Tontonan yang Tak Jadi Tuntunan

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Februari 2016
Tontonan yang Tak Jadi Tuntunan

Anak-anak yang tengah tumbuh, teruntuk keponakan kecil saya. Bukankah kalian pernah menatap dengan bola mata bulat penuh ingin tahu, perasaan menggebu kemudia diganti dengan lenguh kecewa. Katamu pagi di minggu cerah itu "nggak seru Tan, nggak ada kartun lagi". Tak apa nak, kita selalu tahu dari abad sebelum masehi bahwa yang kuat yang berkuasa, termasuk soal industri televisi. Tante pernah membaca buku Nick Vujivic. Jangan tanya siapa dia sayang, karena saat kamu mencari tahu kamu akan menemukan bahwa kalimatnya bukan teori tapi mutlak solusi sayangnya seperti kata Brajanji Baijan bahwa dunia lebih suka berita kejahatan dibanding cinta dan ketulusan. Jadi, meski Nick bilang akan lebih menyanangkan menyaksikan televisi yang dipenuhi oleh berita prestasi seorang artis bukan skandalnya. Kenyataan pahitnya berita tentang prestasi tak selaku berita mengenai aib, nak. Jadi, bersabar saja. Kalau tak suka cukup tidak didengarkan. Itu bukan berarti tak melakukan apapun, karena jauh lebih baik diam daripada memaki namun disaat berbarengan menikmati.

Tante pernah membaca tulisan seseorang, katanya dunia ini hanya sekumpulan paradoks. Semua orang menginginkan tontonan yang baik, edukatif dan informatif. Tapi, ketika kau tanya apa yang mereka tonton, mereka akan menjawab... Infotaimen, sinetron dan komedi yang sepanjang durasinya hanya berisi penistaan soal fisik.

Sayang, anak-anak seusia kau kini tumbuh terlalu cepat. Tak sayang, ini bukan karena mereka kelebihan hormon somatotropin. Mereka tak menderita gigantisme. Mereka menderita sebuah virus amoral. Tapi, sayangnya nak. Hampir semua pihak tidak ikut turun tangan mencari vaksinnya. Penangkal virus mematikan tersebut.

Sayang, orang-orang terus saja sibuk mencaci maki. Katanya ramai-ramai, mereka akan buat semacam somasi pada KPI tentang betapa tidak mendidiknya acara saat ini. Kau boleh tertawa sayang, mereka lupa satu hal bahwa tontonan itu terus ada dan merusak karena permintaan pasar. Sinetron yang disebut hedonis, terlalu kota atau entahlah penuh dengan adegan saling hina ada karena suka atau tidak tetap diminati pasar.

Kelak, kau akan paham tentang permintaan barang dan jasa. Sesuatu yang rumit sekali, bahkan untuk orang dewasa. Sayang, tante tidak suka sebenarnya membandingkan dua hal yang tak sama, tak relevan. Tapi, baiklah tante akan sedikit menjelaskannya. Pertama, tante hidup saat lagu di obok-obok lebih terkenal dari lagu bang Jono yang tak pulang-pulang itu. Kedua, keluarga cemara adalah tontonan favorit karena meski penuh dengan air mata, masih terselip kerja keras sayang. Terakhir kau akan pahami bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Sementara saat ini anak jalanan bahkan bisa membeli motor besar yang tentu saja harganya bukan recehan. Sesuatu yang kontras antara judul dengan kehidupan nyata.

Pada akhirnya, semua kembali pada bagaimana seleramu. Industri televisi terpaksa mengikuti rating karena semakin tinggi rating semakin banyak iklan maka semakin besar pemasukkan. Ayok sayang, gegas kalau kau tak menyukai sesuatu jangan mengutukinya tapi tandingi. Buat film, buku atau sederhananya film dan buku dapat mengubah dunia kalau kau tak bisa membuatnya karena kau penikmat, maka nikmati yang baik sayang. Jangan sibuk memaki cukup turut memperbaiki.

  • view 122