Manusia dan Batu Quartz

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Filsafat
dipublikasikan 25 Maret 2016
Manusia dan Batu Quartz

Saya mengatakan bahwa manusia dan batu quartz itu mirip. Mengapa? Bukan karena fisik, tapi "tampilan" yang terkandung di dalamnya dan yang tampak di mata.

?

Quartz adalah senyawa kimia yang mengandung satu bagian silikon dan dua bagian oksigen (King). Apakah oksigen dan silikon membuat mirip dengan manusia? Oh ... bukan itu, tapi "tampilan". ?Begini, batu tersebut memiliki beberapa macam warna, yaitu:

  • Merah
  • Bening
  • Abu-abu
  • Merah muda
  • Putih?
  • Coklat
  • Kuning

?

Penilaian sebuah batu mulia dan/atau semi mulia berdasarkan "4C":

  • Color (warna)
  • Carat (volume/massa)?
  • Cut (bentuk potongan)
  • Clarity (tingkat kecerahan batu)

?

Misalnya seorang manusia, berkulit putih cerah dan tampan. Hati-hati jangan tertipu, karena belum tentu ada "retak" di dalamnya. Seperti batu quartz--ia boleh saja berwarna bening, tapi jika memiliki retak--maka harganya akan menurun. Begitu pun manusia, tidak ada jaminan orang berkulit legam lebih buruk daripada orang berkulit putih cerah. Contohnya, batu quartz berwarna abu-abu belum tentu lebih murah daripada yang berwarna kuning cerah, bisa jadi karena faktor "cut"-nya tidak mendukung. Biasanya potongan berbentuk berlian lebih mahal, sementara potongan oval belum tentu dapat menyamai--dikarenakan proses panjang dan sulit. Bagaimana dengan manusia? Sama saja ... tampilan boleh mantap, tapi jika faktor-faktor pembentuk sikap--cenderung tidak baik, maka tampaklah keburukannya.

?

Bisa juga terjadi kasus seperti ini, batu quartz dengan kualitas warna yang sama--bahkan bentuknya sama, tapi berbeda dalam hal "carat". Tentu saja akan lebih berharga yang memiliki volume/massa lebih besar.Dalam hal ini--manusia boleh identik tampan, tanpa "retak", tapi memiliki perbedaan ilmu pengetahuan, barang siapa lebih cerdas, maka ia lebih baik tentunya.

?

Pada akhirnya, manusia selalu memiliki "cacat". Ada saja keburukan dalam berbagai bentuk. Setidaknya kita berusaha mengurangi "retak" dengan belajar jadi "tukang gosok batu"--paham tentang batu yang akan digosok, dipertahankan ... atau potong!


Pontianak, 25 Maret 2015?

(Dicky Armando)

?

Sumber bacaan:

Sumber foto:

?