Bapak dan Cinta Tanpa Ujung

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Februari 2016
Bapak dan Cinta Tanpa Ujung

Katamu sore itu 'nasib lo ya lo yang nentuin. Bukan gue dan oranglain.' Kamu benar, tidak ada yang bisa mengubah arah saya berjalan kecuali saya. Kamu benar tidak ada yang bisa membuat saya sampai di puncak kecuali kaki saya. Tapi, kamu lupa bahwa ada oranglain yang siap mengendong saya tepat di pundaknya. Ada orang lain yang selalu siap menuntun saya. Mengenggam jemari saya. Saya tak perlu teriak untuk meminta ia menoleh, saya tak perlu menangis untuk membuatnya berbalik. Saya sebut ia... BAPAK.

?

Apalagi yang lebih spesial dari itu. Jalan-jalan terjal yang saya tapaki. Mimpi yang kian samar. Kenyataan yang semakin pahit atau ketidakberdayaan yang dibuat-buat? Semua, kepadanya saya mengadu. Semua, dihadapannya saya bisa bicara 'jangan terlalu berharap pada saya'. Kelak harapan itu akan jadi bumerang semakin tinggi harapan, semakin kuat kehancurannya. Tapi, tak seperti kamu. Bapak terus tersenyum, ia bilang 'sekarang ya belum bisa jadi apa-apa atau siapa-siapa tapi siapa yang tahu masa depan. Selama giat berusaha tak ada yang tak mungkin. Tuhan menilai sebuah proses bukan hasil.'

?

Sesuatu yang tak akan pernah bisa saya bantah. Bukan karena Bapak, menyebut-nyebut Tuhan dalam dialog ini. Tapi, karena bagi saya Bapak adalah paket sempurna kasih sayang, pengorbanan dan peluh. Setidaknya, meski tak melunasi seluruhnya saya akan berusaha melunasi seperdelapannya.

?

Kamu tahu apa yang spesial dari Bapakmu? Jika ia bertanggung jawab kamu hanya akan mengangkat satu tanganmu. Lebih dari tanggung jawab ia melengkapi seluruhnya, sesuatu yang tak bisa kamu bantah meski kamu amat ingin mendebatnya. Karena, tidak semua lelaki sebertanggung jawab bapakmu. Tidak semua lelaki siap dipanggang matahari bersimbah peluh, menyekolahkan anak hingga hati dan kaki jadi saksi betapa segala upaya dikerahkan demi seluruh kebahagiaanmu.

?

Masa depan yang lebih baik, bapakmu menukarnya dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Hari-hari yang lebih cerah bapakmu memberinya meski peluh dan lelah menghantui. Apalagi yang lebih tulus dari pengorbanan bapak dan kasih sayangnya? Tak ada. Kecuali bapak dan ibumu mereka yang akan selalu dan selalu membuat Tuhan mengingat namamu. Doa mereka dan seluruh peluhnya. Kasih sayang mereka dan seluruh pengorbanannya. Adalah bukti bahwa kamu nggak sendirian memutuskan langkah dan kamu nggak perlu takut sendirian. Selama orangtuamu bersamamu, ia akan memotong seluruh ranting yang menghalangi jalanmu, menyapu bersih semua hambatan yang mungkin membuatmu tersandung. Setelah tugasnya rampung, entah kamu mau pulang atau tidak itu urusanmu. Tapi, kalau kamu tak pernah pulang dan mencari rumah baru apa kau akan temukan kehangatan yang sama besar seperti milikmu kini?

?

Kalau tidak sejauh apapun bertarung, mengarung, dan larung pulanglah kepada dua orang yang menantimu di gerbang rumah. Pulang, kepada mereka yang kasih sayangnya lebih panjang dan tak bermusim seperti hujan dan kemarau. Pulanglah kepada mereka yang pengorbanannya lebih perkasa dari seluruh ambisimu! Karena tanpa mereka kamu nggak pernah jadi siapa-siapa!

  • view 108