Apresiasi Puisi: Kedamaian atau Kebenaran? Karya Latifah Nurhidayah

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 31 Maret 2016
Apresiasi Puisi: Kedamaian atau Kebenaran? Karya Latifah Nurhidayah

?Kedamaian atau kebenaran?? Dua kata yang dipertanyakan Latifah Nurhidayah. Puisi ini sangat menarik, tema-nya lumayan jarang diangkat oleh perempuan, mungkin penulisnya seseorang yang anti mainstream.

Dalam ringkasannya, penulis menjelaskan: ?Tentang kegelisahan dalam sebuah perbincangan.? Saya menebak ada pertentangan batin antara seorang pencari kebenaran dengan rekannya yang memilih perdamaian.

?

Mereka berkata tentang kedamaian. Ada pula yang bersajak tentang kebenaran. Semua beradu satu sama lain .

Mereka berkata ciptakanlah kedamaian terlebih dahulu tak perlu pusing tentang kebenaran.?

Setelah damai, barulah kita sampaikan tentang kebenaran.

Aku memicingkan mata.?

Kedamaian katamu ?

Kedamaian yang dibangun tanpa kebenaran apa artinya ?

Kau hanya menghindari konflik bung,?

Kau takut perlawanan

Maka kau bilang lebih baik ciptakan perdamaian

?

Maaf, aku bukanlah para pengemis kedamaian

Hatiku sudah damai, meski kau lihat aku berpeluh

Sebab kebenaran itu tak bisa dibeli, tak bisa diganti

Ia adalah kepastian yang nyata

Sebuah prinsip yang sempurna.

Kebenaran yang nyata.?

?

Dari puisi di atas terlihat watak keras dari seseorang yang mengutamakan kebenaran. Buat apa kedamaian jika semu di dalamnya, begitu kira-kira pemikiran saya terhadap tulisan Latifah Nurhidayah ini. Jelas pada kalimat: ?Kedamaian yang dibangun tanpa kebenaran apa artinya???

Tidak sampai di situ?si ?kebenaran? juga tak ragu untuk melakukan konfrontasi jika nilai-nilai kebenaran dilukai. Ia bahkan mengajukan pernyataan keras: ?Kau hanya menghindari konflik bung.? Jika dicermati, fenomena ini sering terjadi di kehidupan nyata?tentang orang yang mengalah hanya untuk ?cari aman?. Saya sendiri sering menemukan orang-orang seperti itu?dan kebanyakan (tidak semua) mereka memang pengecut jika menghadapi sesuatu, apalagi soal pekerjaan, intinya takut dipecat?tapi mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Tapi mereka berkilah juga, ?Kemanusiaan tidak bikin kenyang Bro!? Begitu jawab mereka kepada saya ... kesal juga.

Pada bait terakhir, penulis puisi ingin menunjukkan bahwa ?kedamaian? pada hakikatnya tak bisa diukur dengan mata, apalagi dibeli atau ditukar dengan apa pun. Karena letak damai itu di hati, siapa bisa melihat? Mungkin kata yang tepat menggambarkannya adalah ?prinsip?, tertulis pada puisi di atas.

Pada akhirnya ?kebenaran? dan ?kedamaian? merupakan kesatuan, hilang satu berarti ?pincang?. Latifah ... puisi anda menginspirasi saya!


Pontianak, 31 Maret 2016

(Dicky Armando)

?

Sumber bacaan:

  • Nurhidayah, Latifah. "Kedamaian atau Kebenaran?". n. p, 2016. Web. 31 March 2016. http://inspirasi.co?

Sumber foto:?

?

  • view 269