Apresiasi Puisi: Dunia Tanpa Nada, Karya Mochamad Syah Rizal

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 11 April 2016
Apresiasi Puisi: Dunia Tanpa Nada, Karya Mochamad Syah Rizal

Puisi karya Mochamad Syah Rizal berjudul: Dunia Tanpa Nada—yang diterbitkan di Inspirasi.co—cukup menyentuh hati saya sebagai pembaca awam, dan saya secara pribadi berharap karyanya bisa tampil di media cetak juga. Berikut puisinya:

 

Ku tekan tuts-tus piano tua ini
Dengan jari-jemari yang semakin mati
Mati tak bisa merasakan sentuhan
Karena kita tahu tubuh ini mempunyai alasan

Ku buat rangkaian kunci dengan indah
Ku lantunkan melodi yang sangat megah
Ku mainkan lagu-lagu yang menggugah
Semuanya akan ku beri sebelum berpisah

Semua ini hanya untukmu istriku
Yang selalu setia mendengar setiap lagu
Meski aku dan semua orang berkata
Duniamu yang semu .. Dunia tanpa nada

 

Ketika membacanya terasa ketulusan seorang suami kepada istrinya. Diketahui pada kolom ringkasan yang disediakan Inspirasi.co, Mochamad Syah Rizal menuliskan puisi ini tentang seorang suami—memainkan piano untuk istrinya yang memiliki keterbatasan pendengaran.

Penulisnya dengan apik bisa menceritakan dengan cukup puitis dan mudah dimengerti, hebatnya—saya yakin Mochamad Syah Rizal bukanlah “si suami”—maka ia sangat berhasil memainkan tokoh fiktif dalam imajinasinya menjadi sosok nyata. Bukan hal mudah.

Saya cukup tertarik dengan dua kata pada bait 1 (satu): “Ku tekan”. Apakah penulisan yang dipisah itu memang disengaja oleh penulis? Ataukah merupakan typo? Karena kalau tidak salah (mohon koreksi kalau saya salah) penulisan yang benar adalah: “Kutekan”. Kecuali menggunakan kata “aku”, maka memang benar dipisah: “Aku tekan”. Pengulangan kata "tuts-tus" juga menjadi pertanyaan buat saya, mungkin kali ini penulis memang melakukan typo. Tuts adalah bilah-bilah pada piano atau organ yang bila ditekan mengeluarkan bunyi (KBBI).

Pada bait 2 (dua) saya menemukan hal yang sama seperti yang dijelaskan di atas: “Ku buat”. “Ku lantunkan”, “Ku mainkan”, “Ku beri”. Namun bait ini begitu serasi dengan permainan rima berpola a-a-a-a. Sangat cocok dan pas porsinya, sesuai dengan kesinambungan puisi itu sendiri.

Bait 3 (tiga) adalah bait paling romantis menurut saya. Mungkin jika dituliskan dalam sebuah kata, maka yang cocok adalah: kesetiaan! “Semua ini hanya untukmu istriku”, kalimat ini mungkin adalah sebuah pernyataan yang sudah jarang didengar oleh perempuan dengan status menikah, maklum zaman modern sekarang—suami cukup mengetik emoticon love kepada sang istri via telepon genggam.

Terlepas dari seperti apa penulisannya, gaya bahasa, dan lain sebagainya—saya sangat menikmati puisi karya Mochamad Syah Rizal. Saya menunggu puisi-puisinya yang lain!


Pontianak, 11 April 2016

(Dicky Armando)

 

Sumber bacaan: Kamus Besar Bahasa Indonesia

Sumber foto: Inspirasi.co 

 


  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    Wah mohon maaf karena saya baru bisa merespon sekarang hehe
    Terima kasih untuk apresiasinya juga untuk segala koreksi yang ada pada karya tersebut, dengan begitu saya bisa lebih baik lagi untuk karya kedepannya.. Sekali lagi Terima kasih banyak untuk Dicky Armando Saya sangat tersanjung .. Sedikit bercerita tentang puisi tersebut, puisi itu sebenarnya terinspirasi dari keinginan saya ingin bisa bermain piano juga impian menjadi seorang suami yang baik. Tentang "Tuts-tus" saya baru menyadari karena ketika itu saya menulis tanpa pakai kaca mata saya hehe

    • Lihat 2 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Wah... wah... wah... ^_

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Setuju, bikin yg baca larut dalam bingkisan alurnya

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Mantaab..!! Kayaknya telah lahir kurator puisi di inspirasi.co

    • Lihat 6 Respon

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    sebegitu telitinya mas ini...salut!