Diskriminatif

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 April 2016
Diskriminatif

Beberapa waktu lalu?saya bertemu dengan seorang teman lama?Rika (nama samaran). Ia adalah seorang mantan kasir di sebuah bank swasta. Pada kesempatan itu?perempuan berambut panjang ini menceritakan sesuatu kepadaku perihal pengalamannya melamar pekerjaan di sebuah bank lain.

?

?Aku ditolak bekerja di Bank ?P? ... Dik,? kata Rika. Wajahnya tunduk.

?

?Gara-gara apa? Pengalamanmu sudah banyak sebagai kasir di Bank ?B?, bahkan aku saja kalah jika harus adu cepat hitung denganmu.?

?

?Karena aku beragama Islam,? jawab Rika lesu.

?

?Apa?? Saya benar-benar terkejut, ternyata isu SARA masih saja ada di lingkungan pekerjaan.

?

?Iya ... kata manajernya aku sudah memenuhi kriteria kecuali satu hal. Ya ... itu karena aku beragama Islam. Nanti waktu beribadah zuhur dan asar, mengurangi waktu kerja.? Rika menitikkan sedikit air dari matanya.

?

?Lalu? Bagaimana tanggapanmu?? tanya saya lagi.

?

?Tentu saja aku tak melanjutkan wawancara tersebut. Meskipun aku sedang butuh kerjaan baru, tak sudi jika harus menggadaikan iman hanya untuk manusia,? tukas Rika tegas.

?

Saya memperhatikan raut wajah Rika, ada kekesalan sekaligus kelegaan di sana. Kami pun berpisah saat pesanan makanannya sudah jadi duluan, saya dan Rika memang sedang dalam antrian di sebuah restoran cepat saji.

?

Dalam perjalanan pulang?perkataan Rika terbayang-bayang dalam kepala?masih terkejut ternyata pemikiran sempit terhadap keyakinan seseorang bisa membuat seorang atasan melakukan penilaian yang sangat diskriminatif. Tapi apa pun itu, saya salut dengan Rika?ia sangat teguh dan tabah.


Pontianak, 2 April 2016

(Dicky Armando)

?

Sumber foto:

?


  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    baguslah~ semoga dengan begitu keimanan mba rika semakin bertambah. dan bisa mengambil hal positif. ((kerja gak harus di bank. apalagi itu gudangnya riba.))

    • Lihat 2 Respon

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Jika itu kejadiannya sekarang.. klo gw sih gak nyalahin pimpinan perusahaannya.. walo aturan perusaahaanya itu melanggar HAM tentang kebebasan beragama...opini gw ini ibarat pribahasa "nila setitik rusak susu sebelanga" coba liat fenomena medsos.. agama di jadikan politik.. dan postingan2 yg mengarah SARA.. dan juga kenyataan kebijakan perusahaan memberikan toleransi waktu utk sholat di jam kerja digunakan tidak semena2.. yaitu dg memperpanjang waktu solat.. dari jatah 5/10menit bisa setengah jam .. mungkin karema itu perusahaan tdk menirimanya.. karena dulu ada contoh2 yg mengakibatkan perusahaan mengambil kebijakan tersebut.

    • Lihat 9 Respon