplayingworld.com