Misteri Ingus

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 April 2016
Misteri Ingus

Dulu ... saat masih kelas 1 (satu) SMA, saya pernah terkena penyakit flu yang amat sangat (lebay). Sepanjang jam pelajaran teman-teman sekelas menikmati suara tarik ulur ingus. Teman saya--Stepanus--terkena semprotan bersin bertenaga kuda di belakang kepala, saat itu saya duduk berada di belakangnya.

"Eh kampret! Itu ingus dibuang saja!" seru Stepanus. Teman-teman lain ternyata satu suara dengan kepala suku di kelas saya itu, mereka mulai risih mendengar nada naik turun dari hidung saya.

Seorang guru biologi--namanya Pak Harun berkata kepada saya, "Dicky ... itu ingus adalah bentuk perlawanan tubuh terhadap virus yang berada pada saluran pernafasan. Jadi harus dibuang, jangan dipelihara!"

Akhirya ingus ini pun saya buang di dekat jendela kelas, awalnya rumput menjadi incaran saya--tapi karena kekentalan ingus sangat masif--menyebabkan target meleset dan menempel pada dinding bawah jendela kelas. Tempat tersebut biasanya dijadikan lokasi untuk kawan-kawan saya yang merokok pada jam istirahat siang.

***

Detik berlalu, hujan turun silih berganti, jarum jam berputar sombong. Lewat satu minggu saya mendengar kabar mengejutkan dari si Afrizal, teman saya, sang "ahli hisap". Ia mendatangi saya yang sedang makan di kantin.

"Woi! Kau tahu apa akibat perbuatanmu?" bentak Afrizal.

"Ya tidak tahu!" balas saya.

"Aku tak bisa merokok lagi di tempat biasa! Itu semua gara-gara kau!"

"Apaaaaaaa?" Seakan-akan ada kamera menyorot wajah saya, close up!

Saya langsung berlari menuju tempat kejadian, dan menemukan dinding yang terkena ingus--cat-nya mengelupas besar sekali, seperti disobek secara brutal. Si Stepanus kebetulan ikut bersama saya mengelus dada.

Pulang sekolah, saya berpikir keras mengapa hal itu bisa terjadi. Internet dan buku-buku pelajaran saya buka kembali dengan harapan menemukan penjelasan, tapi hasilnya nihil.

***

Suatu hari ... kalau tidak salah satu tahun yang lalu, saya sakit flu (lagi). Kali ini ingus tepat mengenai daun tanaman tomat milik ibu, tidak bermaksud mengincarnya--tetapi salah sasaran lagi akibat ingus terlalu kental. Pada suatu pagi--saya menemukan daun malang itu berwarna kekuningan, agak layu, berbeda dengan jajaran daun yang lain.

Saya tidak menyangka--ternyata ingus memiliki daya hancur yang cukup dahsyat. Sampai hari ini pun belum menemukan jawaban atas misteri tersebut. Mungkin suatu hari nanti jika ada penelitian lebih lanjut--saya yakin bahwa ingus bisa menjadi senjata mematikan. Setidaknya sekarang ini orang-orang pasti menjauh ketika melihat ingus di dinding atau di jalanan. Ah ... semoga ada penjelasan mengenai misteri yang saya alami sejak lama.


Pontianak, 13 April 2016

(Dicky Armando)

 

Sumber foto: www.twitter.com