Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 31 Mei 2017   14:33 WIB
KTP Elektronik dan Animo yang Lebur

Saya menunggu tanpa banyak bertanya selama delapan bulan ini. Meski, urusan apapun selalu saja dipersulit tanpa KTP sebagai satu-satunya tanda pengenal yang autentik. Beberapa instansi publik, bank dan universitas bahkan selalu meminta SIM (saya tidak bisa mengemudi mobil/motor). 

Sering dicurigai sebagai penduduk gelap. Meski di tengah hari yang terang membuat saya mulai tidak bersemangat. Sebab, butuh berapa lama lagi KTP saya jadi, bahkan tidak ada yang tahu. Sekaliber petugas kelurahan. Saya sudah lelah bulak balik rumah dan kantor lurah. Sesekali petugasnya menjawab ramah tapi kadang sering dijawab dengan penuh penekanan. 

Tadi saat saya ke kelurahan. Entah bagaimana rasanya saya mulai berpikir. Sungguh, sekali saja saya akan benar-benar meminta pertanggung jawaban semua yang terlibat dalam urusan ini. Jikapun tidak di dunia maka saya pastikan di akhirat. Sebab, saya sudah lelah dengan segala anomali bernama 'tidak tahu' dan 'tidak berusaha mencari tahu'. Harus sampai berapa lama lagi KTP saya selesai diurus?

Saya juga bimbang harus membuat pengaduan kemana atau kepada siapa. Semuanya terlihat tidak perduli. Barangkali begini nasib kaum marjinal. Digantung tanpa kejelasan status. Itu sama menyakitkan dengan di PHP pria idaman .

Karya : Dian Nurmala Ws