Kasih Sayang Berlebihan

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 September 2016
Kasih Sayang Berlebihan

Serusak apapun anak orangtua akan selalu jadi tempatnya kembali. Tangannya akan selalu menengadah mengirim jutaan doa terbaik kepada Tuhan. Matanya akan selalu terjaga bahkan saat terlihat lelap. Maka, tak usah tanya soal pikirannya yang berkelana.

Tapi, tak ada yang lebih menyakitkan dari kasih sayang berlebihan. Saya ingin sekali bertanya pada Bapak, di siang terik ini. Memintanya sekali saja tidak menyayangi saya. Mungkin terdengar seperti saya adalah pecundang tanpa rasa sukur. Saya hanya takut bahwa bapak, kelak akan terluka karena banyak berharap bahwa ketulusannya yang tanpa jeda itu akan berbalas.

Pak, ada banyak anak-anak yang kebutuhan hidupnya terpenuhi. Lebih dari cukup. Pakaian, sekolah yang layak, makanan bergizi. Tapi, mereka kemudian bermetamorfosis menjadi begundal. Di kirinya membawa minuman keras, di kanan menggandeng perempuan lengkap dengan zat adiktif. Mulutnya bau rokok. Badannya penuh tato.

Saya pikir, itu sejenis pengamen jalanan yang selalu mampir di angkot untuk menyambung hidup. Keliru, dia anak orang ada. Tidak kurang kasih sayang, ibunya bukan emak-emak yang berdandan cantik tiap pagi dan berdesak-desakan dengan lebih dari ribuan populasi penduduk Jakarta untuk sekedar meraup rupiah. Ibunya emak-emak rumpi yang cantik. Jangan tanya bapaknya yang gagah perkasa. Paket komplit dengan tambahan tajir dan tampan.

Pak, ia rusak bukan karena keadaan memaksanya. Ia hancur berkeping-keping, karena rasa sayang berlebihan bapaknya dan cinta ibunya. Dia berantakan dan junkie bukan karena keinginannya tapi karena, orangtuanya tak sanggup melarangnya pergi dengan teman A dan B,  bahasa gaul yang sama sekali tidak gaul. Mereka menyebutnya Hangover.

Meski ia masih punya ibu dan bapak. Sekali rusak, membetulkannya susah dan akan selalu berbekas. Maka, tak ada yang lebih membunuh dari kasih sayang berlebihan.

Bapak harus berjanji, bahwa mendidik saya tidak dengan seluruh fasilitas wah. Tidak dengan seluruh kemudahan dan akses pada apa saja dalam hitungan detik. Biar saya paham rasanya berjuang. Agar saya mengerti bahwa dalam hidup yang paling penting selain kasih sayang adalah penundaan, sebab ada hal-hal buruk yang akan menghantam jika saja saya menyumpah A dan tuhan mengabulkannya.

Pak, maka kalau esok lusa saya minta bapak untuk paripurna dari tugas terakhir setelah menguliahkan saya susah payah. Itu artinya, bapak harus memilih dengan cermat pada siapa kelak saya mengabdi. Sebab, jangan sampai si bodoh ini keras kepala berjalan ke arah yang salah dan karena alasan kasih sayang tak rasional bapak menurutinya. Percayalah saya lebih suka bapak melarang dan menolak. Tak semua yang saya mau pasti benar dan harus terkabul. Nahkodanya tetap bapak, bapak kompas saya. Jadi, kalau rasa sayang itu merusak arah seharusnya... saya akan membenci bapak. Sebab, sayang tidak selalu harus 'ya' ia punya opsi 'tidak'. Bapak kompasnya, seseorang yang saya yakini akan dengan amat bijak memberi arah terbaik.

Saya menulis ini di tempat rahisia. Bapak tak punya akun media sosial inspirasikan? Jadi, ini aman. Saya hanya gelisah, kalau-kalau saya jadi bodoh dan memaksa. Saya akan membacanya di sini. Segala sesuatu yang diunggah. Meski di delete akan abadi kan?