What The Meaning of Move On?

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Januari 2017
What The Meaning of Move On?

Aku tidak pernah merasa terperangkap. Hanya saja, kamu seolah menjerat. Aku tidak pernah tahu, mengapa angka-angka yang kian bertambah seringkali membuat beban di pundak jadi lebih berat. Aku dulu berpikir, kalau saja kamu masih di sini. Melewati hari-hari yang tidak sama persis tapi cukup baik untuk menyaksikan senja berdua mungkin akan lebih menyenangkan.

Kamu mengajarkanku untuk punya tujuan. Bahwa hidup bukan perkara hari ini bernapas atau besok tidak. Aku butuh seseorang yang bisa menyeimbangi setidaknya dia membawa kompas seperti bagaimana dulu kita menyusun rencana.

Kita tidak pernah berbicara banyak. Tentang impian, kita hanya menuliskannya pada sebuah kertas kosong. Kemudian dirundingkan dalam diskusi malam. Sembari, menimbang mana yang patut diperjuangkan mana yang sebaiknya dilepas pergi.

Sebut aku pemilih, tapi kalaupun aku mau memutuskan bersama seseorang. Aku mau menghabiskan waktu tumbuh bersama. Bukan membiarkan yang satu tumbuh dan lainnya hanya jadi penyokong. Kamu mengerti tentang ekualitas.
Kamu mau belajar keluar dari zona nyamanmu.

Satu yang kamu tidak miliki adalah keseriusan. Sebab, barangkali buatmu serius berarti merampok sebagin besar kebebasan. Sebab, melupakan bagaimana kegagalan itu sulit. Meski jelas perceraian bukan warisan. Hanya, butuh waktu panjang menyambung sesuatu yang terlanjur jadi retak.

Aku selalu ingat. Malam-malam di mana kamu mengantarku kembali pulang. Berbekal sebuah payung dan membiarkan separuh tubuh kita dibasuh hujan. Sayup-sayup diantara percikan gerimis dan deru angin "Di, i don't believe you have to be better than everybody else. I believe you have to be better than you ever though you could be". Aku tidak tahu bahwa itu adalah bagian akhir dari waktu yang bisa kita bagi berdua.

×

Aku pernah membawa buku Charles Dicken. Membacanya keras-keras. Menggaris bawahi tentang keberuntungan 'A man is lucky if he is the first love of a woman. A woman is lucky if she is the last love of a man'.

Dengan kemeja biru muda yang digulung hingga siku kamu hanya tersenyum sambil bilang 'Dicken nggak 100% akurat. Kalo sebelumnya tuh cowok masih suka ama cewek lain he just be toxic for every girl'. Aku mengangguk pasrah.

Sebab, berdebat denganmu hanya akan membuat aku mengidap stroke ringan. Kamu selalu bisa mematahkan teori dengan teori lainnya. Atau tentang percakapan panjang tentang siapa yang salah terkait kematian Socrates.

"Socrates mempertahankan idealismenya. Nggak ada yang salah tentang itu!"

"Di, itu jelas keliru. Kita hidup dengan seperangkat aturan. Kamu cuma punya dua pilihan mengikutinya atau dianggap menyimpang dan akan dihukum".

"Itu nggak adil".

"Iya, memang cause life never be fair just because you are kind. You should give a shit!"

Aku menyimpan semua kenangannya. Percakapan panjang tentang apa saja. Aroma wangi dari shampo kuning yang selalu kamu pakai sebelum kita menghabiskan waktu di toko buku terdekat. Pernyataan tentang eau the toilet yang berbeda dengan cologne. Bahkan, sabun mandi dengan wewangian yang lebih mirip jamu. Kamu selalu tersenyum lebar saat kita berseteru tentang definisi jamu.

*

Aku selalu bertanya. Apakah perasaan adalah sesuatu yang gampang diubah? Maksudku, kamu bisa mencintai seseorang pada satu waktu dan saat ia pergi meninggalkanmu. Kamu mencari orang lain untuk menggantikan tempatnya?

Sebab buatku, akan butuh waktu lebih lama berdamai pada rasa sakit. Pedihnya kehilangan. Kamu benar 'you are not type who can fast move on. Cause you are always be the part of surah al inshirah.' aku mau bertanya padamu. Sebelum sempat buka suara. Kamu tertawa dan bilang 'lakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Lalu beralih ke hal lainnya. This is the best part of you that i like the most, Di'.

 

  • view 93