Apresiasi Puisi: Pemilik Rahim Cinta, Karya Anis Ekowati

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 31 Maret 2016
Apresiasi Puisi: Pemilik Rahim Cinta, Karya Anis Ekowati

Ingin rasanya mengapresiasi karya inspirator minggu ini?Anis Ekowati?yang berjudul ?Pemilik Rahim Cinta?.

Dari judulnya saya mencoba menebak puisi ini adalah tentang ibu atau bunda ... atau ... mama ... atau apalah sebutannya, pokoknya seseorang yang melahirkan para khalifah di muka bumi.

?

Ada tanda cinta di wajahmu
cinta yang tak pernah kauucap
suara bernada keras membangunkanku
kubilang, ?tunggu adzan subuh selesai dulu?
begitu dingin air merasuk pori kulit
kepulan uap nasi tersaji di meja

Kulihat wajahmu cemas
tubuhku lemas
semua makanan kutolak
segala hal kautawarkan dan hanya kugelengkan kepala
butiran air mata menetes pada mata rabunmu
seperti itukah cintamu saat aku sakit?

Doa-doa terapal setiap malam
aku tahu doamu selalu terbaik
lebih baik dari inginku
doa yang kauucap tanpa kutahu
doa tersembunyi, tapi malaikat pun tahu

Adakah kau pernah bersedih?
senyumanmu adalah wujud terindah dari cinta
cinta yang tak pernah terwujud dalam kata
apakah aku tidak peka untuk membaca wajahmu?

Wahai pemilik rahim cinta,
dengan rahim-mu aku terlahir
rahim yang penuh kasih sayang
cinta yang takkan pernah mampu kubalas

?

Pada bait 1 menurut penafsiran saya, penulis menggambarkan adegan sang ibu sedang membangunkan anak kesayangan dari tidurnya dengan penuh kasih. Tidak hanya itu, saya juga penasaran pada kalimat: ?begitu dingin air merasuk pori kulit?. Apakah kalimat tersebut menunjukkan si anak sedang disiram air karena susah bangun? Ataukah sedang berwudu? Saya memilih mengartikannya dia kena siram ibunya, karena sebelum itu ada kalimat perlawanan: ?tunggu adzan subuh selesai dulu?. Nah untuk kata ?adzan? mungkin ini termasuk licentia poetica, karena di KBBI?tertulis ?azan?.

Bait ke-2 saya merasakan adanya kekhawatiran dari ibu melihat anaknya susah makan alias sakit, kemudian merasa sedih dengan keadaan tersebut. Kasih ibu memang sepanjang masa, saya cukup tersentuh pada bait ini. Kalimat ?butiran air mata menetes pada mata rabunmu?, sangat ?menyentil?.

Bait ke-3 adalah hal yang selalu dilakukan semua ibu kecuali beliau seorang ateis. Mendoakan anaknya tiap hari tanpa satu pun manusia tahu.

Bait ke-4 menggambarkan kebingungan si anak, karena ibu jarang sekali mengungkapkan rasa cintanya secara verbal. Tapi pada akhirnya sedikit menyadari ada kekeliruan pada pemikirannya selama ini bahwa cinta tak harus diucap.

Bait ke-5 merupakan ungkapan rasa syukur, kesadaran akan kasih ibu, serta pemahaman terbatasnya kemampuan diri untuk membalasnya dengan apa pun. ?Cinta yang takkan pernah mampu kubalas?, sepertinya kalimat ini benar-benar mengingatkan dosa-dosa saya kepada ibu tercinta, huaaaaaaa!!!!

Demikian ulasan ini, dan setelah membaca puisi Anis Ekowati?saya yakin bahwa ia memang pantas menjadi inspirator minggu ini. Mantap!!


Pontianak, 31 Maret 2016

(Dicky Armando)

?

Sumber bacaan:

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
  • Ekowati, Anis. "Pemilik Rahim Cinta". n.p, 2016. Web. 31 March 2016. http://inspirasi.co?

Sumber foto:

?

  • view 189

  • B.R. Karya 
    B.R. Karya 
    1 tahun yang lalu.
    licentia poetica itu makanan apaan om?

    • Lihat 7 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    begitu dingin air merasuk pori kulit --> murni karena dinginnya pagi, bukan karena disiram ibu -___-

    • Lihat 5 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    wew
    pak Dicky keren
    setiap karya puisi dibedah
    terimakasih

    *siap2 minggu depan anda yang jadi inspirator mingguan

    • Lihat 3 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Makasih. Pasti yang py seneng banget.
    Asli