CRISIS MOMENT WHEN YOU FACED THESIS

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Oktober 2016
CRISIS MOMENT WHEN YOU FACED THESIS

A not little thing called skripsi. Gue seharusnya fine-fine aja sama urusan satu ini. Toh, dari awal mutusin kuliah gue tahu konsekuensinya. Terlibat dalam tumpukan tugas tidak manusiawi yang oleh beberapa dosen dibiarkan terongok mesra di atas meja kerjanya. Tidak dikoreksi. Gue tahu pasti, sebelum menyimpulkan bahwa tidak dikoreksi gue mengamati. Tapi, demi Tuhan gue tidak punya hak untuk bertanya retoritis 'ngapain nyuruh ngerjain tugas, kalo tugasnya cuma buat ngasih makan rayap'. Pertama, gue belum sebodoh itu untuk nyari mati you know what? Nggak semua orang dewasa itu seriously dewasa. Beberapa orang dewasa tetap kekanak-kanakan. Makanya, teori yang bilang ingatkan aku kalau salah harus lo kaji ulang. Tidak bisa sembarangan dipake di ranah pendidikan dan pekerjaan. Kita mirip lebah punya hirarki. Tahu posisi itu penting supaya nggak mati karena salah minum obat.

Kedua, gue bukan siapa-siapa. Gue cuma mahasiswa yang status dan posisinya sama dengan lebih dari ribuan orang yang lagi kuliah lainnya. Jadi, gue cuma punya hak mengomentari dalam lembar penilaian akhir kinerja dosen. Sayangnya, pertanyaan dalam penilaian tidak spesifik. Lebih banyak lagi yang ngisinya asal, sebodo teuing yang penting udah diisi. Maka, suara gue sejujur apapun tidak akan masuk bahan kajian. Cuma sekedar pelipur lara, setidaknya gue diijinkan balik menilai kinerjanya. Memberi feedback.

Ketiga, gue masih dalam kadar fine-fine only dikasih tumpukan tugas berat atau laporan praktikum yang harus banget tulis tangan serapih mungkin sebab kalo font tulisan lo nggak justify ada aja kalimat satir dalam lembar laporan. Gue ikhlas banget, mending disuruh praktikum sepanjang 2 semester dibanding skripsi.

Masalahnya sejak skripsi, gue jadi merasa 'tua'. Gue harus lebih memaknai duit dan hidup. Belajar sabar dan ikhlas sayangnya gue bukan Fachri dalam AADC yang punya Aisyah buat bilang 'ajarkan arti sabar dan ikhlas itu padaku Aisyah.' Gue cuma bisa usap-usap dada dan mengikhlaskan hasil tidak tidur semalaman selalu dibubuhi tanda silang. Harus selalu ikhlas , bahwa footnote yang aduhai itu meski sudah dikoreksi hingga mata merah karena iritasi ringan masih saja 'kurang tepat'.

Gue harus lebih sabar menafakuri bab I-III untuk mencari kesalahan tulis (typo). Kalimat mendayu-dayu (alay) yang harus dibumi hanguskan dari lembar ilmiah.

Menurut teori ngaco gue ada 2 tahap skripsi sebelum tiba pada puncak kemenangan (aka: sidang. Gue udah melewati fase I (denial). Gue sudah melewati fase anak alay yang nanya 'ini beneran dicoret separohnya?' atau 'yah padahal itu latar belakang udah bagus banget (versi muji diri sendiri)'

Gue sekarang ada pada tahap questioning 'if karma does exist?' sembari bertanya siapa yang gue sakiti karena rasa-rasanya sakit banget ditolak. Mungkin besok-besok kalo ada yang deketin nolaknya harus lebih halus 'saya ada rapat perasaannya taroh aja di meja'. Lalu, kalo semua orang nanya ke gue tentang tanggal wisuda. Gue harus nanya siapa kapan diwisuda? Prosesi yang sudah membuat gue kehilangan saripati tidur, duit bulanan untuk makan enak. Gue harus teriak ke siapa? Ke Tuhan sambil meringis dan miris bilang 'Rabb engkau lebih tahu dari seluruh orang dalam semesta. Tolong kasih saya petunjuk kapan wisuda?' Lo kira lagi nogel bisa minta angka-angka pasti kapan sidang dan wisuda.

Lalu gue masih terus berkutat pada tahap ini... Salah gue apa, ambil data udah, olah data udah. Kenapa dari Raisa (serba salah) jadi Geisha (selalu salah)?

Udah ah bodo gue sekarang dapet pertanda katanya 'jalanin aja. Hidup emang selucu itu. Katanya kalo udah nyampe 'limit' udah ngasih yang terbaik serahin sisanya sama Tuhan'. Jadi, kalo besok ada lagi yang sibuk nanya "udah sidang?" Kasih sianida aja sembari bilang "ngopi sianida yuk. Abis itu gue pasti disidang".

  • view 175