Kenapa lo harus sekolah?

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Mei 2016
Kenapa lo harus sekolah?

Kenapa lo harus sekolah? Jawabannya sederhana, sekaya apapun bokap lo dan sebanyak apapun emas yang emak lo punya semuanya adalah aset yang terdepresiasi. Kapanpun kalau bapak lo sakit atau gagal proyek dan terjerat hutang misalnya, maka dengan amat mudah semua harta hasil kerja keras itu lenyap tak bersisa. Lo terpuruk jatuh miskin.

Percayalah, dengan terus bersekolah lo semacam punya jalan kecil yang akan menghantar lo pada tempat berbeda, berkelana bertemu orang-orang yang tak sama. Punya sesuatu yang disebut amunisi, sebab seperti kata pepatah hidup ini terlalu lucu kadang lo di atas dan seringkali terjatuh di bagian paling bawah. Tak pernah ada jaminan bahwa lo akan terus kaya, ini bukan kisah dongeng ini dunia nyata dan di dunia nyata tak ada yang monoton.

Kalau lo mau bilang menteri Susi punya masa depan keren tanpa sekolah. Gue balik pertanyaannya jadi 'lo sekuat bu Susi?' bu susi memutuskan tidak bersekolah tapi dia punya goal of life lain dalam hidupnya. Dia punya tujuan bukan sekedar nggak sekolah dan bersenang-senang.

Kalau lo memang punya tujuan lain seperti Mark, bu Susi dan Gates sok lo keluar dari sekolah. Tapi, mereka tak langsung berdiri gagah ada saat mereka juga jatuh. Saat itu gue pastikan belum banyak yang perduli tentang hari-hari beratnya. Sering orang hanya tahu jalan suksesnya tapi jatuh bangun, siapa yang perduli karena itu di surat lamaran kerja lo nggak pernah mencantumkan berapa kali lo gagal semua yang ada di sana hanya soal keberhasilan.

Bahkan dalam banyak keterbatasan, banyak anak yang sungguh-sungguh bersekolah. Melewati sungai, jembatan gantung yang sungguhan menggantung hingga berjalan ribuan kilo. Jadi, kalo hidup lo enak nggak perlu susah payah untuk ke sekolah, semua udah dibayarin nyokap bokap. Nggak usah sengak, belagu dan sok.

Bokap nyokap lo tidak dijanjikan untuk hidup selamanya. Lo harus seperti Elang kecil, belajar keluar dari zona nyaman dan mulai melangkah. Semakin keras lo dijatuhkan dalam perjalanan hidup semakin lo harus berjuang bangkit, nggak ada sukses dengan eskalator seperti di mall, ya iyalah lo pikir sukses itu semacam aktivitas cuci mata buang bete dilengkapi fasilitas eskalator ditambah air conditioner, tong lo mimpi kalo sukses kaya gitu. No pain no gain itu bentuk dari betapa sukses itu butuh keringat yang mengucur deras, waktu tidur yang berkurang, doa-doa yang semakin panjang dan kaki yang semakin jauh berjalan.

Terakhir, kalo lo nggak niat sekolah nggak usah dateng dan ngasih beban ke orangtua. Sekolah itu sebenarnya cukup niat, setelahnya ilmu bakal masuk. Kalo lo ngerasa maaf bego, maka harusnya lo semangat belajar bukan udah tahu seperti ituh eh malah asik kelayapan jadi geng motor. Jangan jadi orang yang otaknya kosong, karena biasanya orang dengan isi kepala ala kadarnya gampang dibegoin. Percaya deh, guru itu seneng kalo udah nggak bisa tetep berusaha. Ini loh anak rajin dan tangguh, karena dia tahu sisi lemahnya sembari terus memperbaiki sisi tersebut. Bakat pinter kalah sama usaha keras.

Kalo ke sekolah aja udah nggak niat, ya kasian emak bapak lo ibaratnya ke restoran aja lo dapet makan dan minum baru bayar lah ini udah bayar nggak dapet apa-apa.

Standar paling gampangnya adalah, lo 10 tahun lagi dibentuk dari siapa lo sekarang dan apa yang lo putuskan. Intinya mah tong, kalo lo emang tega bikin emak bapak lo capek dan lelah tapi tetap sering bolos, ngerokok, pacaran dan sekedar main-main doang mending nggak usah sekolah mending uangnya ditabung beli beras.

Asal lo tahu makin lo gede hidup makin nggak mudah. Ini kompetisi tong, yang lemah akan terus dicaplok nggak perduli lo siap atau kaga. Selalu tekankan pada diri lo untuk terus berjuang tak kenal lelah, sebab hidup memang selalu melempar lo ke titik paling lemah yang bikin lo terisak dalam pukul dua malam. Tapi, hidup nggak akan berhenti cuma karena lo nangis kesakitan dia berhenti kalo lo memutuskan menyerah.

 

  • view 135