Demo Guru

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Lainnya
dipublikasikan 17 Februari 2016
Demo Guru

Dunia kuliah memang terlampau kejam. Tidak seperti saat SMA (Sekolah Menengah Atas) dimana Anda dapat memastikan bahwa solidaritas akan selalu terjaga. Kuliah adalah jua tentang siapa yang lebih beruntung dari siapa. Maksud saya, tentu saja bukan hanya keberuntungan mutlak. Tapi, ditambah kerja keras. Tidak ada yang mudah di dunia ini salah satunya adalah menyelesaikan pendidikan tinggi.

?

Anda, akan dihadapkan pada liku-liku penuh drama. Dari mulai fase adaptasi dengan orang-orang yang jauh lebih individualis. Hingga tahap membangun ikatan yang syarat dengan kompromi. Di universitas untuk sebuah gelar yang disematkan di belakang nama Anda, lebih dari sekedar pundi-pundi rupiah yang dikeluarkan dan dibayar lunas oleh orangtua Anda adalah jua tentang kegigihan.

?

Dosen Anda akan bicara panjang lebar tentang menjaga kesehatan tapi, disaat yang sama tumpukan tugas dari makalah sampai lada adalah tanggung jawab dengan tenggat waktu. Jika, tak sanggup diselesaikan biasanya tak ada toleransi.

?

Masalahnya, bukan disana. Sebut ini duniawi dan matrealistis. Tapi, kalau boleh jujur mari kutip pepatah ini 'uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang' termasuk di dalamnya adalah proses buang air kecil di mall. Ya, Anda butuh dua lembar seribu rupiah untuk mengeluarkan limbah dari tubuh Anda maka memasukkan energi juga butuh biaya bukan?

?

Maka, berita yang akhir-akhir ini tak jadi headline tapi terus menerus tayang. Mengoyak hati saya. Pertama, karena saya mahasiswa keguruan dan lebih dari keterpaksaan saya menyebut ini karma. Dari awal saya mulai bercita-cita menjadi guru tak pernah ada dipikiran saya. Mengingat betapa anak-anak saat ini tumbuh terlalu cepat daripada periode seharusnya. Belum ditambah, mengurus anak-anak yang semi dewasa jauh lebih sulit. Saya harus belajar hal-hal kekinian, masuk ke dalam duniannya sebelum memberi satu dua hingga berpuluh teori. Sayangnya, saya harus juga berhadapan pada kepahitan bahwa separuh dari mereka justru sibuk dengan doodle, artis korea dan musik pop atau lawan jenis. Kedua, saya tidak memiliki silsilah keluarga guru. Maka saya buta arah dan miskin ilmu. Awalnya ayah saya pikir, dengan menjadi guru akses pekerjaan mudah, fleksibel dan tentu saja gaji lumayan. Sayangnya, ketika saya nyambi bekerja saya paham bagaimana menjadi guru adalah tentang jerih dan berpayah-payah dengan uang yang hanya seadanya. Maksud saya, kalau Anda pikir menjadi guru mulia adalah benar tapi kami butuh makan. Gaji guru di sekolah swasta bahkan di lingkungan kota tanpa embel-embel swasta internasional dan hanya milik yayasan adalah 15.000 perjam pelajaran itu juga jam mati. Ketiga, saya terjebak dan terlalu pengecut untuk sekedar berlari. Halah, sungguh di kampus saya dunia dan akhirat harus seimbang. Setidaknya, syarat memperoleh gelar sarjana tak hanya sekedar lulus ujian komprehensif beserta toefl dan skripsi tetapi juga harus bisa menghabiskan juz ama dan beberapa ayat pilihan ditambah doa shalat dari gerhan a hingga mayat.

?

Kalau Anda lihat sekarang mereka yang sibuk demo. Hingga beberapa tewas, seharusnya Anda bisa dan siap dengan konklusi menyedihkan. Hanya di Indonesia seorang guru dibiarkan kehujanan, kepanasan dan kelaparan. Kultur sosial macam apa ini? Entah, di Jepang ketika Hirosima dan Nagasaki diledakkan mereka melakukan reformasi besar-besaran, yang dicari bukan politikus tapi guru. Berapa guru yang hidup?

?

Di sini adalah bentuk kebalikan dari Jepang. Guru-guru dipekerjakan seperti romusha. Gaji yang minim dengan jam kerja full ditambah harus mengkoreksi tulisan anak-anak. Kalau kini orang-orang tengah sibuk bicara hak asasi LGBT. Maka, saya juga ingin bicara tentang hak asasi sebagai pengajar.

?

Setidaknya urusan ini jauh lebih urgent dari sekedar kesamaan dan legalisasi LGBT. Kenapa? Karena, hei negara bisa mengganti buruh dengan robot tapi robot tak akan bisa mengganti peran guru sebagai pendidik.

?

Negara harus lebih wise, membuat regulasi yang mengatur upah guru karena guru butuh makan bukan hanya butuh sanjungan. Harus ada sistem yang dengan tegas mengatur kearah mana negara ini berjalan ditentukan oleh bagaimana pendidikan dijalankan.

  • view 143

  • Ariyanisa AZ
    Ariyanisa AZ
    1 tahun yang lalu.
    Saya udah lama baca tulisan Mba Dian yg ini dan waktu itu sempet share ke fb. Sebetulnya membaca tulisan ini saya lebih cenderung ke "merasakan hal yang sama" walaupun hitungan per-jam kita beda. hee
    Tapi overall kurang lebih begitulah apa yg ada di realita milik kita sekarang. Jadi pendidik memang kudu jauh lebih tabah dari apa yang pernah kita kira

    #Selamat hari pendidikan nasional

    • Lihat 2 Respon