Ayub dan Cerita Ibuk

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Mei 2016
Ayub dan Cerita Ibuk

Suatu ketika kita akan merindukan hal-hal sederhana yang sayangnya dulu tak pernah benar-benar kita syukuri. Sebab saat itu, barangkali tak bisa kembali dan karena Doraemon atau ruang waktu tak pernah benar-benar ada.

Ini seperti pergi, berjalan kemana saja untuk mencari sesuatu yang sama menyejukkannya. Rasa masakan, nasehat atau sekedar senyum hangat. Sayangnya, tak ada yang bisa kembali tidak masa-masa dimana tawa jadi barang murahan dan kebosanan semacam rutinitas harian.

Saya sudah berjalan jauh, saya kadang berimajenasi kalau saja ibuk masih ada... Mungkin ibuk akan dengan cemas menelopon ketika saya terlambat pulang, sebanyak obat yang harus ibuk minum setiap kali kepalanya pusing seperti di tusuk entah oleh duri model apa. Atau ibuk akan terus duduk di kursi rotan reyot depan rumah, menanti ditemani secangkir teh hangat pahit tanpa gula sebab gula semacam takdir buruk buat gula darahnya dan ibuk harus berdamai dengan kenyataan bahwa gula akan jadi musuhnya.

Saya pernah marah pada ibuk, sering bahkan. Ibuk terlalu baik untuk saya yang sepertinya berotak korslet. Ibuk, selalu jadi tameng paling kuat karena iman fluktuatif saya dan ah ya tambahkan kemampuan super dahysat bahwa saya jauh lebih sering membantah dan biasanya ibuk dengan bijak akan menenangkan letupan emosi saya.

Pernah suatu hari, ibuk membacakan cerita tentang Ayub yang tabah. Ditinggal istri. Sakit kulit yang membuatnya menjadi alien, tak seorangpun sudi mendekat. Lalu anaknya mati dan hartanya hilang. Ibuk bercerita dengan khusuk barangkali berharap bahwa saya bisa meneladani Ayub. Ibuk, selalu bilang bahwa bagaimanapun hari-hari buruk itu datang Tuhan akan selalu siap menolong. Semacam doktrin bahwa saya tak akan sendirian.

Tapi, ibuk mungkin lupa bahwa saya sekedar manusia biasa. Saya bukan Ayub, yang bisa menatap terang di tengah gelap terowongan sebelum stasiun Cawang. Saya, menangis sebab saya belum berhasil menggenapkan tugas.

Saya, kadang hanya ingin duduk di samping gundukan tanah itu. Bukan untuk memintanya kembali, hei saya bahkan tak tega melihat ibuk terpaksa terkapar berhari-hari dengan sakit yang menjadi. Saya tak bisa menjadi super egois. Saya hanya ingin ibu bercerita lagi tentang Ayub dan jalan terang yang akan saya dapati di ujung lorong gelap ini. Saya hanya ingin pulang, bilang pada ibuk bahwa saya lelah.

Meminta ibu kembali bercerita tentang janji Tuhan yang tak dusta agar saya kembali lapang dan berdaya. Sebab saya merasa segalanya semakin sulit. Harus berapa lama lagi saya menanti hingga bisa bilang dengan kepala tegak, bahwa ibuk berhasil membesarkan saya dengan baik. Bahwa saya menyelesaikan janji terakhir saya di rumah sakit, meneruskan sekolah ke tingkat yang paling tinggi. Bahwa saya punya bekal cukup, agar ibuk tak perlu khawatir.

Saya seharusnya berusaha lebih bersungguh-sungguh, mungkin ini karena saya tak berdarah-darah hanya setengah-setengah atau saya memang terlalu lemah. Lebih banyak mengaduh dibanding melakukan sesuatu. Seperti semua usaha itu tak jua cukup, semua upaya itu terlihat sia-sia. Separuh hati saya ingin menyerah, sebab saya terlalu takut kalah. Ibuk, saya tak punya hati kuat seperti besi. Saya selalu mengingat baik-baik pesan ibu, mudahkan urusan orang lain maka semoga urusan saya dimudahkan.

Tapi, kenapa segalanya terlihat begitu buram dan saya terkapar lelah. Semua seolah dimuntahkan, saya tak mau sebut ini ujian, cobaan atau bahkan azab karena mungkin ini sekedar peringatan. Tapi, mau sampai kapan ibuk menunggu?

Tadi, bapak telepon. Bapak, seperti punya telepati atau karena suara saya yang bergetar, bertanya 'kamu nangis?' Tidak saya tak sedang menangis sebab rasanya tangis tak pernah membantu saya pergi kemanapun. Tapi, sungguh saya butuh kekuatan dan kepercayaan yang dulu selalu ditanamkan. Tuhan akan bantu saya kan buk? Jika saya berlari Tuhan sungguh akan ikut berlari lebih cepat untuk memeluk saya kan?

Ini senja yang mendung, saya kangen didekap sambil mendengar lagi tentang ketabahan Ayub dan keteguhan Ibrahim seperti cerita yang selalu jadi penenang saat iman sedang menukik tajam.

  • view 108